
Setelah keberangkatan Anin ke Malaysia untuk mengisi sebuah Event feshion shownya, Renata segera menelpon ibunya.
"Mah, kesini, ya. Mama mau lihat Aiden nggak? Mumpung di rumah aku lagi sendirian," ucap Renata dari sambungan telfon.
Lidya tanpa banyak bicara pun buru-buru membereskan pekerjaan nya secepatnya. Dia sudah tidak sabar ingin menemui cucu pertamanya itu.
Setelah selesai semuanya. Dia pun pergi dengan langkah tidak sabar. Tidak lupa dia berbelanja dahulu di pasar tradisional untuk keperluan memasak di kediaman Renata nanti.
...(Pasar Tradisional)...
Dia sangat antusias memilih sayur-sayuran nya sambil terus membayangkan wajah lucu cucunya itu.
'Seperti apa wajah cucuku, ya? oh cucuku, nenek tidak sabar lagi sayang, ingin segera bertemu denganmu,' batinnya.
Selesai berbelanja dia langsung menuju kekediaman Renata dengan angkot. Sesampainya di kediaman Renata, dia di sambut Renata langsung yang tengah menggendong Aiden.
"Ouwh... Cucu kesayangan nenek," gumamnya penuh haru seraya mengambil Aiden dari gendongan Renata dan berjalan masuk duduk di sebuah sofa tamu. Renata bahagia melihat senyum bahagia ibunya, bahkan Lidya sampai meneteskan air matanya sangking terharunya dia.
"Wajahnya mirip dengan ayahnya, Re," ungkap Lidya dengan senyum bahagia.
__ADS_1
...(Liam Adlar)...
"Iya, Mah. Banyak yang bilang gitu. Hidungnya mancung tipis kayak ayahnya," ungkap Renata antusias terhadap bayinya "tapi kadang suka berubah-ubah sih, Mah," terang Renata lagi dengan senyum yang tidak pernah lepas dari wajah cantiknya.
"Namanya juga bayi, Re. Tapi Mama senang, Sekarang Mama sudah jadi nenek, ya Aiden ya. Ini nenek Aiden. Nenek sayang sekali dengan cucu kesayangan nenek ini," ucap Lidya seraya menatap wajah Aiden lekat-lekat dengan senyuman hangat, dan Aiden membalasnya dengan senyuman hangat pula. Itu membuat Lidya dan Renata menjadi heboh.
"Siapa namanya, Re?" Tanya ibunya lagi.
"Aiden Adlar, Adlar nama Liam, Mah," terang Renata.
'Inilah rasanya memiliki keluarga yang utuh, seandainya aku bisa. Aku ingin bersama mereka semua sebelum ajal ku datang. Apa kau bisa memberikan aku kesempatan itu tuhan?!' gumam Anin membatin. Ia pun menata Renata yang tengah tersenyum padanya.
Mereka pun segera menuju kamar untuk bercengkrama sejenak.
"Kamu sendirian? Liam mana?" tanya ibunya melihat keadaan sepi.
"Semua pada kerja, Ma, kalo siang. Liam lagi sibuk sekarang, tante Ana juga kan kerja. Mama Anin lagi Malaysia ada acara Event feshion show gitu. Makanya Rere mintak Mama nemenin Rere di sini," ucap Renata mulai menerima kehadiran ibunya secara terbuka. Lidya senang dengan kenyataan jika dia mulai di terima oleh putrinya.
"Ya udah. Mau ke dapur dulu buat masak. Nanti suami kamu pulang pasti dia lapar," ucapnya lalu beranjak pergi. Renata merasa senang dengan kehadiran ibunya di kediaman nya. Dia merasa nyaman dan memiliki teman.
Lidya tampak bersemangat mengerjakan semua kegiatan rumah di kediaman anak, menantunya itu. Dia benar-benar ingin Renata bisa bahagia bersama Liam. Walau pada akhirnya mungkin dia harus mengalah untuk tidak terlalu terbuka dengan kehadirannya.
__ADS_1
Setidaknya dengan waktu yang masih tersisa ini dia ingin memberikan yang terbaik untuk anak dan cucunya itu. Seumur hidupnya dia seperti tidak pernah ada di kehidupan Renata dan adiknya Rio. Ini lah kesempatan dia menebusnya, selama ini yang bisa dia berikan beban saja.
Dan dia merasa itu sudah cukup di tanggung anaknya, sekarang dia ingin menjadi seperti yang Renata ingin kan, menjadi ibu yang baik seperti ibu yang lainnya. Menjadi ibu yang di cari di setiap sudut mata anaknya.
...***...
Setelah semua beres Lidya pun segera menghampiri Renata di kamar. Dia melihat Renata tengah menyusui anaknya.
"Mama sudah masaknya. Kamu makan, ya. Mama masak santan, itu bagus supaya ASI kamu lancar. Besok Mama buat jamu kunyit buat kamu, itu buat bersihin rahim pasca melahirkan juga bagus, sama jamu buat ibu-ibu setelah melahirkan. Sekarang kamu makan, ya. Anak kamu biar Mama yang jagain," ucap ibunya itu seraya menghampiri cucunya yang tengah tertidur, Lalu Renata pun segera turun untuk makan.
***
Saat melihat Aiden sudah tidur dengan tenang, Lidya pun segera turun. Dia melihat Renata sedang makan dengan lahap. Dia senang melihat Renata sangat menyukai masakan nya.
"Besok Mama kesini lagi, biar Mama yang ngerjain semuanya, Kamu belum pulih. Nanti sekalian Mama bawak jamu buat kamu. Perempuan itu harus pandai merawat diri biar suami betah. Apalagi tipe seperti suami kamu itu, tampan, banyak yang suka. Apalagi dia ramah gampang di sukai perempuan itu," ucap ibunya sambil bersih-bersih dapur.
"Ah, Mama, Liam itu tipe setia kok, Ma," ucap Renata yang sangat mempercayai suaminya itu. "Bahkan dia nggak pernah tidur sama Wanita manapun sebelum nikah, padahal dia kan kebiasaan sama budaya barat. Itu yang bikin Renata tambah kagum sama dia, Ma," ungkap Renata.
"Dia itu mirip dengan ayahnya. Hatinya lembut dan penyayang. Kalau wanita dekat dia bisa sangat nyaman," kenang Lidya pada sosok ayah Liam yang masih tidak bisa ia lupakan.
"Mama suka banget ya sama papanya Liam? Kenapa Mama tetap mau, sih? Padahal kan Mama tau dia udah punya anak istri?!" tanya Renata yang terdengar agak sewot.
"Saat itu ayah Liam dan ibunya berencana akan bercerai, makanya Mama bisa ada diantara mereka. Tapi Anin saat mengetahui hubungan Mama sama suaminya dia malah mulai ingin memperbaiki hubungannya, dia mulai berlagak menjadi istri yang baik. Awalnya dia cuek dan merasa paling hebat di hadapan ayahnya Liam, tiba-tiba berubah menjadi istri yang patuh dan penurut. Bahkan dia sampai meninggalkan karir modelling nya dan pindah ke Jerman. Saat itu lah hubungan Mama sama ayah Liam mulai renggang. Mereka mulai membuat keluarga bahagia lagi, dan mencampakkan Mama seperti tisu bekas yang tidak berguna. Mama sakit hati dan menjebak ayah Liam. Lalu Mama menyebarkan vidio itu. Itu lah awal bencana bagi keluarga Liam. Saat melihat keluarga mereka hancur Mama puas. Tapi saat Frans juga menjadi korbannya, apalagi kakaknya Liam karena tekanan yang terjadi akibat skandal Mama dan Frans, itu membuat Mama mulai merasa bersalah. Mama mulai kacau saat itu. Bahkan Mama lupa dengan tanggung jawab Mama terhadap kamu dan Rio. Mama terlalu sibuk dengan permasalahan Mama sendiri. Baru sekarang Mama ingin pulang dan ingin menebusnya. Mungkin itu juga karma untuk Mama karena sudah menyia-nyiakan kalian," ungkap ibunya seraya menyeka air matanya. Renata menggenggam tangan ibunya, seolah-olah ingin berkata, bahwa dia sudah memaafkan ibunya. Tapi Lidya tau, kesalahan nya sudah terlalu banyak untuk bisa di tebus dengan kata maaf. Dia akan menebusnya dengan pengorbanannya dan pengabdiannya, semampu yang bisa ia lakukan.
__ADS_1
BERSAMBUNG