Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Hati Seorang Ibu


__ADS_3

Tidak butuh waktu lama Anin pun segera datang. Dia langsung panik saat mendengar Renata masuk rumah sakit.


"Ini kenapa jadi kayak gini, sih? Ini pasti gara-gara kamu stress, Re. Kalian bertengkar lagi? Kan udah Mama bilang jangan bertengkar terus. Kamu juga, Li. Jangan ajak Renata ribut terus. Kamu itu imam rumah tangga kamu, harusnya kamu lebih bijak. Kalo kayak gini lagi ini bisa bahaya buat nyawa Renata sama calon anak kalian loh nantinya," omel Anin. Membuat Liam kesal merasa disudutkan ibunya sendiri.


"Udah, ah. Li, mau pergi kerja dulu, Mah. Di kantor banyak kerjaan," ucap Liam seraya mengambil tabung gambarnya di samping meja dekat tempat tidur lalu berlalu begitu saja dengan wajah yang di tekuk kesal. Renata melihat expresi Liam itu pun tersenyum puas. Dia merasa lebih di utamakan mertuanya dari pada Liam anaknya sendiri.


"Liat tuh sayang, ayah kamu itu bandel kalo di bilangin. Duuhhh... kasian cucu nenek di bikin sedih dengan ulah Bunda sama Ayah ya, nak," ucap Anin seraya mengusap perut Renata. yang membuat Renata terkekeh, Anin sengaja melakukan itu untuk menghibur menantunya itu. Renata pun tahu itu, Renata merasa sangat beruntung memiliki mertua seperti Anin.


Dia jadi bingung kenapa ibunya mengatakan jika Anin adalah wanita egois yang arogan, karena selama ini yang Renata lihat Anin adalah wanita lembut yang penuh perhatian.


***


Di kantor Liam langsung masuk ruangan nya dan duduk di kursinya. Bimo datang menghampiri nya.


"Eh, gue denger tadi pagi Rere masuk rumah sakit, ya! kenapa? Tante Anin sampe panik gitu dengernya, dia langsung pergi ninggalin pelanggan VIP nya," terang Bimo seraya memakan buah jeruknya. Sedangkan Liam hanya menyunggingkan senyuman nya yang sebenarnya senyuman kekesalannya.


"Dari mana lo, tau? Mama nelpon emangnya?" tanya Liam.


"Nggak, tadi pagi kebetulan Bunda ketempat tante Anin buat ambil pesanannya waktu lo nelpon. Bunda cerita tante Anin panik banget tadi pagi," ucap Bimo santai "Lo di marahin nggak?" ucap Bimo menyebalkan.


"Gue ribut sama Renata semalam. Habis dia bawak nyokap nya kemaren ke rumah, ya gue kesel lah. Dia gue cuekin semalaman, eh tadi pagi dia langsung sakit perut. Takut juga jadinya, sebab dia kan baru masuk 8 bulan," terang Liam. "Mama ngomelin gue juga tadi. Kali dia tau alasannya apa, dia pasti nggak akan belain Renata," ucap Liam kesal.

__ADS_1


"Cemburu sama nyokap sendiri!" ledek Bimo seraya melempar kulit jeruk kearah Liam. Liam hanya menatap Bimo sekilas.


***


Siangnya saat Anin sudah pulang, Lidya kembali datang. Renata membuka kan pintunya.


"Mah, jangan dateng ke sini terus, kemaren Liam marah tau Mama datang," ungkap Rere pada ibu nya yang sibuk di dapur. Terus terang itu menyakiti hati Lidya juga, tapi dia berusaha menutupinya dengan bersikap seolah-olah tidak mendengarnya. Dia terus dengan kegiatannya setelah dia berhenti sejenak saat mendengar pernyataan Renata tadi.


"Mama cuman bantu kamu buat masak habis ini Mama pulang. Mama cuman nggak mau kamu capek, Mama lihat kaki kamu udah mulai bengkak, makanya Mama datang buat bantu kamu beres-beres biar kamu nggak capek," ucap ibunya tulus. Sesaat Renata tersadar mungkin saja ucapannya barusan telah melukai hati ibunya.


"Mah ... Renata ... Maaf, Mah ....," ucap Renata lalu tangisnya pun pecah. Melihat itu Lidya pun menghampiri Renata dan mendekapnya.


"Mama cuman mau kasih kenangan yang indah buat kamu sama Mama. Biar nanti waktu Mama pergi kamu punya kenangan yang indah sama Mama. Setidaknya Mama pernah ada sebentar dengan kenangan yang baik buat kamu," ucap Lidya penuh makna.


"Mama tau diri, Re. Mama sudah sangat bersalah pada keluarga Anin. Anggap saja ini cara Mama menebus sedikit kesalahan Mama, walau tidak sepenuhnya bisa Mama tebus, setidaknya bisa sedikit," ungkap Lidya lagi.


Renata terdiam. Tiba-tiba dia merasa kasihan kepada ibunya. Dia menatap punggung ibunya yang tengah masak itu.


"Mah, waktu aku kecil aku kayak gimana, Mah?" tanya Renata. Ibunya berbalik dan tersenyum mendengar pertanyaan Renata.


"Waktu kamu kecil kamu paling galak diantara teman-teman kamu, nggak ada yang berani dekat, tiap ada yang ganggu kamu pasti kamu bikin nangis, pernah sekali ada anak cowok yang naksir kamu, dia mau dekat kamu, waktu itu kamu umur 4 tahun sepantaran lah kalian berdua, tapi langsung kamu hadang kayak gini," ucap ibunya seraya mempraktekkan nya di hadapan Renata dengan berkacak pinggang membusungkan dadanya serta menunjukkan giginya dan mata melotot , membuat Renata tertawa terbahak bahak. Anin senang melihat Renata tertawa bahagia. 'Maaf, nak. Selama ini Mama tidak pernah ada untukmu,' batinnya pilu.

__ADS_1


Tidak lama kemudian masakan Lidya pun matang, ia segera menyajikannya di atas meja lalu segera membersihkan semuanya.


Melihat ibunya tidak ikut makan itu membuat Renata tidak enak hati.


"Mama ayok makan sama Rere sini. Temenin Rere makan, Ma," ucap Renata, Lidya pun tersenyum.


"Tidak, kamu makan saja dulu. Mama mau beres-beres dulu sebelum suami kamu pulang," ucap ibunya. Itu membuat Renata semakin terharu, ibunya benar-benar menunjukkan ketulusannya. Renata beranjak dari duduknya lalu menghampiri ibunya yang tengah bersih-bersih itu.


" Mah, Rere pengen makan sama Mama. Mama mau kan?" tanya Renata lembut. Itu membuat mata Lidya berkaca-kaca dan dia tidak sanggup untuk menolak lagi. Ia pun makan bersama putrinya itu.


***


Selesai semua Lidya pun bersiap-siap untuk pulang, tapi sebelum dia pulang Renata segera menggantikan langkahnya.


"Mah, ini buat beli sayur besok. Rere nggak enak hati setiap hari Mama datang bawak bahan makanan, Mama beli pakek duit Mama," ungkap Rere seraya menyerahkan sejumlah uang kepada Lidya. Lidya dengan cepat menolaknya, ia mendorong tangan Renata yang yang tengah menyodorkan uang padanya.


"Tidak usah," ucapnya dengan seulas senyuman hangat. "Mama punya uang, Mama kerja di tempat teman Mama dan Mama dapat gaji juga tempat tinggal gratis di sana, Mama juga di kasih makan gratis juga di sana. Jadi uang gaji Mama pakek buat belanja buat kamu dan sebagian juga Mama kirim buat adik mu Rio di kampung," terang ibunya.


"Tapi, Ma ....," ucap Renata terputus.


"Benaran, Re. Mama punya uang. Simpan saja uang kamu, ya," ucapnya lagi. "Mama harus pergi sekarang, Mama harus kerja lagi," ucapnya. Lalu ia pun pergi. Renata hanya bisa menatap punggung ibunya yang berlalu. Entah kenapa dia merasa berat berpisah dari ibunya, dia mulai merindukan ibunya itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2