
Pulang kerja Liam mendapati Rumahnya yang kosong. Yang tercium sekarang hanya aroma pewangi ruangan. Tidak seperti saat ada Renata, dulu saat dia pulang, dia di sambut dengan aroma wangi masakan Renata yang membuat dia rindu ingin cepat pulang.
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumahnya yang sepi menyambut kepulangannya, lalu ia pun tersenyum miris dan lanjut berjalan menuju kamarnya. Liam menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Lalu duduk di pinggir ranjang. Waktu terasa cepat sekali berlalu sejak kepergian Renata dan Aiden. Sekarang ibunya pun sedang tidak ada.
Bosan sendirian di rumah. Liam pun bersiap pergi keluar, Liam pergi ke sebuah bar malam. Sesampainya Liam di sana, dia di sambut hiruk pikuk suara musik memekakkan telinga.
Ini bukanlah hal biasa yang Liam lakukan. Liam melihat ke sekeliling dan dia melihat kursi kosong di depan meja bartender. Liam pun mengambil posisi di sana.
Satu gelas, dua gelas, tiga, dan terus hingga Liam mabuk. Kepalanya benar-benar pusing sekarang. Saat itu Liam merasa tidak bisa pulang lagi.
Dia ingin menelpon seseorang, dengan pandangan mata yang mulai tidak begitu jelas karena mabuk Liam menekan nomer seseorang di handphone nya. Entah nomer siapa itu.
"Jemput gue. Gue di bar nggak bisa pulang. Kepala gue pusing, perut gue nggak enak. hmmmhhh.... Gue tunggu," ucap Liam. Lalu mematikan handphone nya.
Tidak berapa lama seseorang datang. Liam yang tengah menelungkupkan wajahnya di atas meja kini berlahan mengangkatnya. Dia melihat sosok Laura dengan senyum manisnya. Liam yang masih tidak mengerti mengabaikannya.
"Kenapa kamu nelpon aku?" tanya Laura. Liam pun menoleh kearah Laura.
"Aku?" tanya Liam balik tidak mengerti masih dengan tatapan sayu khas orang mabuk.
"Iya, kamu! ngapain mabok?" tanya Laura santai seraya mengambil gelas yang di pegang Liam dan meminumnya dengan santai. Sedangkan Liam hanya tersenyum melihat tingkah Laura itu.
Hingga akhirnya mereka pun minum bersama. Laura cukup kuat dengan alkohol sedangkan Liam tidak begitu kuat. Karena melihat keadaan Liam yang tidak memungkinkan untuk pulang, Laura pun membawanya ke hotel di bar tersebut.
Di hotel Liam muntah beberapa kali. Laura masih tampak cuek sambil memperhatikan kuku cantiknya seraya sesekali melihat ke kamar mandi. Terdengar suara Liam yg masih muntah-muntah.
__ADS_1
Bosan menunggu Liam yang selesai di kamar mandi, Laura pun menghidupkan televisi. Karena sudah larut tidak ada tontonan yang menarik. Dia hanya memindah-mindahkan dengan bosan sambil terus melirik ke kamar mandi. Terdengar seperti suara Liam sepertinya tengah mandi.
Tidak lama Liam pun keluar dari kamar mandi dalam keadaan memakai handuk piyama dengan baju bekasnya di tangannya.
"Mandi kamu? Kayak bocah aja, minum segitu udah teller," sungut Laura.
Liam duduk di samping Laura dan meliriknya sekilas lalu pindah bersandar ke kepala ranjang.
"Hei..., Beliin aku baju sama obat, ya!" pinta Liam pada Laura dengan mencolek Laura dengan kakinya. Laura tidak bergeming dari posisinya.
"Laura!" seru Liam lagi karena kesal dengan Laura yang masih sibuk dengan kegiatannya.
"Kamu nyusahin, ya!" sungut Laura kesal seraya berbalik badan menatap Liam yang tengah bersandar dengan wajah pucat dan tampak masih mabuk, walau masih memiliki kesadaran, Liam tampak tidak sepenuhnya di kesadaran penuh.
"Kamu sakit?" tanya Laura kepada Liam yang tampak pucat. Dan beringsut mendekati Liam yang tampak pucat itu. Laura meraba kening Liam dan terasa tidak panas. Laura sedikit tenang, tapi Liam terlihat sangat pucat.
'Mulai berasa kampret nih laki orang,' rutuk Laura membatin.
Tapi melihat Liam yang tampaknya benar-benar sedang sakit, Laura pun mengalah untuk pergi. Melihat Laura pergi dengan langkah kesal Liam tersenyum dan tertawa kecil menatap punggung Laura.
...***...
Di lain sisi. Tanpa sepengetahuan Renata Tita mengambil tas Renata dan membawanya jalan-jalan bersama temannya. Dan saat Tita mengembalikan tas tersebut sudah kotor.
"Ini tas Liam yang beli. Tas ini bukan hanya mahal tapi juga berharga buat aku. Kenapa kalian nggak bisa hargain apa yang jadi punya aku. Apa susahnya permisi dulu sebelum ngambil milik orang lain?" isak Renata emosional.
"Tita kan nggak sengaja, Re. Lagian apa salah nya dia pinjam itu sebentar. Kamu itu jangan suka memperbesar masalah sepele lah, Re," tukas Ayu melindungi Tita anaknya.
__ADS_1
Renata yang tidak tahan berbalik dan bangkit dari posisinya yang tengah duduk memegang tas nya yang kotor itu.
" 'Hanya' tante bilang. Ini tas mahal, kalau tante sanggup beli nggak usah ambil dan bongkar barang-barang aku, tanpa ijin aku," ucap Renata histeris penuh emosi.
"Eh, Renata ingat ya, kamu hanya numpang disini. Sudah syukur kita mau tampung kamu sama ibuk kamu disini," tukas Ayu tidak mau disudutkan. Renata yang geram langsung melempar Tita dengan tasnya. Itu sontak membuat Ayu tidak terima. Tepat sebelum pertengkaran itu jadi lebih buruk lagi. Suami Ayu dan Lidya ibu Renata pun datang untuk melerai.
Renata di tahan oleh ibunya sedangkan Ayu oleh suaminya. Rasanya ingin Renata hajar saja ibu dan anak itu, mereka suka seenaknya dengan barang milik Renata.
"Jangan pernah sentuh barang-barang aku lagi," teriak Renata histeris.
"Sudah , Re. Ndak baek di dengar tetangga ribut-ribut gitu. Kamu juga Tita, kalo ndak mau di ganggu jangan ganggu orang, kamu sifatnya sama saja dengan ibukmu, suka seenaknya wae ...," tukas nenek Renata yang membuat Ayu tidak berani lagi bicara mendengar nenek Renata sudah angkat bicara.
Setelah sedikit tenang, neneknya mulai bicara dengan Renata yang masih menangisi tasnya.
"Itu tas kamu tangisin kenapa segitunya? Kalo kamu rindu suami kamu, pulang lah. Ndak baik pergi tanpa izin suami kayak gini. Laki-laki setampan suami kamu itu banyak yang incar," nasehat nenek Renata entah yang keberapa kalinya ia menasehati Renata untuk kembali.
"Ibu mertuaku benci sama aku, dia bahkan ngirimin Rere surat cerai, Nek," adu Renata dengan linangan air mata.
"Itu biasa kalau ibu mertua marah, yang penting suamimu baik sama kamu. Kasian dia sampe sakit kamu tinggalkan. Pulang, Re. Di sini kamu selalu di ganggu sama Ayu sama Tita." Renata terdiam. Jauh di hatinya dia sangat merindukan Liam. Tapi dia tidak mungkin bersama Liam, apalagi sampai saat ini Liam masih tidak kunjung menjemputnya.
"Biar Mama yang ngomong sama Liam, ya. Biar dia jemput kamu," celetuk ibunya. "Kamu jangan pikirkan Mama, Mama bisa pergi kalau memang mereka tidak bisa terima Mama,"
Renata terdiam. Renata hanya mengambil tasnya kembali
"Nggak perlu," tukas Renata masih emosional karena kejadian dia bersama Tita tadi. "Setelah Liam dan Mamanya tau tentang Mama, mereka berubah sama aku. Biar saja dulu dulu, Ma. Lihat apa yang jadi maunya Liam. Aku nggak mau paksa dia dan mempersulit keadaan," ucap Renata seraya tertunduk. Tangannya menyentuh tangan Aiden yang tengah terbaring di ranjang.
BERSAMBUNG...
__ADS_1