
Liam sudah pergi saat Renata keluar. Renata sempat mencari sosok Liam sebentar lalu ia pun sadar jika Liam sudah pergi. Renata segera pergi menemui ibunya di toko klontong tempat ibunya mengobrol bersama tetangga bersama Aiden.
"Ini, Ma kuncinya," ucap Renata menyerahkan kunci rumahnya lalu pergi naik angkot.
Setelah kepergian Renata tampak tetangga penasaran pada Renata.
"Eh, buk, Mamanya Aiden itu sudah janda ya?" tanya tetangga mulai penasaran.
"Tidak, Buk. Dia masih punya suami, hanya ada sedikit masalah jadi sekarang dia tidak tinggal dengan suaminya. Tapi suaminya sering kesini. Kemarin dia ke sini. Biasalah pernikahan muda, ada banyak masalah ego. Biarlah mereka selesaikan sendiri masalahnya," cerita Lidya mencoba bijak menjelaskan.
"Iya, Buk. Mereka suami istri itu ndak bisa kita ikut campur, yang ada nanti malah makin kacau yang ada," tambah yang lain.
"Tapi semoga ndak pisah ya, Buk. Sayang anaknya cakep begini, nanti bisa terlantar kalo ndak ada bapak ibuknya," tambah yg lain lagi Lidya hanya tersenyum seraya mengamini. Lidya tidak pernah berharap Renata dan Liam akan pisah. Dia sangat menyukai Liam sebagai suami Renata. Tapi dia juga tidak bisa terlalu ikut campur, apalagi dia tidak lah baik di mata keluarga Liam.
__ADS_1
...***...
Pulang kerja Liam pulang ke rumahnya. Di rumah Anin tampak sudah menunggu Liam. Saat Liam membuka pintu, Anin langsung menoleh dan berdiri. Liam yang masih kesal tidak menggubris ibunya. Dia langsung berjalan ke kamarnya. Anin segera mengekori Liam yang berjalan ke kamarnya.
Saat Liam baru menginjak beberapa anak tangga langkahnya pun terhenti.
"Sampai kapan kamu mau hidup seperti ini? Kamu tidak mau menceraikan dia juga tidak mau bersama orang lain? Jangan pernah berpikir mau membawa perempuan dan anak itu kembali lagi ke sini, Liam," ingat ibunya tegas. Liam menoleh setelah menghentikan langkahnya.
"Sejak kapan korban bisa jadi pelaku?" tatap ibunya tajam. "Kalau kamu memang mau hidup dengan perempuan itu, dan ingin meninggalkan Mama, pergi saja. Pergi ....," tukas Anin lalu langsung berlari ke kamarnya.
Di kamar Anin menangis terisak. Liam masih terdiam di tangga. Anin merasa Lidya akan merebut semua darinya. Bahkan satu-satunya yang tersisa dari hidupnya pun akan Lidya rebut juga.
"Kau ingin memiliki semua yang aku miliki. Kau meminta maaf pada anakku atau meminta anakku untuk menjadi milikmu juga, Lidya?" gumam Anin seorang diri. Lalu Anin kembali terisak di kamarnya di atas ranjangnya.
__ADS_1
Sedangkan Liam terdiam di kamarnya dengan tatapan kosong pada langit-langit kamarnya. Dia merasa tidak memiliki harapan lagi untuk bersama Renata dan Aiden. Lidya benar-benar tembok yang tinggi untuk hubungannya dan Renata.
Sesaat dia sadar atas sikapnya pada ibunya. Liam pun bangkit. Setelah membersihkan diri, mandi dan mengganti pakaiannya. Liam segera berjalan ke kamar ibunya. Berlahan ia membuka pintu kamar ibunya itu, setelah ia mengetuk beberapa kali Anin tidak menjawabnya.
"Mah ...," panggil Liam beberapa kali. Karena tidak kunjung ada jawaban, Liam berjalan berlahan ke arah ibunya yang tengah menatap keluar jendela kamarnya di kamar yang minim pencahayaan itu. Hanya bayangan Anin yang terlihat. Liam berjalan berlahan menuju ranjang Anin lalu duduk di pinggir ranjangnya.
"Li, Mama juga kangen Aiden. Nggak satu detik pun Mama bisa lupain dia. Wajahnya Mama masih ingat betul itu. Bau wanginya, buat Mama gila buat lupain dia. Tapi mana mungkin Mama terima dia. Ada darah wanita itu dalam dirinya. Dulu Mama menolak wanita itu dengan berbagai cara, Mama merubah sikap Mama sama papa kamu, Mama berhenti dari pekerjaan Mama. Mama lepaskan semua untuk mendapatkan keluarga Mama kembali. Tapi saat sudah Mama dapatkan semua dia datang dan memusnahkan semuanya dari kita. Dan kini kehadiran Aiden seolah membuat Papa kamu dan dia berhasil di satukan lagi. Seolah pada akhirnya dia berhasil masuk ke kehidupan kita melalui Aiden. Dalam diri Aiden ada dia dan papa kamu juga. Seolah apa yang menjadi maunya sudah terwujud dalam diri Aiden, Li. Mama merasa sekarang kamu pun akan di rebutnya dari Mama. Mama nggak akan punya siapa-siapa lagi," ucap ibunya terisak. Liam segera membawa ibunya kedalam dekapannya. Anin melepaskan semua tangisnya di dekapan putranya itu.
"Ma, Aiden itu antara aku sama Renata. Mama jangan mikir kayak gitu, Mah. Mama mikirnya terlalu jauh," ucap Liam dan mempererat pelukannya. Anin merasa sangat nyaman di dekapan putranya itu ia pun mempererat pelukannya juga.
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1