Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Kesempatan


__ADS_3

Anin akhirnya turun ingin menyelesaikan semua dengan Lidya. Tapi saat turun dia dan Ana tidak menemui Liam di sana, bahkan koper Liam pun masih di sana.


"Kemana mereka?" tanya Anin bingung dengan memegang koper milik Liam.


"Aneh, mbak. Tunggu aku telpon Liam dulu," ucap Ana seraya menelpon Liam. Alangkah kagetnya Ana saat mendapat kabar dari Liam yang tengah panik jika Lidya kecelakaan dan tengah berada di rumah sakit sekarang.


"Kita ke rumah sakit sekarang, mbak. Lidya kecelakaan di depan tadi," seru Ana panik. Mereka pun segera menuju rumah sakit.


...***...


Di rumah sakit sudah ada Liam dan Renata yang baru sampai bersama Aiden dan Lusi. Renata tampak tengah di tenangkan Liam dengan Aiden bersama Lusi.


Renata terus menangis dan ketakutan. Tepat juga Ana dan Anin yang baru sampai. Liam memandang ibunya, mereka saling pandang sesaat. Anin memang tak menyukai Lidya, tapi entah kenapa melihat Lidya seperti ini seakan hatinya juga tidak tega.

__ADS_1


"Keadaannya memburuk karena penyakit bawaannya, diabetes keringnya sudah cukup parah, bahkan membuat penglihatannya memburuk. Tadi dia nekat pergi sendirian, karena gelap kendaraan tidak melihat dia yang sudah ke tengah jalan," cerita Liam berkaca-kaca. Anin hanya diam mendengarkan.


"Maaf aku lalai tadi. Maafin aku, Re. Aku pergi sebentar buat berkemas-kemas tiba-tiba mama kamu udah nggak ada. Dia nekat pulang sendirian dan ....," ucap Liam lagi dengan tertunduk. Renata menggenggam tangan suaminya seakan saling menguatkan.


"Mama pergi dengan tujuan yang baik, Li," gumam Renata. Liam mengangguk. "Apapun yang terjadi, aku udah ikhlas, kok. Dia udah kasih tanda kalau hari ini akan datang. Mungkin Mama juga udah capek," ucap Renata seakan sudah lama menyiapkan dirinya untuk hari ini. Liam memeluk istrinya erat, dia tahu ini sangat berat untuk Renata pastinya. Sesaat dia merasa gagal menjadi sosok yang baik, dia bisa kecolongan dan Lidya benar-benar menyelesaikan semua dengan dengan caranya.


...***...


Anin melirik pada Aiden di pelukan Liam. Dia sungguh tidak bisa menahan perasaannya pada anak laki-laki itu. Wajahnya yang mirip Liam membuat Anin kembali teringat masa kecil Liam yang wajahnya persis seperti Aiden sekarang. Tanpa sadar Anin tersenyum sendiri. Ana melihat itu dan ia pun tersenyum, dia merasa Anin mulai melunak.


Sesaat Renata keluar dari ruang perawatan Lidya bersama Lusi. Dia langsung menghambur ke pelukan Liam dan menangis. Liam memeluknya tanpa banyak kata. Karena posisi Aiden yang hampir terjatuh dari pangkuan Liam membuat Anin tanpa sadar menahan balita itu.


Mereka semua menatap Anin yang menggendong Aiden.

__ADS_1


"Kamu apaan sih, Li. Dia hampir jatuh," sewot Anin seraya menggendong Aiden yang tampak tenang dengan tidurnya. Liam hanya tertunduk dan berniat mengambil Aiden, tapi segera di tepis Anin. Renata menggenggam tangan Liam dan tersenyum tipis.


Aiden tampak menikmati dekapan Anin. Baru sebentar bersama Anin sudah sangat menyukainya, sepertinya selama ini Anin merindukan cucunya. Dia merasa sangat nyaman saat bersama Aiden.


"Besok Rio sama nenek datang," ungkap Renata. Liam hanya diam tanpa jawaban, dia hanya melihat sekilas pada istrinya. Dia terus menggenggam tangan istrinya itu. Sedangkan Anin terus memeluk Aiden yang sudah tertidur.


"Udah malam, Kalian pulang saja," ucap Liam pada Renata. "Biar aku saja yang di sini nungguin Mama kamu," ucap Liam lagi.


Ana mengkode Anin agar berinisiatif.


"Biar Mama tunggu di sini. Kamu antar saja istrimu dan ganti pakaianmu," ucap Anin berusaha bersikap normal. Liam mengangguk dan tersenyum. Akhirnya ibunya terlihat mulai mau menerima mereka.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2