Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Tamu Tidak Terduga


__ADS_3

1 Tahun sudah pernikahan Liam dan Renata, sekarang Renata tengah hamil 7 bulan. Dia sudah mulai tidak leluasa dengan geraknya. Beruntung Renata memiliki suami yang sigap seperti Liam dan mertua yang pengertian seperti Anin.


Hari itu Renata baru selesai mencuci pakaian, dan berniat akan membawanya ke lantai atas. Tepat saat Liam baru pulang dari belanja di minimarket.


"Re, kenapa kamu mau ngapain?" tanya Liam pada Renata yang tengah menenteng ember berisi pakaian Liam dan dia.


"Aku habis nyuci, Li. Aku nyuci yang baju kamu kena tanah lumpur kemaren. Kan nggak mungkin di cuci di mesin!" terang Renata.


"Re, jangan angkat yang berat, apalagi angkat ke lantai atas, kamu kalo kepeleset gimana. Sini biar aku aja," ucap Liam seraya mengambil pakaian yang berada di wadah ember hijau itu. Renata pun menyerahkannya pada Liam. Liam segera membawanya ke lantai atas dan menjemur nya di lantai rooftop rumahnya.


Setelah selesai ia pun menghampiri Renata yang tengah duduk beristirahat di sofa. Renata menyambut suaminya itu dengan pelukan hangat dan manja.



"Kita belanja buat keperluan baby, yuk," ajak Renata pada Liam.


"Boleh, kamu kan udah 7 bulan, ya. Pergi sekarang aja, mumpung aku lagi libur. Yuk!" ajak Liam pula. Mereka pun beranjak dari posisi mereka, tapi karena Renata yang tengah hamil besar, itu membuat dia kesulitan untuk berdiri. Liam dengan sigap membimbing istrinya untuk berdiri, dan Renata dengan manja menyambutnya.


***


Di lain sisi di kampung halaman Renata, tepatnya di rumah nenek Renata terjadi pertengkaran.


"Kenapa kamu kasih tau kediaman Renata, sih, Yu? Kamu itu kayak ndak tau saja sama kelakuan Lidya, dia pasti akan bikin gara-gara. Kamu ndak kasian sama Renata yang lagi hamil besar gitu. Nanti dia bisa stress kalau Lidya tiba-tiba datang gitu, apa lagi ini dia lagi punya masalah. Dia pasti ngerepotin Renata, Yu!" seru nenek Renata kesal pada Ayu yang tampak santai.

__ADS_1


"Terus, apa kita Ndak keganggu sama dia, Buk? Biarin aja dia ganggu anaknya. Dari pada dia ganggu kita. Aku ndak punya uang, Buk. Dia itu lagi mau mintak uang buat bayar utang nya. Emangnya ibuk mau di ganggu sama mbak Lidya?" Tukas Ayu sengit.


"Kamu ya, Yu. Kenapa kamu ndak bisa liat Renata hidup tenang. Apa kata mertuanya nanti. Sudah biayain adiknya Rio, sekarang ibuknya lagi yang mintak uang. Apa kamu ndak kasian kalau nanti rumah tangga nya berantakan gara-gara Lidya yang datang mintak uang lagi!" Seru nenek Renata tidak habis pikir dengan Ayu yang kadang seperti sangat tidak menyukai Renata.


"Itu ibuk nya Renata, Buk. Biar aja dia yang urus. Udah bagus kita mau urus adiknya. Ndak sanggup Ayu kalo harus ngurus ibuknya yang biang masalah itu itu lagi. Udah, buk. Toh orangnya juga udah pergi!" tukas Ayu lagi seraya pergi meninggalkan ibu mertuanya yang masih mengomel itu.


***


Tidak terasa Liam dan Renata sudah sampai di mall yang ingin dituju, mereka membeli banyak perlengkapan bayi.


"Rasanya pengen borong semua, ya!" seru Renata gemas dengan semua perlengkapan bayi di toko tersebut.


"Beli aja mana yang di perlukan, nanti mumbazir," nasehat Liam pada Renata dan di sambut senyum oleh Renata.


Setelah puas berbelanja mereka makan di sebuah restoran. Liam sangat memperhatikan istrinya itu. Dia melayani semua yang di butuhkan istrinya.


"Udah, Li. Kamu juga makan, kalo kamu sibuk ngurusin aku, kamu kapan makannya, sayang," ucap Renata seraya menyuap sepotong daging ke pada Liam. Liam pun memakannya.


"Aku cuman khawatir nanti kamu kenapa-kenapa sayang, kalo banyak gerak sana-sini. Kalo kamu jatuh nanti gimana! Aku nggak mau terjadi sesuatu sama kamu dan bayi kita, sayang!" ucap Liam hangat.


"Kamu udah ngasih banyak buat aku, Li. Aku takut terlalu banyak menerima. Aku takut nggak bisa membalasnya," gumam Renata dengan tatapan dalam.


"Kenapa kamu hitung ini sebagai hutang, kamu cukup mencintai aku seorang, maka semua yang aku lakuin untuk kamu akan impas, sayang!" ucap Liam. Renata tersenyum, Liam pun mengusap kepala istrinya.

__ADS_1


***


Selesai makan malam Liam dan Renata pun pulang. Saat pulang hari sudah malam. Berbelanja lalu makan, membuat mereka tidak sadar jika hari sudah gelap. Kebetulan Anin tengah tidak ada di rumah karena dia tengah keluar kota karena ada pekerjaan. Sehingga mereka jarang makan di rumah, apalagi saat ini Liam sedang libur.


Sesampainya di rumah, Liam dengan sigap membuka kan pintu mobil untuk Renata. Dan membimbing Renata dengan hati-hati untuk keluar dari mobil. Renata selalu senang tiap kali ia mendapat perhatian lebih dari suaminya itu.


Saat Liam akan menutup pintu pagarnya, Liam di henti oleh seseorang.


"Hay!" sapa nya tiba-tiba membuat Liam kaget dan mereka saling tatap cukup lama dan terpana satu sama lain. Wajah itu, wajah yang sangat Liam ingat, wajah yang tidak akan mungkin ia lupa.


Melihat ada seseorang yang datang, Renata pun menyusul Liam yang masih terpana menatap seseorang di hadapannya tanpa kata, begitu pula sebaliknya. Keduanya terlihat shock tidak percaya akan pertemuan mereka.


"Mama!" seru Renata yang juga kaget melihat sosok di hadapan Liam. Kali ini Liam dan sosok itu bertambah kaget. Liam merasa tubuhnya seakan-akan tidak bertulang saat Renata memanggil wanita itu dengan sebutan Mama.


"Ma-mama?" tanya Liam yang masih merasa ini seperti mimpi.


"Iya, Li. Dia Mama ku," ucap Renata yang kini juga terpana tidak percaya dengan sosok wanita di hadapannya itu.


Saat sadar apa yang terjadi Wanita itu pun segera kabur. Sebelum sempat Renata menahannya, sedangkan Liam berdiri tersandar di tiang pagar rumahnya.


"Dia Mauren, Re," gumam Liam hampir tidak terdengar.


"Apa?" tanya Renata tidak yang tidak jelas dengan ucapan Liam.

__ADS_1


"Dia Mauren, Re. Dia Mauren. Karena dia kakakku meninggal dan ayahku kecelakaan. Semua karna dia!" ucap Liam tanpa sanggup menatap Renata. Pada detik selanjutnya dia benar-benar tidak dapat menopang tubuhnya lagi karena shock. Liam terduduk lemas tersandar di tiang pagar rumahnya dengan tatapan kosong dan bingung. 'Renata anak Mauren. Aku menikahi anak Mauren. Tidak, ini pasti mimpi,' batin Liam masih tidak percaya. Ini mimpi yang sangat buruk bagi Liam. Ini terlalu mustahil untuk ia percayai, ini pasti salah. Batin Liam bergejolak dengan hebat.


BERSAMBUNG...


__ADS_2