Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Lidya dan Masa Lalunya


__ADS_3

Siang itu Liam masih bekerja di kantornya, dia melewati jam makan siangnya karena terlalu sibuk dengan pekerjaan nya. Menyadari itu Bimo pun datang membawakan Liam makan siang.


"Masih muda, Li. Nikmatin idup aja lah dulu, santai aja kerjanya," sapa Bimo seraya menyajikan makan siang untuk Liam ke meja Liam. "Makan dulu, nyawa cuman satu. Duit tiap hari juga bisa di dapat," ucap Bimo lagi.


Liam pun menghentikan pekerjaannya. Dia tadinya tengah sibuk dengan gambar desainnya. Liam memang mengambil pekerjaan lebih sekarang. Semenjak Renata mengatakan ibunya punya banyak hutang untuk di lunasi, Liam bertekad untuk melunasi nya. Dia tidak ingin ibu Renata akan selalu mengganggu Renata dan dia nantinya. Apalagi kalau sampai ibunya tau tentang ibu Renata. Maka dia tidak akan tau keributan apa yang akan terjadi nantinya.


"Lo lagi ngejer target apa sih, Li? kayaknya butuh duit banget?" tanya Bimo dengan Liam yang tengah menikmati makan siangnya.


"Ntar deh gue ceritain. Yang jelas, jiwa gue terguncang sekarang," ucap Liam membuat Bimo semakin penasaran.


Bimo tidak sabar menunggu Liam selesai makan. Dia terus menunggu Liam makan di samping Liam.


Selesai Liam dengan makan siangnya, dia pun menceritakan semuanya. Tentang ibu Renata yang merupakan selingkuhan ayahnya di masa lalu dan juga tentang hutang ibu Renata yang harus ia lunasi.


Sekarang Bimo pun mulai paham dengan situasi Liam. Bimo yang merupakan sepupu Liam itu, cukup prihatin dengan kondisi Liam.


"Gini, Li. Lo kerja keras buat lunasin hutangnya sebanyak itu, apa lo yakin dia nggak akan datang lagi, terus mintak duit lagi? kalo sampe dia datang lagi setelah lo lunasin hutangnya, maka lo bakal di manfaatin terus sama dia. Saran gue, dari pada lo terjebak sama permainan ini, mending lo jujur aja lah sama nyokap lo. Toh lama-lama nyokap lo juga bakal tahu sama kenyataannya cepat atau lambat, Li," nasehat Bimo membuat Lian kembali berpikir.


"Tapi, Bim. Kalo gue jujur sama Mama, ntar yang ada gue di suruh ceraikan Renata. Gue sayang sama dia, gue nggak bisa lepasin dia gitu aja. Apa lagi bentar lagi kita akan punya anak," Liam mulai terlihat gusar dan gundah. Bimo tau betapa Liam mencintai Renata sepenuh hatinya. Liam selalu begitu, jika dia sudah memutuskan menyayangi seseorang maka dia akan jaga itu sepenuh hatinya tanpa mau berpaling lagi.


***


Di sisi Lain Renata tengah kedatangan Lusi yang mengunjunginya. Lusi duduk santai bersama Renata di sofa. Renata juga menceritakan tentang permasalahan dia dan Liam dengan kedatangan ibunya.

__ADS_1


"Gue takut Liam akan berubah, Si. Gue takut Liam akan ninggalin gue. Atau mertua gue akan berubah sama gue seandainya dia tau tentang nyokap gue," ungkap Renata khawatir pada Lusi.


"Udah, yang tenang aja, Re. Gue yakin Liam nggak akan berubah. Buktinya dia selalu kerja keras buat lo juga calon anak kalian," ucap Lusi menenangkan seraya menggenggam tangan sahabat karibnya itu. Tidak lama terdengar seseorang menelpon.


"Buk, ada yang nyariin, katanya namanya Lidya," ucap seseorang yang pastinya sekuriti apartemen.


"Oh, iya pak, dia keluarga saya," ucap Renata memberi izin lalu mematikan sambungan telfonnya.


"Mama gue, Si. Dia kesini," ucap Renata pada Lusi.


Lusi pun merasa penasaran pada sosok ibu Renata. Tampak dia yang juga tidak sabar menunggu kedatangan ibu Renata. Tidak lama terdengar pintu di bell, Renata segera mengintip dari kamera CCTV di depan pintu apartemennya. Benar saja ibunya sudah berdiri di depan pintu. Renata pun membukanya.


"Mah, masuk!" ucap Renata mempersilahkan. Lusi segera berdiri dan menyalami Lidya. yang di sambut ramah oleh Lidya.


"Eh, Re. Gue pulang dulu, ya. Gue masuk siang hari ini," ucap Lusi yang ada shift kerja Siang.


Sedangkan Lidya masih melihat-lihat apartemen mewah yang didiami anak dan menantunya ini.


"Ini apartemen sepupu Liam, bukan kami yang punya," terang Renata seraya terus membuntuti ibunya yang tengah melihat-lihat apartemen Renata.


"Oh ... Ya udah, dapur kamu mana? Mama bawak sayur-sayuran buat masak, ada juga daging dan ikan?" ucap Lidya.


__ADS_1


Renata pun segera menunjuk letak dapurnya. Dapur yang bersih karena memang jarang di pakai, apalagi Renata dan Liam juga baru pindah, Renata hanya baru beberapa kali masak di sana.


Lidya pun mulai ritual masaknya, sedangkan Renata hanya duduk seraya memperhatikan ibunya yang tengah masak.


"Perempuan itu harus pintar masak, biar suami betah makan di rumah. Harus bisa layanin suami dengan baik, biar suami merasa butuh sama kita. Jangan cuman ada di ranjang, tapi kita harus mengisi dia dengan layanan dari kita sepenuhnya, biar dia merasa di perhatikan dan di sayang. Jadi dia tidak akan lari ke lain hati atau merasa bosan sama kita. Kalo selalu mengandalkan fisik yang cantik, kita itu akan menua dan perempuan cantik pun semakin banyak di luar sana. Jadi, kamu harus bisa menjadi wanita andalannya, yang ada dalam setiap langkahnya," nasehat Lidya.


"Lalu kenapa Mama nggak kayak gitu sama papa?" tanya Renata merasa miris, ucapan ibunya tidak sama dengan kenyataannya.


"Kamu beruntung punya suami yang baik dan lembut, dia mirip dengan ayahnya. Lembut dan hangat. Sedangkan papamu, kasar, arogan dan egois. Saat pertama kali Mama bertemu ayah Liam, itu lah pertama kalinya Mama merasa di perlakukan dengan hormat. Semakin Mama mengenal dia, semakin Mama takut kehilangan dia. Tapi itu tidak lama, tiba-tiba Anin kembali ke kehidupan nya, membuat dia memutuskan meninggalkan Mama," ucap Lidya kembali mengenang masa lalunya. Renata tersenyum sinis.


"Mama bicara seolah-olah ayah Liam itu milik Mama, dan ibu Liam lah orang ketiga nya. Itu konyol, Ma," ucap Renata masih tidak memahami jalan pikiran ibunya.


"Itulah kenyataannya. Mama hanya memungut apa yang sudah Anin buang, lalu Anin berperan seolah-olah dia lah yang menjadi korban paling teraniaya. Perempuan itu pintar memainkan permainannya," tukas Lidya yang tampak kesal.


"Karena Mama lah yang pada kenyataannya membuat keluarga itu berantakan bahkan sampai kehilangan nyawa. Tapi Mama dengan entengnya membuat seolah-olah yang Mama lakukan itu benar," ucap Renata kesal lalu meninggalkan ibunya sendiri di dapur. Lidya tampak tidak terpengaruh, dia tetap dengan kegiatan memasak nya.


Setelah selesai dan membersihkan semuanya dia segera menemui Renata ke kamarnya yang pintunya tertutup itu. Dia hanya menyahut dari luar kamar.


"Mama sudah selesai masak, di makan. Itu bagus buat kamu dan anak kamu. Mama pulang dulu," sahut Lidya dari luar kamar, sedangkan Renata tampak enggan beranjak dari posisinya, dia masih kesal dengan ibunya.


Lidya pun pulang dan terus keluar tanpa sepatah katapun lagi dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa, dia tampak tenang.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2