
Di kamar sudah ada Renata yang menunggu Liam dengan tatapan tajamnya. Liam tau, pasti Renata akan membahas tentang ibunya tadi. Tapi dia sedang malas berdebat. Namun tampaknya Renata keras kepala.
"Aku nggak suka ya Mama aku dianggap kayak pembantu gitu!" seru Renata dengan tatapan mengekori Liam yang baru datang.
"Dia yang ngaku sendiri," ucap Liam seraya membuka pakaiannya bersiap untuk ke kamar mandi akan mandi. Dia terlihat tidak begitu menyukai topik pembicaraan ini.
"Kamu anggap sepele melecehkan Mama aku di hadapan teman-teman kamu kayak, gitu?!" seru Renata.
"Apalagi, Re?" ucap Liam sedikit membentak. Itu membuat Renata tercenung. "Aku capek! kenapa nggak sekalipun kamu mikirin perasaan aku. Ibu kamu itu sulit diterima Mama aku. Perlu aku perjelaskan lagi?" Liam menatap tajam ke arah Renata. "Kalau kamu mau tau yang sebenarnya, aku juga sulit menerima dia. Aku coba pahamin ini semua, dari kamu Bawak ibuk kamu ke rumah, terus kasih dia tempat yang nyaman diantara kita, terus kamu terjebak sendiri dengan perasaan kamu sama ibu kamu. Sedari awal sudah aku ingatkan ke kamu buat menjauh. Karena aku tidak mungkin menerima dia. Aku bersedia membayar hutangnya. Itu semata-mata agar dia bisa pergi jauh dari kita dan kita juga sering bertengkar gara-gara membahas ini. Apa kamu pikir aku tidak tertekan? Aku juga tertekan, Re. Aku selalu berpikir bagaimana baiknya ini, bagaimana cara aku mendapatkan uang itu dan segera melunasi hutang ibu kamu. Sebelum Mama aku tau semuanya. Semua aku kerjakan tanpa banyak yang aku keluhkan, tapi kamu dari awal sampai sekarang tetap memaksakan kalau ibu kamu harus keluarga aku terima? Apa kamu juga bisa terima orang yang sudah merusak hidup kamu? bahkan dia adalah alasan kamu kehilangan kakak dan ayah kamu? Apa kamu juga bisa terima itu, Renata?" seru Liam tajam dengan tatapan menghunus kearah Renata yang terpaku dan tanpa terasa buliran bening itu menetes tanpa perintah dari matanya dan mengalir ke wajahnya dengan deras tanpa isak .
"Kamu tidak mencintai Aku Liam. Kamu hanya merasa bertanggung jawab saja. Kamu tidak mencintai aku. Kamu membenciku sejak tau dia adalah ibu ku," sudut Renata. Liam menatap Renata dengan tatapan tidak percaya. Apa yang dia lakukan selama ini dianggap Renata tidak ada artinya. Renata benar-benar tidak bisa di ajak bicara.
"Hah... Terserah. Aku capek mau mandi lagi," tukas Liam lalu ia beranjak ke kamar mandi meninggalkan Renata yang tengah menangis.
Selesai mandi Liam segera bersiap tidur mendiami Renata yang masih menangis. Mereka masih tampak sama-sama emosional.
Liam tertidur bahkan tanpa menyapa bayinya sedari tadi, itu sekali lagi membuat Renata kecewa. Liam memang marah padanya, tapi tidak berarti dia bisa mengabaikan anaknya juga. 'Kamu jahat, Li,' bisik batin Renata.
Tanpa mereka ketahui, Lidya mendengar itu semua. Dia diam tanpa expresi. Entah apa yang Lidya pikirkan, sulit untuk di tebak.
Tidak berselang lama Renata keluar dari kamarnya. Dia menemui ibunya yang tengah duduk di sofa.
__ADS_1
"Ma, Mama tidur di sini saja, ya. Udah malam. di atas ada satu kamar kosong, Mama Anin juga lagi nggak ada, tante Ana sama om Budi juga lagi keluar kota. Jadi Mama nginap aja ya malam ini," bujuk Renata. Lidya pun mengangguk.
"Ya udah, Mama istirahat saja dulu di kamar. Makasih ya, Ma buat hari ini. Maaf tadi Mama malah di kira pembantu sama teman-temanya Liam," gumam Renata merasa bersalah. Ibunya tersenyum bijak.
"Tidak apa-apa. Suami kamu itu orang baik, tadi dia bantuin Mama bersih-bersih. Jadi kamu jangan salah paham, ya sama dia. Jangan terus ajak dia bertengkar. Dia itu juga lelah, entah tekanan apa yang dia hadapi di tempat kerjanya. Sampai rumah kamu malah ajak dia ribut, itu bisa buat dia bertambah capek. Jadi sebisa mungkin kamu buat rumah adalah tempat ternyaman buat dia," nasehat Lidya bijak.
Setelah mengobrol bersama ibunya sebentar, Renata pun kembali ke kamarnya dan Lidya menuju kamarnya juga.
Di dalam kamar dengan lampu yang temaram, Renata segera menghampiri Aiden bayinya. Dia melirik Liam yang tengah tidur dengan posisi miring membelakanginya di samping.
Beberapa saat kemudian Liam bangkit dan segera mencari sesuatu di laci samping tempat tidurnya. Ternyata dia tengah mencari obat Maag nya. Dan dia segera akan beranjak dari dari ranjang. Renata segera menarik tangan Liam.
Tidak lama Renata sudah datang membawakan nya segelas air minum. Liam segera mengambilnya. Liam meminum obat maag cairnya itu dan setelah itu dia meminum air dan kembali tidur.
Sesaat Renata merasa bersalah pada Liam. Mungkin dari tadi Liam sudah kesakitan dan Renata malah mengajaknya betengkar."Mau pakek minyak telon Aiden, nggak?" bisik Renata lembut. Liam mengangguk dengan masih memejamkan matanya.
Renata pun mengambil minyak telon dan mengusap lembut di perut suaminya yang tengah memejamkan matanya itu. Liam pun merasa sangat nyaman dengan perlakuan istrinya itu. Seulas senyum terukir dari keduanya.
"Udah mendingan?" tanya Renata hangat.
Liam mengangguk dan menarik istrinya ke pelukannya lebih dalam lagi, di balas Renata dengan dekapan yang hangat. Dia memeluk suaminya sambil terus mengusap lembut perut Liam dengan posisi Liam yang tetap membelakanginya. Terlihat jika Liam dan Renata sudah mulai berbaikan lagi.
__ADS_1
"Lama ya masa Nifas nya!" gumam Liam yang membuat Renata terkekeh. Liam pun ikut tertawa.
Terkadang pasangan mu menyebalkan, tapi kau tidak akan bisa lama membencinya. Itulah suami istri, bertengkar terkadang adalah cara mereka untuk menjadi lebih dekat lagi.
***
Hingga pagi menjelang Liam masih terlelap dalam tidurnya. Sedangkan Renata sudah sibuk dengan Aiden. Sedangkan Lidya sudah siap dengan masakannya dan juga sudah selesai membereskan semuanya.
Setelah Aiden terlelap, Renata pun turun untuk melihat ibunya di dapur. Ibunya tampak sedang menikmati segelas air putih hangat. Dia menatap kedatangan Renata.
"Dimana suami kamu? Mama sudah selesai masak, sarapan lah mumpung masih panas," ucap ibunya.
"Semalam maag nya kambuh, Ma. Jadi mungkin dia nggak kerja hari ini," terang Renata.
"Kenapa bisa kambuh? Dia makan apa?" seru Lidya tampak khawatir.
"Dia emang sering kambuh gitu, Mah. Biasanya sebentar sembuh. Mungkin dia juga lagi pengen istirahat juga, jadi libur kerja hari ini," terang Renata yang sekarang tengah duduk di samping ibunya itu.
BERSAMBUNG...
__ADS_1