Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Kebenaran


__ADS_3

"Siapa yang mengizinkan kau menginjakkan kakimu di rumah ini? Pergi dari sini wanita jahanam. PERGI ... " maki Anin. Liam langsung menghampiri ibunya. Dan berusaha memeluk ibunya untuk menenangkannya. Tapi Anin terus memberontak. Sedangkan Lidya langsung bersimpuh.


"Cukup hukum aku, Anin. Hukum saja aku. Aku akan mengikuti semua mau mu. Jangan anak dan cucuku. Lakukan apapun yang kau inginkan padaku. Kau bahkan boleh membunuhku," simpuh Lidya, tapi tidak membuat Anin tersentuh sedikitpun.


"Simpuh mu dan membunuhmu pun tidak akan membuat mereka kembali lagi, Mauren. Kau menipuku. Namamu pun kau ubah, kepercayaanku kau khianati, dan semua yang tulus aku berikan padamu malah jadi bumerang untukku. Kau tau sakitnya itu seperti apa?" Lidya hanya terdiam tertunduk dengan linangan air mata. Tapi Liam tampak mulai tidak tahan.


"Stop, Mah. Bisakah kita melupakan semua yang terjadi?! Apa semua kesalahan itu adil jika di tuding pada satu orang saja. Apa Mama atau Papa tidak punya kesalahan? Apa Mama pikir semua akan terjadi jika Mama adalah ibu yang baik? Apa Mama Lidya berani bersama Papa kalau bukan Papa sendiri yang mengundangnya?" seru Liam emosional. Untuk pertama kalinya dia ingin vocal mengatakan semuanya.


"Seharusnya Mama tidak pergi saat terburuk kami. Tera sangat membutuhkan Mama. Mama tahu betul keadaan mental Tera, tapi Mama malah pergi meninggalkan kami sendirian untuk menghadapi semua tudingan kejam orang-orang pada kami saat itu," ucap Liam "Saat itu perasaan Mama, nama baik, pencitraan dan karir Mama jauh lebih penting dari kami, iya kan? Jadi bukan kah kalian bertiga lah yang membuat semua kejadian buruk itu terjadi?" seru Liam lagi dengan penuh amarah.


"Apa Mama tau? Saat itu Tera nyaris tidak bisa aku kenali lagi. Setiap malam selalu ada laki-laki berbeda yang membawanya pulang. Entah apa yang ia lakukan di luar sana. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Papa sama buruknya. Dia sibuk dengan karirnya yang hancur. Lalu aku harus melihat bagaimana kakakku dengan putus asanya mengakhiri hidupnya?"


"Siapa yang bersalah? Apa hanya Mama Lidya? Kenapa tidak satupun diantara kalian yang saat itu mencari solusinya? Malah sibuk saling menyalahkan. Kalian bertengkar dan bertengkar. Akhirnya sekali lagi kalian menumbalkan seseorang," ucap Liam lagi mulai benar-benar tidak tahan.


"Kamu ingin membuat Mama juga menjadi tersangkanya di sini, Liam? Kamu ingin membuat ibu mertuamu ini jadi korbannya?" tukas Anin tidak kalah lantangnya.


"Di mata ku kalian bertiga sama buruknya. Berhenti menyalahkan orang lain atas kecelakaan itu. Apa Mama masih tidak ingat siapa yang mendorong Papa? Apa Mama masih belum ingat jika .... " ucap Liam terputus.


"Liam cukup," teriak seseorang. Dia lah tante Ana. Dia tidak ingin Anin mendengar kan kelanjutan kalimat itu. "Jangan, Li," larang Ana.


"Kenapa perasaan Mama selalu di utamakan, Tante? Biar aku beritahu semuanya, agar dia berhenti menyalahkan orang lain. Sudah saatnya dia menghadapi kenyataannya. Mama tidak akan pernah menyadari semua. Aku juga ingin hidup, aku lelah terus melindungi perasaannya. Aku juga ingin memiliki keluarga sungguhan. Bukan lagi jadi orang yang terus bermain dengan khayalan Mama, tante. Biarkan aku miliki hidupku. Biarkan aku memiliki keluarga. Jangan terus menumbalkan aku," ucap Liam dengan tatapan tajam Liam pada ibunya. Kali ini beriringan dengan setetes air bening yang menetes dari matanya. "Mama lah yang mendorong Papa!" ucap Liam bergetar. Anin terpaku mendengar itu. Dia seperti tersambar petir di siang bolong saat mendengar pernyataan Liam. "Entah apa yang Mama pikirkan waktu itu. Mama mendorong Papa ke jalanan tepat di saat truk itu datang," terang Liam lagi. Membuat Ana tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya menatap Anin yang masih terlihat bingung dan shock. Dia mendekati Anin dan mencoba mendudukkan Anin pada sebuah kursi, karena tubuh Anin mulai lemas karena mendengar pernyataan putranya itu.

__ADS_1


"Cukup Liam. Kamu akan menyesal nanti, Liam," ucap Ana mencoba menghentikan.


"Kamu bicara apa Liam? Jelas-jelas dia mengejar kami dengan mobilnya dan dia juga dengan tidak tau malunya terus bersikeras membenarkan dirinya saat itu," ucap Anin mulai bingung.


"Hmhhh... Mama Lidya tidak bisa menyetir mobil, Mah. Bahkan rumah pun dia tidak punya di Jerman. Dia hidup sebagai perantauan. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki mobil?" ucap Liam terus menatap ibunya tajam. "Semua orang sibuk menjaga perasaan Mama selama ini, sehingga membiarkan Mama dengan ingatan buruk Mama itu. Belasan tahun ternyata masih tidak bisa membuat Mama mengingat kejadian itu,"


Ana tidak bisa menghentikan Liam lagi. Liam sudah sampai pada batas sabarnya saat ini. Dia hanya bisa menekan kepalanya yang mulai terasa pusing karena tidak tahu lagi harus bagaimana menghentikan Liam.


"Mah. Tante Ana sudah meninggal. Yang mendorong Papa ke jalan saat itu adalah Mama. Tante Ana saat ini adalah psikolog Mama. Dia bernama Felly bukan Ana,"


"Cukup Liam!" tukas Ana. "Ibu kamu belum siap, Liam!" tukas Ana lagi.


"Lihat kan Bagaimana buruknya dendam Mama? Berhentilah, Ma. Ayo lah kita memperbaiki semuanya. Aku tidak mungkin menyingkirkan anak dan istri ku begitu saja. Aku menikahi dia dengan restu Mama. Mama menyukainya saat Mama belum mengetahui tentang Mama Lidya. Kenapa Mama berubah begitu cepat? Bahkan Mama bisa hidup bahagia saat kita bersama dulu," ucap Liam lagi. Ana tampak membantu Lidya berdiri dari simpuhnya, dia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Itu tidak mungkin," ucap Anin masih tidak percaya.


"Katakan yang sebenarnya pada ibuku! Agar dia tahu kebenarannya!" ucap Liam kepada Lidya. Lidya tampak ragu. Tapi Liam terus memaksanya.


"Aku hanya datang menemui kalian di restoran, aku tidak mengejar kalian lagi. Itu terlihat di kamera CCTV jalanan, kalian berdua yang ada di sana. Aku juga bingung saat kau terus menudingku mendorong suamimu. Aku pikir karena pertengkaran kalian itu yang membuat mu terus menuduhku membunuh suamimu. Aku tidak tau jika kau mengingat aku seperti itu," ucap Lidya tenang.


"Sudah Liam. Antar mertua mu pulang," ucap Ana.

__ADS_1


"Kau berusaha membenarkan tindakanmu kan, Liam? Lalu kamu mengarang ini semua. Iya, kan?" ucap Anin masih tidak terima. "Apapun itu aku tetap tidak sudi menerimanya kembali. Aku tidak ingin dia ke rumah ini. Jangan bawa mereka ke rumah ini," ucap Anin histeris.


Liam menatap ibunya tajam. Ibunya tidak akan pernah berubah, dia akan tetap dengan egonya. Liam mulai kehilangan kesabarannya.


"Kalau begitu aku yang akan pergi dari sini," ucap Liam.


"Jangan begini. Aku tidak ingin ini. Aku yang akan pergi. Kamu tidak boleh meninggalkan ibumu," ucap Lidya pada Liam.


"Dia tidak akan pernah berubah. Mama sama dengan kak Tera. Kalian berdua sama-sama Skizofrenia. Itu yang membuat Mama dan Papa sering bermasalah," ucap Liam lalu ia pergi menuju kamarnya. Sebelum pergi dia berpesan agar Lidya menunggunya.


Anin menatap Lidya.


"Puas kamu? PUAS? KAU MENDAPATKAN SEMUANYA SEKARANG," teriak Anin pada Lidya.


"Tidak. Aku hanya ingin meminta maaf. Dan mengakhiri pertengkaran kita, Anin. Aku tidak berniat merebut semuanya dari mu," ucap Lidya masih mencoba membujuk. Anin malah pergi menuju kamarnya.


"Tunggu dia tenang, ya," ucap Ana pada Lidya. Lidya hanya tertegun. Sedangkan Ana langsung menghampiri Anin ke kamarnya.


BERSAMBUNG....


Karena ini novel agak ruwet konfliknya. Maaf ya saya sering hiatus, karena takut alurnya salah jalan. Nanti bisa tersesat dan tak tau arah jalan pulang. Jadi kalo sampe hiatus lagi. mohon maklum dan maklumatnya...🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2