
Keesokkan harinya, Liam, Renata dan putra mereka benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan penuh kebahagiaan. Mereka pergi mengunjungi taman ria dan di lanjutkan dengan kebun binatang.
Sampai lah mereka di sebuah dermaga buatan, dimana dulu Liam pernah menyatakan perasaannya di sana. Renata langsung berlari ke dermaga itu, yang kebetulan burung Flaminggo penghuni dermaga itu sedang tidak disana. Sehingga Renata menjadi berani mendekati dermaga di pinggir danau buatan itu. Dia melambaikan tangannya pada Liam. Liam yang tengah menggendong Aiden hanya tersenyum melihat, ia pun segera menyusul Renata ke dermaga.
"Kamu ingat dengan tempat ini?" tanya Renata seraya menggandeng tangan Liam.
"Tempat apa?" tanya Liam pura-pura lupa. Renata langsung mengernyitkan keningnya dan memanyunkan bibirnya membuat Liam tertawa.
"Apaan, sih?" kekeh Liam gemas dan mengacak rambut istrinya itu. "Iya, aku ingat," ucap Liam seraya mencubit pipi chubby istrinya.
Renata pun tersenyum dan memeluk lengan suaminya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Liam. Sedangkan Aiden tampak nyaman di gendongan kangguru bersama Liam, dia tampak sangat senang melihat burung Flaminggo yang tengah bermain di danau.
Begitulah hari itu berlalu untuk mereka bertiga. Setelah lelah bermain seharian mereka pun pulang kembali ke hotel. Dan sudah waktunya mereka check-out dari hotel. Setelah melakukan check-out, Liam pun mengantar Renata dan anaknya kembali ke kontrakan nya.
Di rumah mereka di sambut oleh Lidya.
"Kalian sudah pulang," ucap Lidya yang terburu-buru datang menghampiri mereka. Liam memperhatikan kedatangan wanita paruh baya itu. Terlihat kurus dan tampak tidak begitu sehat lagi.
"Iya, Mah," seru Renata. Mereka pun masuk ke rumah.
__ADS_1
"Jangan buru-buru pulang dulu, makanlah dulu sebelum pulang. Aku sudah masak," terang Lidya yang dituju pada Liam yang sedari tadi diam. Liam hanya tersenyum kaku.
...***...
Liam duduk di kamar Renata, dia tengah berbaring di ranjang dengan Aiden yang terlelap di sampingnya. Liam menatap Renata yang tengah beres-beres itu.
"Mama kamu udah nggak baik lagi kayaknya penglihatannya," ucap Liam yang sempat melihat Lidya menabrak meja saat mereka masuk tadi. Dan adegan itu seolah sudah biasa terjadi, karena reaksi Lidya yang terlihat santai setelah menabrak, dan seperti tatapan yang kosong di matanya. Itu membuat kesan jika penglihatan Lidya tidak fokus lagi.
"Iya, sejak kejadian pingsan di apartemen itu, Mama udah kayak hampir buta. Dia bisa lihat kalo jarak dekat aja. Orang-orang bilang itu sering terjadi sama penderita diabetes kering," terang Renata.
"Tapi kalo buat sehari-hari Mama masih bisa lihat sedikit-sedikit. Karena itu aku nggak bisa ninggalin Mama, Li. Nggak ada yang bisa terima dia saat ini, termasuk Rio. Rio pun nolak Mama. Semua orang sekarang seolah sedang hukum Mama. Hanya aku tempat Mama bersandar saat ini, Li," ucap Renata seraya menyeka air matanya.
...***...
Selesai dengan masakannya, Lidya mengetuk pintu kamar Renata. Renata membukanya.
"Suruh suami kamu keluar, masakannya sudah siap," ucap Lidya.
"Iya, Mah," ucap Renata. Sesaat Renata terdiam saat melihat ibunya berjalan dengan meraba dinding saat kembali ke dapur, karena untuk ke dapur Lidya melalui ruangan yang cukup gelap karena berjalan diantara dua kamar yang berhadapan dan pencahayaan yang kurang di sana membuat Lidya agak kesulitan melaluinya. Karena sudah terbiasa jadi dia masih bisa melaluinya. Lidya mengalami rabun jauh sekarang.
__ADS_1
...***...
Liam menatap Lidya saat mereka makan malam. Dia tengah mencuci piring saat mereka makan. Liam memperhatikan Lidya yang tengah mencuci piring sambil makan malam. Bukan hanya Liam yang menghindar, tapi Lidya juga. Dia menghindari Liam.
"Lebih baik, cek saja kesehatan anda di rumah sakit. Nanti akan saya antar," seru Liam kaku. Renata menatap Liam dan ibunya yang tampak tersenyum ke arah Liam.
"Tidak perlu, aku sudah tua, kalau sakit itu hal yang wajar. Jadi jangan di buang-buang uangnya lagi. Simpan saja untuk Aiden," ucap Lidya dengan sebuah senyuman. Liam diam sesaat.
"Tua itu pasti, tapi kesehatan juga harus di perhatikan," ucap Liam lagi. Lidya tersenyum lagi dan kembali dengan kegiatannya.
"Jangan, itu akan membuat ibumu marah. Aku tidak apa-apa. Sekarang pikirkan saja bagaimana rumah tangga kalian kedepan nya. Aiden akan semakin besar dan dia semakin membutuhkanmu di sampingnya. Simpan uangmu dan kalian harus mulai memikirkan untuk masa depan kalian juga. Syukur-syukur jika kalian bisa mulai menabung punya rumah lagi," nasehat Lidya.
"Kamu yang harus diperhatikan kesehatannya. Renata tidak punya siapapun selain kamu untuk bergantung, apalagi Aiden," ucapnya lagi.
Selesai mencuci piring, ia melangkah hendak pergi ke kamar Renata untuk melihat Aiden.
Renata tau, Liam berusaha untuk nyaman bersama ibunya, dan ibunya pun berusaha membuat suasana yang nyaman untuk Liam.
Selesai makan malam. Liam segera pamit untuk pulang.
__ADS_1
"BERSAMBUNG...