Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Rahasia yang Terungkap


__ADS_3

Setelah Liam pulang, Renata mengobrol bersama ibunya di bangku panjang di teras kontrakkan mereka.


"Mama mendapat telfon. Kalau orang yang menipu Mama itu sedang di cari polisi sana. Mama harap dia segera tertangkap, ya. Setidaknya Mama bisa mendapatkan uang Mama lagi dan mengembalikan uang kalian," ucap Lidya.


"Mama jangan mikirin itu lagi," ucap Renata seraya menggenggam tangan ibunya itu. Lidya menatap Renata.


"Maaf, nak. Mama selalu menyusahkan kamu," ucap Lidya dan terisak. "Mama jadi beban saja buat kalian. Kalau Mama bisa, Mama akan pergi, Mama tidak akan merusak kebahagiaan kalian seperti ini," ucap Lidya. Renata segera memeluk ibunya itu.


"Mama bukan beban, karena Mama selalu ada di samping Rere, makanya Rere sama Aiden bisa lalui ini, Mah," tukas Renata.


"Mama memang bersalah, nak. Mama merusak kebahagiaan orang lain, dan sekarang Mama di buat merusak kebahagiaan anak Mama sendiri, ini seperti tamparan untuk Mama," ucap Lidya dengan derai air matanya.


Renata segera menyeka air mata ibunya dan menggeleng membantah ucapan ibunya itu.


”Semua orang berhak atas kesempatan kedua, Mah. Berhenti nyalahin diri terus, Mah," ucap Renata.


...***...


Di lain sisi, Liam yang baru pulang di sambut ibunya. Anin tampak menatap tajam kearah Liam yang baru datang.


"Dari mana kamu, Li? Kamu bilang kerja, tapi Bimo tadi baru pulang jalan sama Freya seharian? Emang kamu ngerjain apa, sih?" kulik ibunya pada Liam yang baru datang.


Liam yang capek sebenarnya sudah tidak punya selera untuk mengarang cerita. Tapi jika tidak di jawab itu akan membuat dia di teror terus nantinya.

__ADS_1


"Aku cari suasana tenang aja, kebetulan hari ini liburan. Bosen di rumah," kilah Liam dengan expresi lelahnya.


"Terus kenapa bohong bilang ada kerjaan? Sejak kapan kamu suka bohong, Li?" tukas ibunya penuh selidik sambil terus mengikuti langkah Liam.


"Mah, Mama pergi terus apa pernah aku larang? Tanya ini itu? Nggak kan? Aku udah dewasa, Mah. Berhenti menjadi stalker, aku udah tau apa yang aku lakukan dan bagaimana caranya bertanggung jawab. Jadi Mama tenang aja," tukas Liam. Lalu ia pun masuk ke rumahnya dan menuju kamarnya.


Tindakkan Liam barusan malah membuat Anin semakin yakin jika Liam menyembunyikan sesuatu darinya. Dia menatap punggung putranya yang berjalan menuju kamarnya.


"Siapa wanita itu, Liam?" gumam Anin pada dirinya sendiri dengan tatapan penuh curiga pada putranya yang berlalu. Di tangan Anin ada sebuah jepitan rambut kecil yang ia dapat dari mobil Liam tempo hari.


...***...


Keesokan harinya di butiknya Anin kedatangan tamu istimewa, Bianca dan ibunya datang berkunjung. Anin menyambutnya dengan ramah. Mereka pun mengobrol akrab berdua, sedangkan Bianca sibuk melihat-lihat gaun yang cocok untuknya.


"Ya nanya aja. Ada apa sih, jangan bikin penasaran gini deh, jeng?" ucap Anin penasaran.


"Janji ya jangan marah. Aku nggak maksud ikut campur urusan keluarga kalian, tapi cuman penasaran saja, jeng. Biar nggak salah paham gitu," ucap ibu Bianca meyakinkan lagi.


"Ih, ada apa sih, jeng? Langsung aja, tambah penasaran jadinya," ucap Anin penasaran.


"Gini, jeng ... Liam sama istrinya udah baikan, ya? Kok Binca bilang dia sering lihat Liam sama cewek ketemuan di mall, dan setelah Bianca tanya sama Freya temen Bianca itu yang tunangan Bimo itu, tau kan? Dia bilang itu Renata istrinya Liam. Kamu bilang mereka rencana mau cerai, gimana sih, jeng?" ucap ibu Bianca sedikit kecewa


Deg ....

__ADS_1


Anin seketika terdiam. Ini seperti petir disiang bolong saat dia mendengar berita ini. Tanpa banyak kata lagi dia langsung pergi. Ibu Bianca dan Bianca hanya melongo melihat reaksi Anin.


...***...


Sesampainya di mall tersebut, Anin dengan langkah tidak sabar segera ke tempat Renata bekerja seperti yang Bianca ceritakan. Dia berkeliling mencari sosok Renata. Dengan amarah yang memuncak. Anin terus melihat ke seluruh penjuru mall itu.


Dia tidak percaya Liam sudah berani mempermainkannya. Rasa kecewa, amarah, terluka dan sedih menyelimuti perasaan Anin saat ini.


Sudah ia ingatkan Liam sedemikian rupa, bahkan Liam yang tidak biasa berbohong menjadi pembohong yang handal akhir-akhir ini. Tangis Anin sudah tidak terbendung lagi.


'Kau tidak boleh merebut anakku juga Lidya. Kau harus benar-benar menyingkir kali ini,' batin Anin yang emosional.


Dia terus mencari sosok Renata, dia tidak perduli sekarang ia tengah menjadi pusat perhatian semua orang di mall. Yang terpenting baginya, dia ingin menemui Renata sekarang juga dan mengakhiri semua ini segera.


Dia sudah sangat geram. Wajahnya tegang dan merah. Langkahnya cepat dan matanya tajam menyorot pada setiap pramuniaga di mall itu.


Tiba-tiba tatapan Anin terhenti pada sosok wanita cantik nan sederhana itu. Anin segera menghampirinya.


Dan ...


PLAAAk...


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Renata yang tidak siap dan tidak tahu apa-apa pun terjatuh seraya memegang wajahnya yang merah akibat pukulan Anin di pipinya, dia hanya bisa menatap Anin dengan tatapan kaget dan shock.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2