
Selesai dengan semua masakannya Renata Dan Anin mengobrol sambil menunggu Liam pulang.
Mereka duduk di teras belakang sambil mengobrol.
"Tante, Liam anak tunggal, ya?" tanya Renata penasaran.
"Hmmmm.... Dulu Liam punya kakak, Namanya Tera, tapi ...." ucap Anin terputus. Dia menarik nafas panjang sebelum melanjutkannya.
"Tapi kenapa Tante?" tanya Renata penasaran dan dia juga melihat ada gurat luka di mata Anin saat mengingat masa lalunya kembali.
"Tapi dia meninggal. Karena ... Dia mengakhiri hidupnya...." ucap Anin berat dan berusaha menguasai dirinya. Renata hanya diam tidak mampu berkata-kata, dia menatap Anin dengan terpaku sekaligus penasaran. "Ayah Liam sempat terjerat skandal bersama wanita lain. Tera stress dan tertekan karena permasalahan itu, dia tidak tahan dengan gunjingan orang-orang, di tambah lagi dia memang penderita skizofrenia, membuat dia tidak kuat dengan tekanan sekuat itu. Buruk nya lagi, Liam menyaksikan sendiri bagaimana kakaknya meregang nyawa. Dia sampai harus ke psikiater untuk menangani kejiwaannya, apa lagi beberapa saat setelah itu ayahnya juga meninggal karena kecelakaan, itu membuat Liam semakin ketakutan dengan Jerman. Sampai saat ini, dia tidak pernah mau kembali ke Jerman. Baginya Jerman adalah momok yang sangat menakutkan," kenang Anin.
"Siapa wanita itu, Tante? Bule, ya?" tanya Renata penasaran.
"Bukan. Dia orang Indonesia. Namanya Mauren. Perempuan itu, perempuan yang paling tante benci di dunia ini. Dia membuat keluarga tante berantakan. Tante tidak akan pernah memaafkan dia, sampai kapan pun tidak akan pernah bisa...." Kali ini tangis Anin mulai pecah. "Dia merenggut semuanya dari tante. Tapi dia tidak di hukum untuk itu, padahal dia telah membunuh suami tante, dia sangat licik, jahat sekali...." ucap Anin mulai tidak bisa menguasai dirinya. Renata yang sedari tadi diam mencoba mendekap Anin yang tidak bisa menahan emosinya lagi itu.
"Sudah, Tan. Jangan di tangisin lagi, kalau hukum dunia tidak berlaku untuknya, tapi tuhan pasti akan menghukum dia suatu saat nanti." Renata mencoba menghibur Anin. Anin menatap Renata dalam, Renata membalasnya dengan senyuman yang hangat dan dia kembali memeluk Renata.
Sesaat kemudian terdengar mobil Liam yang baru datang. Anin segera menghapus air matanya dan mencoba tersenyum kembali. Renata pun tersenyum pada Anin, dia berusaha memberi kekuatan pada Anin.
"Yuk, kita sambut Liam," ucap Renata lalu beranjak dari posisinya dan pergi menemui Liam yang baru pulang.
"Udah pulang sayang?" tanya ibunya dengan seulas senyuman manja. Liam tersenyum dan merangkul ibunya, dia melihat Renata juga ada di sana. Dia tersenyum ke arah Renata, Renata pun membalasnya dengan seutas senyuman juga.
__ADS_1
"Eh, Li. Mama sama Rere masak tadi, mama belajar masak sama Rere, kamu cepetan mandi terus siap-siap kita makan sama-sama, ya," seru ibunya antusias.
"O... ya? Wah masak apa nih?" tanya Liam tidak kalah antusiasnya.
Setelah membersihkan diri, Liam pun segera turun menuju meja makan. Di sana sudah ada Renata yang tengah menata makan malam mereka, sedangkan ibunya baru datang dengan membawa menu makan malam mereka.
"Keliatannya enak, ya!" seru Liam seraya merangkul kekasihnya Renata dan mencium kepalanya dengan manja.
Renata hanya tersenyum di perlakukan sehangat itu, terus terang itu perlakuan terhangat yang pernah Renata terima selama ini. Semenjak bersama Liam Renata merasa bahagia dan sangat berarti, setelah bertahun-tahun dia merasakan di campakkan dan tidak mendapatkan kasih sayang yang layak setelah kematian ayahnya dan kepergian ibunya.
"Wah... Kamu yang masak ini sama mama, sayang?" tanya Liam antusias, Renata tersenyum sumringah.
"Iya, Li. Renata ini pinter milih sayurnya, kapan nih kamu bawak Renata pulang ke rumah kita beneran? kalo ada Rere kan mama jadi nggak kesepian lagi, ada temennya di rumah," ucap Anin yang di sambut senyum malu-malu oleh Renata, sedangkan Liam membelalakkan matanya tidak percaya, jika ibunya sangat merestui hubungannya bersama Renata.
"Beneran nih, Li boleh bawak Rere pulang? Kalo gitu secepatnya aja, Ma. Sebelum keduluan Mas Arman," Seru Liam usil, yang di sambut cubitan oleh Renata. Liam pun pura-pura kesakitan dan kembali mendekap kekasihnya itu.
"Kalo kalian sudah siap, kenapa harus di tunda," ucap Anin memberi lampu hijau untuk hubungan Liam dan Renata. Kedua nya pun tersenyum bahagia.
Makan malam ini terasa sangat spesial buat mereka bertiga. Apalagi makanan yang di sajikan pun terasa sangat lezat. Liam makan dengan lahap, itu membuat Renata jadi senang, begitu pula Anin, dia terus memuji masakan Renata.
Selesai makan malam, mereka mengobrol di ruang keluarga. Tiba-tiba adik Anin ibunda Liam datang, dia lah tante Ana.
"Hey... i am coming!" seru nya yang baru datang, dan langsung di sambut Anin dengan antusias, mereka cipika-cipiki untuk melepaskan kerinduan mereka. Sesaat Ana tersadar jika ada anggota baru di tengah keluarga Liam.
__ADS_1
"Eh, ada tamu? Siapa nih? Calon mantu mu, Mbak" tanya Ana ramah pada Renata. Renata hanya tersenyum ramah ke arah Ana.
"Iya, cantik, Kan?" seru Anin antusias memperkenalkan Renata pada Adiknya itu.
"Hmmm... Tumben Liam dapet yang kalem, yang sudah-sudah biasanya ratu salon semua?" sindir Ana pada Liam.
"Iya, aku juga kaget. Kan biasanya yang lipstik merah, kuteks lentik semua, ya. Eh kali ini dia bawak yang mama nya suka. Makanya tadi aku suruh lamar aja sekalian biar nggak nyangkut sama yang cuman bisa dandan aja, biar kalo di dapur mama ada temen gitu, nggak sibuk nyalon aja kerjanya," gurau Anin dan di sambut tawa oleh yang lain. Renata senang, karena sepertinya Anin benar-benar merestui hubungan mereka.
***
Karena akan membicarakan hal yang pribadi, Anin dan Ana pun mencari ruang yang privasi untuk bicara. Sedangkan Renata dan Liam pergi menuju balkon lantai atas untuk mengobrol. Liam duduk di samping Renata yang duduk bersandar di sofa panjang yang ada di teras. Mereka menikmati pemandangan malam dengan perasaan damai.
"Kamu setuju nggak kalo kita nikah?" tanya Liam pada Renata. Renata tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan dengan expresi malu-malu. Liam senang, melihat reaksi Renata itu. Liam menggenggam tangan Renata dia menatap Renata dalam.
"Re, aku sayang banget sama kamu," ucap Liam tulus.
"Aku juga," gumam Renata dengan seulas senyum manisnya.
Suasana itu membuat Liam tidak sanggup lagi menahan perasaannya pada Renata. Berlahan Liam mendekatkan wajahnya pada Renata, Renata hanya bisa terpaku melihat apa yang akan terjadi, Liam mendekatinya dengan memejamkan matanya berlahan bibir mereka bersentuhan, Liam mengecupnya hangat. Seketika Renata merasakan seakan-akan jantungnya berhenti berdetak. Ini pertama kalinya bagi Renata, tapi tidak bagi Liam. Kecupan itu terus berlanjut, hingga berlahan tangan Liam turun bukan di leher Renata lagi tapi hampir menyentuh dadanya, mereka semakin terbawa suasana. tanpa mereka sadari, saat bersamaan ada Ana yang menyaksikan itu. Sebelum Renata dan Liam kebablasan. Ana sengaja melangkah dengan sedikit menghentakkan kakinya, dan pura-pura berseru memanggil kakaknya Anin.
"Mbak!" seru Ana.
yang seketika itu juga menyadarkan Liam dan Renata dengan apa yang mereka lakukan. Mereka melihat Ana tengah berlalu tidak jauh dari mereka. Keduanya langsung terkekeh karena malu, sedangkan Ana berlalu seolah-olah tidak melihat apa-apa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1