
Pagi-pagi Liam dan Renata mendatangi apartemen Bimo. Bimo adalah sepupu Liam anak Tante Ana yang merupakan adik kandung ibu Liam dan ayah Bimo adalah pak Budi direktur Liam di perusahaan arsitektur tempat Liam bekerja.
(Apartemen yang akan Liam dan Renata tempati)
"Nanti, kasih tau mama kamu tempat tinggal kita di sini, biar dia ke sini aja," ucap Liam seraya melihat-lihat kondisi apartemen yang cukup mewah itu. Liam beruntung memiliki sepupu dari keluarga kaya raya, jadi dia terkadang bisa terbantu juga, seperti saat ini.
"Iya, tapi kayaknya kita perlu beli perlengkapan dapur sama aku nggak enak kalo harus pakek ranjang dia, kan bentar lagi kita akan punya baby, jadi takutnya bau ompol atau apa nanti waktu kita pergi. Kita beli aja ya punya kita!" saran Renata, Liam mengangguk setuju.
"Tapi nanti aja, ya. Sebab aku mau ke lokasi hari ini. Ada proyek rumah yang aku pegang, aku mau ke sana hari ini," ungkap Liam. Renata pun mengangguk.
...****...
Setelah melihat apartemen Bimo. Liam mengantar Renata ke tempat ibunya Anin. Di sana ada Anin yang tengah menangani pelanggannya, tampaknya si pelanggan akan memesan sebuah gaun.
...(Butik Anin)...
Renata menunggu di sebuah sofa di butik itu. Para karyawan Anin sudah cukup akrab dengan Renata, jadi mereka sudah biasa menyapa Renata dengan akrab pula.
Selesai dengan pelanggannya, Anin segera menemui Renata. Dia datang menemui Renata dengan susu kedelai yang sudah di pesannya tadi.
"Ini Mama beli tadi buat kamu. Mama liat ada yang jual, Mama jadi ingat kamu," ucap Anin seraya menyerahkan sebotol susu kedelai pada Renata. Renata pun mengambilnya, setiap kali dia mendapatkan perhatian dari Anin dia semakin merasa bersalah.
...(Sebotol susu kedelai)...
'Kalo Mama tau siapa aku sebenarnya, apa mama juga akan tetap sebaik ini sama Rere?' batin Renata merasa teriris pedih.
Melihat raut tidak biasa dari Renata Anin jadi merasa khawatir.
__ADS_1
"Eh, kenapa? kamu sakit?" tanya Anin khawatir. Renata menggeleng pelan.
"Nggak, Ma. Rere baik-baik aja, kok. Seharusnya Rere yang tanya gitu sama Mama. Mama apa nggak capek? baru datang Mama langsung sibuk di butik lagi," ucap Renata perhatian. Anin hanya tersenyum mendapat perhatian dari menantu kesayangannya itu.
...***...
Selesai menemui Anin, Renata pun pulang dan menelpon ibunya untuk bertemu. Dia datang untuk menemui ibunya untuk memberitahu kepindahannya. Mereka bertemu di salah satu kafe.
(Kafe tempat pertemuan Renata dan Lidya (Mauren)
Tidak lama kemudian terlihat Lidya datang.
(Lidya atau Mauren)
"Apa kabar, Re?" sapa nya ramah. Dia melihat ke arah perut Renata yang membuncit.
"Mama dengan ayahnya tidak sampai hamil, tapi malah kamu yang hamil bersama anaknya," gumam Mauren seraya terkekeh, yang membuat Renata tersenyum sinis seraya geleng-geleng kepala dengan ibunya yang seolah bangga dengan apa yang sudah ia lakukan di masa lalu.
"Iya, dan berkat kehadiran Mama juga Liam kehilangan kakak dan ayahnya. Apa Mama bangga sudah membuat laki-laki yang Mama cintai meninggal? Apa serusak itu kah mental Mama?" sudut Renata terhadap ibunya. Itu membuat senyum Lidya seketika hilang.
"Bukan Mama yang membunuh laki-laki itu. Ibu Liam sendiri yang membunuhnya. Lalu setelah itu dia berlagak seperti korban yang menyedihkan. Perempuan itu pandai bersandiwara. Dia yang membuatnya kacau lalu dia mengkambing hitamkan orang lain atas semua perbuatannya," ucap Lidya kembali mengenang masa lalunya bersama Frans.
"Mah, setidaknya Mama bisa hidup tanpa menghancurkan hidup orang lain. Cukup Rere, Rio dan papa yang Mama hancurkan, jangan orang lain lagi. Bagaimana Mama bisa hidup dengan tenang atas semua yang sudah mama lakukan?" tukas Renata. "Rere dan Liam sekarang mungkin saja bisa bermasalah dengan ke hadiran Mama. Kalau Mama punya hati setidaknya biarkan Rere dan Liam hidup tenang. Setelah Rere kasih uang untuk lunasin hutang Mama, Rere harap Mama bisa pergi. Jangan sampai Mama Anin liat Mama," ucap Renata memanggil Anin dengan sebutan Mama. Itu entah kenapa melukai perasaan Lidya sebagai ibu kandungnya.
"Orang lain kamu jadi kan ibu, Mamamu sendiri kamu usir, Re," ucap Lidya merasa terluka.
"Mama masih mau dianggap ibu? Maka berkorban lah seperti seorang ibu untuk kebahagiaan anaknya. Setidaknya sekali dalam hidup Rere, Rere bisa senang mengingat Mama sebagai ibu, Rere," ucap Renata beriringan dengan air matanya. Lidya melihat ke dalam mata putrinya itu. Benar, dia tidak pernah bisa membahagiakan anak-anaknya selama ini.
"Baik ... Mama akan pergi, setelah ini Mama akan pergi," ucap Lidya terluka. Renata bisa melihat bahwa Lidya terluka dengan ucapannya barusan.
__ADS_1
"Kasih Rere waktu buat kasih Mama uangnya. Berapa banyak yang Mama butuhkan?" Tanya Renata.
"Kurang lebih 650 juta?" itu sontak membuat Renata kaget.
"Mama hutang untuk apa sebanyak itu?" seru Renata tidak percaya.
"Mama ... Mama di tipu orang dalam sebuah investasi. Mama pinjam modal, tapi ternyata uang Mama di bawa kabur, jadi Mama pinjam tempat lain buat nutupin pinjaman sebelumnya, lama-lama hutang Mama semakin banyak dan Mama tidak bisa bayar," ungkap Lidya. Renata memejamkan matanya sesaat untuk menenangkan dirinya.
"Ok, kita akan cari pinjaman dulu, kasih kita waktu. Tapi Mama janji harus sembunyi dari Mama Anin, jangan sampe Mama Anin tau tentang Mama, pergilah yang jauh, Ma," ingat Renata lagi. Lidya mengangguk mengerti.
...***...
Setelah menemui ibunya, Renata pun pulang. sepanjang perjalanan dia terus berpikir tentang bagaimana dia dapat menemukan uang sebanyak itu. Liam dan dia sedang tidak mempunyai banyak tabungan saat ini.
Saat makan malam, Liam tampak tidak banyak bicara. Liam memang akhir-akhir ini sering diam sejak kehadiran ibunya Lidya. Liam seolah berubah.
Selesai makan malam, Renata pun membereskan semuanya, setelah selesai dia menemui Liam yang sudah berada dia kamar, ia sedang duduk bersandar di kepala ranjang, ia tengah memainkan handphone nya.
(Kamar Liam dan Renata)
Renata duduk di samping Liam berlahan mendekati Liam yang masih fokus dengan handphone nya. Dia mencari momen yang tepat untuk bicara. Sebelum bicara ia menarik nafas panjang.
"Tadi aku ketemu sama Mama." Sontak itu membuat Liam menoleh.
"Mama kamu?" tanya Liam. Renata mengangguk.
"Kita ngobrol lumayan lama ....," Renata menghentikan ucapannya sesaat "Li, kayaknya hutang Mama terlalu banyak buat kita lunasin. 650 juta, itu bukan jumlah yang dikit buat kita. Sebaiknya nggak usah aja, Li. Lebih baik kita jujur aja sama Mama kamu, biar kita nggak di teror terus sama Mama aku," ungkap Renata khawatir seraya terus memainkan kukunya tanpa berani menatap Liam.
"Apa kamu pikir mama aku mau nerima gitu aja. Re, kalo sampe mama aku tau tentang ini semua, aku bisa kehilangan kamu," ucap Liam serius. Sontak membuat Renata menjadi khawatir dan Liam pun terlihat gusar.
BERSAMBUNG...
__ADS_1