Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Mencari Kepastian


__ADS_3

Ana tampak masih terus berusaha menyatukan Liam dan Renata. Setelah melihat reaksi Anin, Ana menjadi takut jika Liam benar-benar akan terpengaruh oleh ibunya itu. Dia segera menemui Liam di kediamannya setelah keberangkatan kakaknya itu.


tampak Liam sedang duduk termenung menatap ponselnya. Sebelum masuk Ana mengetuk pintu, Liam menoleh ke sumber suara dan tersenyum.


"Boleh tante masuk?" tanya Ana lembut.


Liam pun mengangguk dengan senyuman tipis. Ana masuk dan duduk di pinggir ranjang dengan Liam yang menatap serius kedatangan Ana.


"Li, bagaimana keadaan kamu? Masih sakit? Tenggorokan kamu masih perih? Masih mual nggak?" ucap Ana memulai membuka pembicaraannya dengan sedikit khawatir.


"Udah nggak, Tante. Cuman masih sedikit nggak enak aja perutnya. Mungkin Senin depan aku masuk kerja," ucap Liam.


"Li ...," panggil tantenya itu. Liam menatap tantenya. "Kamu ... Kamu sudah coba hubungi Renata? Tanyain lah keadaan Aiden," ucap Ana ragu. Liam menjawabnya dengan menggelengkan kepala.


"Kalo gitu, coba kamu hubungi Renata sekarang. Tante memang pernah hubungin dia. Tapi dia nggak mau pulang. Mungkin kalo kamu yang hubungin dia langsung dia mau," nasehat Ana. Liam hanya diam tanpa jawaban.


Entah kenapa ada perasaan beban di hati Liam untuk menghubungi Renata. Tapi walau begitu Liam tetap mencoba menghubunginya. Rasa segannya pada tantenya memaksa dia mengikuti permintaan tantenya itu.

__ADS_1


Liam segera mencari kontak Renata, tapi tidak bisa masuk. Seperti nya Renata masih memblokir nomor ponsel Liam.


"Nomer aku masih di blok, Tante," ucap Liam dengan senyuman miris.


Ana diam tercekat, dia melihat Liam dan Renata sama-sama keras kepala, apalagi sekarang ibu Liam diam-diam juga terus memprovokasi Liam.


Ana tidak bisa membiarkan pertengkaran Liam dan Renata semakin memburuk. Dia pun segera mengeluarkan handphone miliknya.


"Coba pakek handphone tante, ya," ucap Ana masih ingin Liam berusaha menghubungi istrinya itu.


Ternyata berhasil tersambung. Terdengar sambungan telpon mulai tersambung ke seberang sana. Sesaat kemudian pun diangkat. Liam mulai tampak cemas dan panik, tidak tau harus berkata apa. Sedangkan Ana malah tampak antusias dan terus menyemangati Liam agar mau bicara.


"Aku nggak bisa pulang sekarang, Tante. Aku belum bisa. Jangan desak aku sekarang," seru seseorang dari seberang sana langsung tanpa sempat Liam mengucapkan salamnya. Liam yang mendengar penolakkan itu hanya diam mendengarnya.


Liam tersenyum miris. Ternyata Renata benar-benar menolak Liam. Liam menarik nafas panjang sebelum bicara.


"Ini aku! Liam," ucap Liam dari seberang telepon. Sontak itu membuat Renata terdiam, dia tidak menyangka akan bicara pada Liam langsung. "Aku tidak mau memaksa kamu untuk pulang. Lakukan apapun itu yang bagi kamu bisa membuat kamu bahagia. Jaga Aiden dengan baik. Maaf," ucap Liam pelan dengan perasaan terluka.

__ADS_1


Lalu ia pun mematikan sambungan telepon itu dan menyerahkan handphonenya pada Ana. Ana kaget dengan apa yang barusan Liam sampaikan pada Renata lewat sambungan telfonnya. Bukan ini yang dia inginkan. Liam seolah-olah malah menegaskan bahwa dia juga sudah menyerah pada hubungannya.


"Kalau memang Renata yang tidak mau, aku tidak bisa paksa, Tante. Mungkin aku memang bukan orang yang baik buat dia," ucap Liam berusaha tegar dan dengan seutas senyuman yang ia paksakan.


Ana terdiam. Dia tidak menyangka ini yang akan terjadi. Hubungan dua insan ini semakin sulit untuk di satukan kembali. Liam akan melepaskan Renata begitu saja. Tapi itu hal yang wajar. Mengingat bagaimana Liam sudah berusaha keras memperjuangkan anak dan istrinya itu, tapi Renata malah meninggalkan dia dalam keadaan sekarat di rumah sendirian dan pergi tanpa izin kepada Liam.


Mungkin sekarang Liam tengah merasa di khianati oleh Renata. Dan merasa lelah berjuang sendirian dalam mempertahankan hubungannya. Sedangkan Renata malah sibuk dengan perasaannya sendiri dan seolah-olah hubungan mereka tidak ada artinya di bandingkan dengan ibunya.


...***...


Disisi lain Renata masih tampak tercekat. Liam pun sekarang terdengar sudah menyerah dengan hubungan mereka. Tidak adakah yang tersisa dari hubungan mereka. Semua seakan-akan menguap begitu saja tanpa tersisa.


Renata terdiam, dia pun masih tidak tau dengan keputusannya ini, apakah sudah tepat atau malah ini akan membuat dia menyesalinya nantinya. Pikirannya masih sangat kacau saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan," gumam Renata menatap Aiden yang tengah tertidur nyenyak di dekapan Renata.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2