
Sesampainya di Sebuah rumah yang cukup sederhana dengan pagar besi sederhana yang memagari rumah tersebut. Berlantai 2 dan cukup besar untuk rumah orang desa.
"Ros!" panggil Lidya. Dia mengulang beberapa kali memanggilnya hingga seorang remaja tanggung muncul. Lidya senang melihat kedatangan remaja itu, sepertinya dia sudah cukup kenal dengan anak itu.
"Tante Lid!" Sumringah. Lidya dan Liam pun di persilahkan untuk masuk. Mereka duduk di sebuah bangku di teras rumah itu, sementara si anak remaja tadi pergi mencari ibunya yang kelihatannya sedang tidak berada di rumah. Si remaja segera mencari keberadaan ibunya.
Sedangkan Liam terus melihat ke sekelilingnya. Dia baru pertama kali datang ke sebuah desa. Dan dia merasa sangat nyaman dengan pemandangan asri desa ini.
Di seberang rumah tersebut ada sebuah sawah. Karena rumah itu berada di perbukitan hingga pemandangan asri di bawah sana jadi terlihat jelas. Liam tersenyum melihat keasrian pemandangan desa ini. Lidya melihat senyum menantunya itu.
"Bagus ya pemandangannya!" seru Lidya. Liam menoleh tersenyum dan mengangguk. Dia masih terlihat kaku saat bersama Lidya, walaupun Lidya sudah berusaha santai dengan Liam, tapi Liam kelihatannya sulit untuk bersikap santai dengan ibu mertuanya. Mungkin karena kenangan masa lalu mereka bersama yang kelam. Membuat Liam sulit untuk nyaman bersama Lidya.
Tidak lama seorang wanita paruh baya pun muncul. Dia langsung berseru melihat siapa yang datang.
"Ya Allah Lidya. Ternyata kamu!" serunya, merekapun langsung berpelukan layaknya seseorang yang sudah lama tidak bertemu.
"Kamu masih ingat rumahku, Lid," serunya.
"Tentu, Ros. Bagaimana aku bisa lupa rumah orang sebaik kamu," seru Lidya dengan senyum hangatnya. Tiba-tiba Lidya ingat jika dia belum memperkenalkan Liam pada Rossi sahabatnya ini. " Oh, ya, Ros. Ini menantuku Liam. Suaminya anakku Renata," ucap Lidya di sambut dengan jabatan tangan antara Liam dan Rossi, juga dengan putri remaja Rossi yang di sambut malu-malu si remaja karena Liam yang rupawan membuat dia salah tingkah.
"Eh, masuk-masuk. Sampe lupa aku suruh tamunya masuk," seru Rossi antusias menyambut tamunya itu. Liam dan Lidya pun memasuki rumah sederhana tersebut.
Hanya ada sofa tua sederhana di sana dan perabotan tua yang terlihat mulai usang dan berdebu. Liam menatap ke sekeliling rumah itu.
Walau terlihat usang dan terkesan agak berdebu, kelihatannya cukup nyaman buat mereka tinggali sebagai keluarga besar. Terkesan hangat dan nyaman.
...***...
__ADS_1
Tidak lama saudara Rossi datang ramai menjenguk tamu Rossi tersebut. Mereka menyambut Liam dan Lidya seperti artis. Mungkin jarang bagi mereka melihat orang-orang kota seperti Liam dan Lidya.
Mereka tak henti-hentinya memuji ketampanan Liam. Yang jadi salah tingkah jadinya. Liam hanya diam tidak banyak bicara.
Mendengar sambutan hangat dan tawa canda mereka itu membuat Liam nyaman, walau dia masih malu untuk berinteraksi. Mereka bahkan di ajak makan bersama keluarga besar Rossi dengan menu sayuran kampung sederhana tapi sangat lezat karena kebersamaan dan kesederhanaan keluarga itu menyambut mereka.
Liam makan dengan lahap, ibu mertuanya sangat senang melihat menantunya makan dengan lahap. Mungkin karena Liam tidak pernah merasakan suasana kekeluargaan ala desa. Itu membuat dia merasakan suasana baru.
Selesai makan dan mereka mulai akrab bersama keluarga Rossi. Lidya kembali ingat dengan tujuan kedatangan nya.
"Aku mau ngomong sama kamu berdua boleh?" ucap Lidya.
"Oh, boleh, Lid. Ke kamar ku yok, di sini rame," ucap Rossi lalu membawa Lidya ke kamarnya. Meninggalkan Liam dan keluarga yang lain di luar. Liam di tanya ini itu oleh keluarga Rossi yang tampak kagum pada Liam. Liam hanya menjawabnya canggung karena memang Liam merasa risih di perlakukan seperti artis itu.
...***...
"Ini uang mu, Ros. Kamu memang mintak aku untuk tidak mengembalikannya. Tapi ini bukan jumlah yang sedikit buat di kasih gitu aja. Lagian kesehatan aku juga sudah tidak baik lagi. Aku tidak mau mati bawak hutang," terang Lidya. Rossi masih mendorong tangan Lidya untuk menolaknya. Dia tau Lidya tidak mungkin mendapatkan uang itu begitu saja, pasti ada pengorbanan besar Lidya untuk mendapatkan uang itu.
"Tidak, Lid. Kita sama-sama di tipu saat itu. Jangan di kembalikan lagi ini. Aku sudah ikhlas. Kamu sudah tidak kuat bekerja berat lagi, pakai saja yang ini untuk kamu berobat, Lid. Aku masih punya simpanan dan kebun yang baru aku beli," terang Rossi mencoba membujuk Lidya untuk tidak mengembalikan apa yang sudah di berikan nya dulu.
"Tidak, Ros. Aku yang melakukan investasi itu. Aku yang harus bertanggung jawab. Aku juga akan mengembalikan uang kalian semua. Aku tidak mau menanggung dosa lagi. Setidaknya ada yang pernah aku pertanggung jawabkan atas kesalahanku," ungkap Lidya. "Aku tidak tahu kapan penyakit ini akan membunuhku. Setiap kali aku luka, itu tidak akan sembuh karena penyakit ini. Karena itu aku ingin mulai memperbaiki diri," ucap Lidya lagi.
"Tapi, Lid. Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang ini?" tanya Rossi khawatir.
"Tidak penting itu, yang penting aku bisa melunasinya untukmu," ucap Lidya. Walau berat akhirnya Rossi mau menerima uang itu.
Selesai urusan dengan Rossi, Lidya dan Liam pun pamit pergi.
Mereka pergi diantar dengan hangat oleh keluarga besar Rossi.
__ADS_1
***
Setelah di perjalanan, Liam menatap Lidya, dia tersenyum seolah merasa puas. Liam pun tanpa sadar juga tersenyum melihat kebahagiaan mertuanya itu.
"Ke mana lagi kita?" tanya Liam.
"Ada 2 tempat lagi. Setelah itu kita akan transfer saja ke rekening. Karena yang 3 ini aku tidak punya nomor handphone nya. Karena itu kita harus menemui nya langsung. Dan yang lainnya bisa kita transfer," ucap Lidya. Liam hanya mengangguk paham.
"Aku di tipu orang, hingga aku membuat mereka semua kehilangan uang mereka. Aku menghindari mereka semua dan hanya Rossi yang mau menerimaku dan menyembunyikan aku. Padahal uang miliknya lah yang paling banyak jumlahnya. Karena itu juga aku tidak bisa pulang menemui Renata dan Rio. Karena aku sedang dalam pelarian. Tapi sejak aku sakit Diabetes Kering, aku mulai ketakutan dengan semua kesalahanku. Setiap kali aku terluka, maka luka itu akan sulit untuk sembuh. Setiap hari aku merasakan tidak enak. Aku merasa jika suatu saat aku terluka parah karena hutangku. Atau salah satu diantara mereka menemuiku dan mencelakai aku, maka aku tidak akan punya kesempatan untuk kembali. Setiap hari aku berusaha mencari jalan untuk busa melunasinya sendiri. Tapi penyakit ku, membuat aku tidak bisa terlalu. Akhirnya aku putus asa. Karena itu aku meminta bantuan kalian. Karena aku juga selalu di hantui dengan rasa bersalah. Apa aku bisa kembali? Apa aku bisa bertemu keluargaku lagi? Apa aku akan mati dalam keadaan di kutuk semua orang? Aku juga ingin tenang. Saat itu lah aku mulai berpikir untuk segera melunasi hutang-hutangku. Setidaknya aku bisa tidak hidup dalam pelarian ku lagi. Karena aku sudah tidak sanggup lagi hidup dalam pelarian. Karena itu aku mulai meminta petunjuk kepada tuhan, dan aku mulai tergerak untuk mencari Renata. Hati kecilku berkata, aku harus menemuinya, anak-anakku, sebelum aku mati. Tidak aku sangka, aku malah kembali bertemu denganmu dan ibumu lagi. Satu lagi orang yang pernah aku sakiti. Mungkin ini cara tuhan memberikan aku kesempatan untuk mengakui dosaku pada mu dan ibumu. Bahkan aku di permalukan dengan membuat kamu lah orang yang membantu ku. Orang yang pernah aku sakiti lah yang menolongku. Ini tamparan keras untuk aku yang berdosa ini," ucap Lidya kali ini di akhiri dengan tangis rasa bersalahnya.
"Mungkin juga ini cara tuhan agar kita bisa memperbaiki kesalahan kita di masa lampau. Mungkin tanpa kau datang kembali, aku tidak akan pernah tau jika ibu dan ayahku sudah lama berencana untuk bercerai. Karena mereka tidak pernah menunjukkan jika mereka tengah bermasalah, mereka hanya terlihat seperti bertengkar biasa, tidak tampak seperti akan berpisah," ucap Liam dengan senyuman miris, karena merasa tertipu atas kebahagiaan palsu yang di buat ibu dan ayahnya di masa lampau.
"Semua orang tua akan begitu. Mereka tidak mau anak-anak mereka tau permasalahan mereka," ucap Lidya memberi pengertian pada Liam.
...***...
Mereka terus melanjutkan perjalanan mereka. Setelah bertanya-tanya ke sana kemari, akhirnya mereka dapat juga alamat yang akan dituju. Lidya kalu ini tidak banyak bicara, dia langsung menyerahkan sejumlah uang itu. Walau tampak kaget, akhirnya dia mau menerimanya.
Liam senang, dia merasa pelan-pelan perjalanan dia dan Lidya berlahan membuka hati Liam untuk menerimanya di hidup mereka. Tapi apa mungkin dia bisa hidup berdampingan dengan Lidya dan ibunya.
***
Di sisi lain, Anin tampak sedang sibuk mencari oleh-oleh untuk cucu semata wayang itu. Dia dengan semangat ke toko perlengkapan bayi.
...(Toko Perlengkapan Bayi)...
BERSAMBUNG...
__ADS_1