Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Kehidupan Yang Sempurna


__ADS_3

Pagi menjelang, Liam masih tertidur bersama Aiden. Renata baru datang mengambil pakaian Liam yang ada di mobilnya. Dia melihat gaya tidur ayah dan anak itu jadi tersenyum sendiri.


"Udah, bangun, kerja lagi, mau sampai kapan kamu gangguin dia tidur gitu," seru Renata melihat Liam yang baru bangun langsung mencium putranya itu. Liam merasa sangat senang, saat bangun tidur ada putranya itu di sisinya. Seperti sebuah mimpi baginya, saat ia menyadari ini semua kenyataan itu membuat dia ingin meluahkan rasa bahagianya dengan memeluk dan mencium putranya itu.


"Aku seneng, waktu bangun tidur liat dia, baunya juga wangi banget waktu pagi," seru Liam yang masih mencium kaki tangan dan wajah putranya itu. Renata tersenyum melihat expresi bahagia Liam. Dia mengusap bahu suaminya dan mengecup hangat kepalanya dengan manja. Liam menoleh dan tenggelam di pelukan Renata.


"Aiden di tempat buyut jadi kesayangan semua orang loh, Yah." Liam menatap Renata yang barusan memanggilnya dengan sebutan 'Ayah' untuk Aiden. Ia tersenyum seraya tertunduk.


"Aku juga senang memiliki kalian berdua," gumam Liam seraya menatap istrinya itu dan di sambut kecupan hangat Renata di keningnya.


...***...


Setelah semua beres Liam bersiap akan berangkat kerja. Dia diantar oleh Aiden dan Renata hingga ke mobilnya yang terparkir di depan rumah tetangga itu.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Liam merasakan kebahagiaan seperti ini. Lambaian tangan anak dan istrinya benar-benar memberinya energi baru untuk memulai harinya. Senyum bahagia tidak pernah lepas dari wajahnya.


Lidya melihat itu dari kejauhan, dia merasa turut senang dengan kebahagiaan keluarga kecil itu.


'Aku harap kehadiranku tidak akan merusak kebahagiaan mereka kembali. Sepertinya aku bisa perlahan pergi dari hidup mereka, agar mereka bisa terus bersama,' batin Lidya.


...***...


Di kantor Liam di sambut Bimo. Yang datang ke ruangan Liam dengan sebuah berkas di tangannya. Dia menghempas berkas itu di meja Liam.


"Mama udah pulang? Kok dia nggak nelpon ya?" jawab Liam sambil membuka berkas yang Bimo berikan padanya barusan. "Biarin aja. Biar dia tau rasanya kesepian di rumah sendirian," ucap Liam seraya sibuk dengan pekerjaannya.


"Lo dari tempat Renata, ya? Sumringah banget kayaknya. Udah ada yang mulai naik ranjang nih kayaknya," goda Bimo. Sontak membuat wajah Liam merah padam. Melihat reaksi Liam, sekarang Bimo semakin yakin jika antara Liam dan Renata sudah berbaikan.

__ADS_1


"Bukannya gue mau merusak kebahagiaan kalian, tapi, Li. Hati-hati jangan sampe hubungan kalian ini buat nyokap lo kecewa lagi. Gimanapun Lo harus sadar Renata itu siapa," ucap Bimo seolah ingin menyadarkan Liam tentang perasaan ibunya kelak.


"Gue nggak tau, Bim. Perasaan sayang dan suka itu bukan sesuatu yang bisa di rekayasa. Pada kenyataannya yang gue sayang itu Renata, mana mungkin gue bisa cerein dia. Liat gimana nanti aja lah. Gila gue lama-lama kalo ngikutin ego semua orang," ucap Liam seraya menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursinya.


"Hati-hati aja, jangan sampe ketahuan dulu. Kasih tau nyokap lo pelan-pelan biar dia bisa terima," ingat Bimo lagi. Liam hanya tersenyum. Dia dan sepupunya ini memang merupakan sahabat yang kentara.


...***...


Di rumahnya Renata tengah membersihkan kamarnya. Dia tengah membereskan semuanya, dia mendapati pakaian Liam yang tertinggal, ia pun memungutnya, mendekap mencium pakaian itu. Masih ada bau parfum Liam di pakaian itu, itu membuat Renata tersenyum bahagia karena merasa suaminya lah yang tengah ia dekap saat ini.


Sesaat Renata tersadar saat Aiden merangkak menarik kakinya. Dia melihat bayi laki-laki itu tengah mintak di gendong.


"Ouwh... Ini dia anak ayah, ya. Sini sayang," seru Renata seraya menggendong anaknya itu.

__ADS_1


Tidak apa-apa mereka menjalani hubungan yang tersembunyi seperti ini, asalkan ia bisa memiliki Liam dan kebahagiaan mereka seperti sekarang. Mungkin ini merupakan bayaran yang layak untuk kebahagiaan sesempurna ini.


BERSAMBUNG....


__ADS_2