Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Sampai Di Tempat Tujuan


__ADS_3

Sepanjang perjalanan Lidya banyak bercerita, Liam hanya menjadi pendengar yang baik. Lidya ternyata sangat ramah dan supel. Pantas ayahnya bisa nyaman dulu saat bersamanya. Dia pandai mencairkan suasana dan membuat orang nyaman saat bersamanya.


Dia bercerita tentang masa kecil Renata dan Rio. Lidya terlihat sangat antusias menceritakannya.


Tiba-tiba Liam tertarik tentang sesuatu.


"Bagaimana awal kenal papa?" Tanya Liam. Lidya menatap Liam. Ada seutas senyuman di wajahnya, setelah berfikir beberapa saat. Ia pun mulai menceritakan nya.


"Awalnya aku hanya ingin pergi melarikan diri saja. Aku dan ayah Renata menikah karena perjodohan, tidak ada cinta diantara kami. Walau pun begitu, pernikahan kami tetap bertahan hingga belasan tahun. Sepanjang penikan kami, aku sering kali mencoba pergi. Tapi selalu di paksa untuk kembali. Karena tidak punya tempat untuk aku pergi, aku pun selalu kembali. Tabiat kasar ayah Renata benar-benar membuat aku tidak tahan. Berkali-kali aku mengadu, tapi sepertinya tidak ada yang peduli. Dengan alasan dia adalah laki-laki mapan yang tidak mungkin aku bisa dapat kan lagi nantinya. Walaupun dia kasar, ayah Renata tidak pernah mengkhianati aku. Dia setia dan jika urusan uang, aku mendapatkan nya lebih. Hanya saja temperamen nya sangat buruk, itu yang membuat aku tidak tahan ingin pergi," cerita Lidya. Liam masih setia mendengarkan nya. "Sampai suatu hari usaha ayah Renata bermasalah. Segala upaya dia lakukan, tapi aku tidak peduli. Dia berusaha keras memperjuangkan usahanya dan di tengah perekonomian kami yang sulit, aku tetap berfoya-foya seperti biasa. semua orang menyudutkan aku, aku tidak tahan dan memutuskan untuk pergi. Belum sempat aku pergi. Tiba-tiba dia sudah jatuh pingsan. Aku mendapatkan kesempatan untuk pergi. Aku membawa semua isi brankas juga paspor ku. Aku membawa semuanya tanpa perduli padanya yang tengah sekarat di hadapanku. Aku hanya memikirkan diriku saat itu. Aku hanya ingin bebas, hanya itu yang aku pikirkan. Saat itu lah aku bertemu dengan ayahmu. Kami sama-sama 2 orang yang merasa tidak di hargai pasangan. Kami menjadi sangat mudah untuk dekat, karena latar masalah kami yang sama. Saat hubungan kami semakin dekat, ibumu datang kembali dan dia mulai ingin memperbaiki hubungannya dengan ayahmu. Tentu aku tidak terima, dia datang dan dengan mudah mengatakan aku merusak rumah tangga nya. Padahal dia sendiri yang merusaknya. Aku hanya memungut apa yang dia buang. Akhirnya aku berpikir, aku tidak mungkin menang melawan Anin, aku meminta bertemu dengan ayahmu. Saat itulah aku merencanakan semuanya. Aku hanya ingin memberikan ibumu pelajaran agar dia tidak seenaknya. Aku pun hanya menyebarkannya pada Anin, kau dan kakakmu, tapi tampaknya itu menyebar saat ibumu menceritakannya pada orang lain. Itu awal Mulanya menyebar dari mulut ke mulut. Akhirnya semua jadi sangat kacau. Saat itu lah pertama kali nya aku merasa kehilangan suamiku. Saat itu baru aku sadari, dia adalah laki-laki yang baik padaku. Walau tabiatnya kasar, tapi dia tidak pernah mengkhianati aku, dia juga menafkahiku dengan layak. Aku hanya terlalu sibuk memikirkan diriku saja saat itu, hingga aku buta dengan cintanya. Aku mulai menyesal dan hidup dalam pelarian," kenang Anin. Liam hanya terdiam mendengar ceritanya sambil terus menyetir. "Aku juga sangat menyesal sudah melakukan itu pada keluargamu. Bagaimana pun ayahmu adalah laki-laki paling lembut yang pernah aku temui. Karena itu aku sangat menyukainya. Dia mirip denganmu, sangat baik pada siapapun. Bahkan dengan orang seperti aku pun, kau masih mau menerimanya," puji Lidya tulus. Liam hanya tersenyum tipis. Tidak terasa hari semakin siang, dan mereka mulai merasa lapar.


"Kita makan siang dulu!" ajak Liam. Lidya pun mengangguk setuju. Mereka makan di salah satu warung nasi sederhana di pinggir jalan.



Lidya menatap Liam yang duduk di hadapannya sekarang. Mereka seperti ibu dan anak yang tengah bersama. Liam yang sadar tengah di tatap pun menatap risih Lidya.


"Apa kamu sudah menelepon, Renata?" tanya Lidya.


"Belum, tunggu aku telfon dulu," ucap Liam lalu beranjak dari posisinya dan segera menelpon Renata.


__ADS_1


Lidya menatap punggung Liam yang tengah berjalan mencari jarak untuk menelpon.


"Dia laki-laki yang baik. Tidak apa-apa, aku akan pergi. Semoga tuhan selalu menjaga apa yang kamu perjuangkan, nak. Terimakasih sudah menjaga putriku dengan begitu gigih walau kelihatannya dia tidak paham kalau dia tengah di perjuangkan lelaki sebaik ini," gumam Lidya.


Tidak lama pesanan mereka pun datang. Liam masih menelpon. Sepertinya dia tengah Video Call bersama anak istrinya. Para pelayan warung itu sudah mulai menyajikan makanan mereka.


"Anaknya itu, buk?" tanya salah seorang pelayan yang tengah sibuk menyajikan di tengah kesibukan mereka menyajikan makan di meja Lidya.


"Iya, anak menantuku. Kenapa? tampan, ya? iya, anakku beruntung mendapatkan laki-laki sebaik dan setampan dia," ucap Lidya dengan nada bercanda. Itu membuat mereka berdua terkekeh.



"Apa Aiden tidak rewel?" tanya Lidya mencairkan suasana.


"Tidak. Di rumah juga ada Lusi. Lusi mungkin akan menginap bersama Renata. Tadi juga ada tante Ana datang," terang Liam dengan seutas senyuman. Lidya pun membalasnya dengan seutas senyuman pula.


Selanjutnya mereka sibuk dengan makanan mereka tanpa banyak terlibat pembicaraan.


Selesai makan mereka segera melanjutkan perjalanan mereka.


Setelah beberapa jam perjalanan akhirnya mereka sampai ke sebuah perkampungan yang cukup asri. Hawa dingin mulai terasa. Liam segera mengenakan jaketnya.

__ADS_1



"Aku pernah ke sini beberapa tahun lalu. Saat itu aku bimbang akan pulang atau pergi lagi. Akhirnya aku putuskan untuk pergi, karena aku merasa malu untuk pulang," terang Lidya. Liam menatapnya, Liam merasa sekarang Lidya tengah berada di dalam penyesalan yang teramat dalam. Dari semua ceritanya dia terdengar tidak sedang mencari pembenarannya. Itu menandakan dia tengah ingin di ampuni.


"Maaf, ya!" gumam Liam tiba-tiba.


"Untuk apa?" tanya Lidya tidak mengerti.


"Aku merasa seperti akan mengusir mu," ucap Liam merasa bersalah.


"Tidak, aku yang harusnya berterimakasih. Kau sudah memberikan aku izin menemui cucu dan anakku, bahkan sekarang mengantar aku melunasi hutang-hutangku dan membayarnya. Kau orang yang baik," Senyum terukir indah di wajah Lidya, seolah-olah beban yang selama ini di pikul nya sudah sedikit berkurang.


***


Di lain sisi tanpa Liam ketahui, Anin sedang mempersiapkan kepulangan kejutannya. Dia sedang membereskan semua barang-barangnya bersiap akan kembali ke Indonesia.


"Nenek sudah kangen sekali sama Aiden, sayang," gumam Anin di kamar hotelnya seraya menatap potret Aiden di layar ponselnya.



BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2