Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Curiga


__ADS_3

Pagi ini Renata dan Liam bangun hari sudah cukup terang. Renata sempat kaget dan linglung saat baru bangun dan dia kaget saat mendapati Liam ada di sampingnya tidur semalam bersamanya. Tapi beberapa saat kemudian dia tersadar bahwa mereka sudah menikah. Renata menatap cincin yang melingkar di jari manis mereka. Lalu ia pun mencium kening suaminya yang tengah tertidur pulas di sampingnya itu.


Renata pun bangkit dan keluar kamarnya karena dia tiba-tiba merasa lapar. Diapun turun untuk makan. Selesai sarapan dia kembali ke kamar dan Liam masih tampak pulas. Renata pun menghampirinya.


Renata mengelus wajah Liam lembut dengan telunjuknya. Itu membuat Lian bereaksi, dia membuka matanya berlahan dan mendapati Renata di hadapannya dengan seulas senyum manisnya.


"Jam berapa?" tanya Liam.


"Jam 9," jawab Renata singkat. "Dari tadi aku nungguin kamu bangun tapi nggak bangun-bangun," ucap Renata. Sedangkan Liam sekarang berlahan mencoba untuk duduk dan menatap istrinya itu.


"Yang lain mana?" tanya Liam.

__ADS_1


"Mereka udah pergi, cuman ada om Satya sama om Budi yang baru datang di kamar sebelah. Yang lain udah pergi jalan-jalan," terang Renata.


***


Di sebuah kafe tampak Anin dan Ana sedang bercengkrama. Menikmati makanan ringan dan minuman di kafe dekat dengan hotel tempat mereka menginap.


"Mbak, kamu nggak ngerasa terlalu cepat nggak sih nikahin Liam sama Renata? Baru aja beberapa bulan mereka pacaran kamu udah main nikahin aja. Bukan nya apa ya, Mbak. Kamu itu kan susah kalo cocok sama orang, takutnya nanti kamu malah nggak cocok sama si Renata. Atau Liam nya sendiri yang nggak cocok, berhubung mereka kenalannya juga singkat," ungkap Ana.


"Tapi, An. Mbak itu kok liat Renata kepikiran Mauren, ya. Garis wajah mereka itu seolah mirip sekali. Mbak kadang akhir-akhir ini suka mimpi Mauren datang di hidup kami lagi. Terus dia seolah menghantui aku sama Liam lagi," ungkap Anin dengan memejamkan mata ngeri mengingat mimpinya yang sering hadir di tidurnya akhir-akhir ini. "Dia momok yang menakutkan buat aku, An" ungkap Anin pada kekhawatiran nya.


"Itu cuman ketakutan, Mbak aja. Jangan di pikirin lagi, Mbak. Mbak harus belajar ikhlas sama yang sudah terjadi," nasehat Ana pada kakaknya itu. "Lebih baik Mbak cari pengganti mas Frans. Biar luka hati mbak juga bisa sembuh." Itu sontak membuat Anin tersedak mendengarnya.

__ADS_1


"Apaan sih kamu, An. Mbak itu sudah terlalu tua buat mikirin itu. Lebih baik Mbak ngurusin anak Liam nanti dari pada repot ngurus suami lagi. Apa lagi nanti kalo calon Mbak bawak anak! lebih repot lagi, An," tolak Anin yang seperti merasa geli bila harus memikirkan pernikahan di usianya sekarang. Jauh di lubuk hatinya Frans masih kuat bersemayam di sana, tidak ada yang dapat menggantikan nya sampai saat ini.


***


Di lain sisi Arman hanya termenung sepanjang hari semenjak kepulangannya dari pernikahan Renata dan Liam kemarin. Dia tidak keluar kamar nya seharian. Pamannya tampak khawatir, yang memang Arman sekarang masih tinggal bersama keluarga pamannya.


" Nggak keluar kamar dia dari kemrin, Mas," Adu istri pamannya.


"Aku ndak suka sama keluarga Renata ini, suka kasih orang harapan, trus di tinggal gitu aja. Emang keluarga yang kacau, lihat Renata itu entah di mana sekarang ibunya Si Lidya. Ninggalin mereka dari kecil sampe sekarang. Dulu kan juga ada kabar kalau dia rebut suami orang, rame orang-orang ngomongin dia," ungkap istri pamannya Arman.


"Sstt... Ndak usah ikut campur urusan keluarga orang lain. Ndak baik, nanti gusti Allah marah, kita yang kuwalat," tukas suaminya yang membuat dia langsung terdiam.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2