
Saat Renata dan ibunya tengah asyik mengobrol, Liam turun. Dia masih terlihat kusut karena memang baru bangun.
Renata dan Lidya menatap kedatangan Liam. Dia menuju sofa dan duduk di sana. Ada rasa sedikit canggung di hati Liam untuk duduk di pantry bersama Renata dan ibunya.
"Kamu mau sarapan sekarang?" tanya Lidya tanpa memanggil nama Liam atau dengan embel-embel apapun, karena memang hubungan mereka yang masih kaku.
" Iya, nanti!" ucap Liam masih serak dan tanpa menoleh pada Lidya, dia sibuk menonton TV, sedang mengutak-atik channel televisi.
"Masih sakit, Li?" tanya Renata seraya menghampirinya, dan memeluknya dari belakang.
"Dikit," gumam Liam yang masih sibuk dengan Chanel televisi nya.
Liam tiba-tiba ingat sesuatu, dia menoleh kebelakang kearah Lidya.
"Hari ini saja kita perginya!" tawar Liam pada Lidya.
"Tapi kamu kan masih sakit," sahut Lidya. Itu membuat Renata penasaran.
"Kemana?" tanya Renata penasaran.
"Ke tempat teman Mama, buat mengembalikan uang yang Mama pinjam, Re. Liam bilang uangnya sudah ada," terang ibunya. Membuat Renata menatap Liam dalam. Dia tidak percaya ini, Liam benar-benar akan mengusir ibunya.
Dia tidak bisa menyembunyikan kekesalannya, suaminya benar-benar tidak menyukai ibunya. Begitu tidak sabar dia ingin mengusir ibunya dari kehidupan mereka.
__ADS_1
Renata yang sudah sangat kecewa pada Liam itu segera berlari kelantai atas. Liam yang tahu alasan kemarahan Renata segera menyusul Renata ke kamar. Sedangkan Lidya hanya bisa terdiam di posisinya. Dia segera mengalihkan dirinya dengan menyiapkan sarapan Liam di meja makannya.
Di kamar sedang terjadi pertengkaran kembali antara Liam dan Renata.
"Apa segitu nggak sabarnya kamu usir Mama aku, Li?" tanya Renata emosional.
"Re, sebentar lagi Mama aku pulang dari Malaysia. Kita harus cepat menyelesaikan ini. Sebelum kita terlambat. Kalau Mama aku mengetahui ini semua, rumah tangga kita bisa di ujung tanduk. Dan kita bisa di paksa untuk pisah. Siapa yang akan urus Aiden? Siapa yang akan biayain sekolah Rio, belum lagi tante Ayu kamu itu masih kesel sama kamu, nenek kamu itu juga sakit-sakitan. Kamu mau bergantung sama siapa lagi? Kamu pikir aku nggak mempertaruhkan apapun? Aku mempertaruhkan Mama aku, Re. Kalau dia tahu, maka dia akan ngerasa aku menghianati dia. Itu besar resikonya buat aku juga. Aku akan kehilangan kalian semua. Keluargaku," terang Liam membuat Renata terdiam dan hanya bisa menangis. Liam benar, semua yang Liam katakan benar.
"Tapi, Li. Mama aku kayaknya lagi sakit. Aku ngerasa Mama aku nggak akan lama lagi. Aku takut waktu Mama pergi, dia nggak akan aku lihat lagi. Semalam Aku lihat dia minum obat, dan dia juga kelihatan lemah. Mungkin sekarang dia tengah mengucapkan selamat tinggal sama kita. Liam, jangan pisahkan aku sama Mama aku, Li. Aku mulai bisa merasakan gimana rasanya punya ibu, dan aku sangat nyaman dengan itu. Aku takut kehilangan Mama aku, Li," ucap Renata dengan berlinangan air matanya. Liam berlahan mendekati nya dan memeluknya.
Dia tidak tega melakukan ini pada istri tercintanya, tapi dia benar-benar tidak punya pilihan lain. Lebih lama bersama Lidya seperti menyimpan bom waktu baginya, sewaktu-waktu dia bisa meledak kapan saja dan menghancurkan semuanya.
"Re, apa aku punya pilihan? Seandainya ada pilihan lain, pasti akan aku lakukan. Tapi hanya ini pilihan yang dapat kita pilih sekarang," gumam Liam mencoba meyakinkan Renata.
***
Setelah berhasil meyakinkan Renata Liam pun segera mandi dan bersiap akan sarapan. Mereka sarapan berdua, Aiden tengah di gendong oleh Lidya. Sedangkan Liam dan Renata sarapan berdua.
Lidya menatap anak dan menantunya itu, dia pun tersenyum.
'Aku akan pergi dengan tenang, anakku sudah berada di tangan yang tepat,' batin Lidya dengan Aiden yang berada di pangkuannya.
***
__ADS_1
Selesai semua Liam dan Lidya pun bersiap akan pergi. Renata menatap kepergian dua orang tercintanya. Suami dan ibunya, dia menatap punggung keduanya. Sungguh dia tidak rela kehilangan diantara keduanya. Sebelum masuk mobil Liam menatap Renata dengan seulas senyuman tipis.
Dengan mobil BMW nya Liam pun berangkat bersama Lidya.
(BMW 330i M Sport)
(OOTD Lidya / Mauren)
Di perjalanan Liam dan Lidya lebih banyak diam dan tidak banyak terlibat obrolan. Lidya sebenarnya sudah sejak tadi mencari waktu yang tepat untuk bicara, tapi karena hubungan canggung mereka membuat Lidya tidak mudah menemukan momentumnya. Saat dia rasa sudah waktunya dia pun bicara.
"Maaf, aku merepotkan," ucap Lidya membuka obrolan mereka. Liam menoleh sekilas dan tersenyum canggung. "Aku akan pergi setelah ini. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi," ucap Lidya ragu. Liam mulai serius mendengarkan ucapan Lidya. "Aku menderita diabetes kering. Itu membuat aku tidak kuat untuk bekerja terlalu keras. Saat aku di Thailand aku mengetahuinya. Saat itu aku mulai berpikir untuk kembali, tapi aku malu, karena saat aku pergi aku membawa uang warisan Renata dan Rio kabur. Aku merasa harus mengembalikan uang itu sebelum aku kembali, setidaknya aku masih punya muka untuk pulang jika aku bisa mengembalikan uang mereka. Tapi saat aku bekerja aku mengetahui kalau aku sakit. Aku sudah bekerja keras, tapi uang nya tidak juga kunjung terkumpul, karena sakit ku membuat aku tidak bisa bekerja terlalu lelah, sehingga membuat aku sering di pecat dari pekerjaanku. Aku putus asa, dan memutuskan untuk tidak kembali. Suatu hari ada orang yang mengajakku berinvestasi seperti tanam saham, karena aku mengenalnya, aku pun mempercayainya. Aku berinvestasi dengannya, aku menyerahkan seluruh uang yang aku punya dengan harapan akan bisa mendapatkan lebih nantinya. Awalnya dia mengembalikan uang ku dalam bentuk keuntungan bulanan. Tapi suatu hari dia meminta tambahan modal, sedangkan aku sudah tidak punya uang lagi. Jadi aku meminjam uang sana sini untuk tambahan modal investasi ku. Aku berjanji akan mengambilkannya segera. Salah satunya uang orang yang akan kita kunjungi ini. Dia sangat baik mau mempercayai aku. Tapi, aku malah di tipu orang yang mengajakku berinvestasi itu. Awalnya aku tidak percaya dia menipuku, tapi setelah berhari-hari aku mencarinya dan tidak menemukannya, aku sadar dia sudah benar-benar menghilang. Saat itu lah aku merasa dunia ku runtuh. Harapan ku untuk kembali dan berobat musnah. Sedangkan orang yang memberikan aku pinjaman pun membutuhkan uang, anaknya sakit dan membutuhkan uang itu segera. Karena dia tidak memiliki suami tentu dia mengandalkan uang itu untuk mengobati anaknya. Tapi aku tidak bisa mengembalikan nya. Akhirnya dia mempercayai ku untuk mencari pinjaman hingga aku pulang dan mencari kalian. Apa lagi beberapa orang tempat aku meminjamkan uang juga mulai mengejar-ngejar aku dan aku ketakutan, mereka selalu mengancamku jika aku tidak mengembalikannya segera. Aku tidak tau harus meminta bantuan kepada siapa lagi. Makanya aku mencari Renata, tidak aku sangka akan bertemu denganmu lagi. Aku ketakutan saat melihatmu, tapi aku tidak punya pilihan. Hanya kau yang bisa membantuku. Tidak aku sangka kau akan mau membantuku. Dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Aku berjanji, aku akan pergi setelah mendapatkan uang itu. Setidaknya aku bisa mati dalam keadaan tidak berhutang lagi dan tidak dikejar-kejar mereka lagi. Sekarang kita akan mengembalikan uangnya dan aku bisa tenang," ucap Lidya panjang lebar.
"Maaf untuk semua yang sudah aku lakukan pada keluargamu, jika memungkinkan aku ingin minta maaf pada ibumu juga. Tapi kelihatannya itu tidak mungkin. Tidak apa-apa, setidaknya aku sudah mengatakannya padamu. Aku benar-benar menyesal. Alu tidak menyangka apa yang aku lakukan sudah membuat kakak dan ayahmu menjadi korbannya." Seulas senyum sendu terukir di wajah Lidya. "Anin benar, aku akan kehilangan sesuatu yang berharga suatu saat nanti. Ya, aku kehilangan kalian semua di usia senjaku. Saat nenek yang lain menggendong cucunya. Aku malah sibuk mencari tempat pelarian di usia senjaku," gumam Lidya penuh penyesalan.
Liam menatap Lidya dengan tatapan dalam dan sedih.
"Seandainya bisa, aku ingin kita semua bisa bersama," ucap Liam penuh sesal.
"Tidak apa-apa, yang penting kalian bahagia. Sekali lagi terimakasih untuk semuanya. Jaga baik-baik Renata dan cucuku," pesan Lidya yang membuat Liam semakin merasa bersalah.
__ADS_1
BERSAMBUNG...