
Setelah tertidur sebentar, Liam pun bangun dan mulai merasa lapar. Dia baru sadar kalau dia tadi langsung tertidur dan masih mengenakan stelan kerjanya yang lengkap.
Liam pun bangkit dan menuju kamar mandi bersiap mandi padahal jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sudah cukup telat untuk waktu makan malamnya malam ini.
Dengan tubuh menggigil seraya bersenandung kecil Liam mulai mencari pakaiannya di lemari besarnya itu. Matanya tertuju pada baju kaus hitam dan celana coklatnya.
Selesai berpakaian, Liam bersiap akan pergi lagi. Dia meraih handphone nya di atas ranjang. Tiba-tiba ia merasa rumah besarnya ini sangatlah sunyi. Dia melihat kesekeliling. Lampu luar rumahny masih tampak gelap. Hanya kamarnya yang ada lampu yang menyala.
Liam baru sadar jika ibunya masih belum pulang. Liam segera melihat handphonenya ternyata ada beberapa kali panggilan tidak terjawab, mungkin karena dia membuat handphonenya ke mode senyap hingga dia tidak sadar jika ada panggilan masuk.
Saat dia melihatnya sudah ada 2 kali panggilan tidak terjawab dari ibunya. Dia membuka pesan singkat dari ibunya itu. Ibunya memberi tahu akan ke Bandung dan besok baru pulang.
"Kebiasaan. Suka banget bikin gue kayak anak terlantar terus tiap hari. Baru aja tobat jadi ibu yang baik dan benar, sekarang mulai lagi kumat penyakit kabur-kaburannya," rutuk Liam seraya menyimpan handphonenya di kantong jaketnya, ia mengambil kunci mobil dan ia pun segera keluar untuk mencari restoran yang masih bukak di jam segini.
Setelah berkeliling sebentar, ia pun menemukan sebuah restoran yang masih buka. Restoran yang terlihat cukup high kelas itu sudah sering jadi langganan Liam untuk makan. Dia masuk dan mencari kursi kosong. Mungkin karena restoran ini cukup mahal, hingga tidak banyak pelanggan yang datang. Apalagi hari juga sudah cukup larut.
Setelah mendapatkan posisi yang pas. Dia segera memesan beberapa menu makanan. Dia menunggu pesanannya sambil berbalas chat dengan Renata. Sekedar untuk membina hubungan mereka yang tampaknya mulai terlihat membaik akhir-akhir ini. Liam yang sudah mulai mendapatkan lampu hijau dari Renata tidak tinggal diam, dia segera memanfaatkan itu sebaik mungkin. Lagian dia juga tengah sangat merindukan anaknya.
__ADS_1
Liam seolah mulai lupa dengan permintaan ibunya untuk segera menceraikan Renata.
"📞Anak aku mana?" tanya Liam.
"📞Udah tidur," jawab Renata singkat dengan sebuah foto.
Liam tersenyum melihat foto Aiden yang tengah terlelap tidur. Liam pun mengirim foto menu makanannya yang baru di hidangkan pada Renata dengan caption.
Sontak membuat Renata tertawa membaca caption itu. Dia memang belum tidur karena masih mengerjakan skripsinya. Renata sekarang tengah di sibukkan dengan persiapan ujian skripsinya yang sudah lama tertunda itu. Dan sekarang ia mulai mengerjakan itu lagi.
Seketika senyum di wajah Renata hilang, dia juga merasa miris. Seharusnya dia lah yang bertanggung jawab untuk mengurus suaminya itu. Sekarang ia seolah bukanlah istri yang baik. Dia merasa cukup egois dengan tindakannya ini. Tapi apa boleh buat, saat ini dia tidak mungkin berani banyak berharap untuk bisa bersama Liam lagi.
Walau sebenarnya jauh di relung hatinya dia masih menyimpan dengan rapi cinta untuk Liam.
__ADS_1
"Hmmmhhh.... Kasian," gumam Renata yang juga merasa bersalah.
'📞Oh, lagi makan,' tulis Renata singkat.
'📞Padahal udah maksimal gini, masih juga di tinggalin. nggak ada yang urus,' tulis Liam iseng lagi. Dengan expresi wajahnya yang lucu.
Sekali lagi Renata terkekeh membaca chat suaminya itu. Dia merasa gemas dengan tingkah Liam dan meluahkannya dengan mencium Aiden yang tengah tertidur itu. Bayi 9 bulan itu pun jadi bergerak dari tidurnya karena di ganggu ibunya.
Liam selalu dapat menghiburnya dengan tingkahnya yang sangat menghibur itu.
'📞Udah ah. Aku ngantuk. Besok kerja lagi, terus mau ke kampus juga buat urus skripsi aku,' tukas Renata yang sudah mulai mengantuk dan mengakhiri chat iseng mereka.
Dia segera mengemasi semua dan bersiap akan tidur lagi. Sebelum tidur, ia menatap potret suaminya itu sekali lagi. Ada senyuman di wajahnya. Ia mengusapnya dan berlahan menciumnya.
"Maaf ya sayang," gumam Renata dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
...***...