Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Kontraksi Palsu


__ADS_3

Renata keluar saat ibunya sudah pergi. Renata pergi ke dapur menuju meja makan. Di sana sudah terhidang makanan yang terlihat lezat. Renata tersenyum melihatnya, walau ibunya menyebalkan tapi entah kenapa dia tetap merindukannya, terutama masakannya yang sudah belasan tahun tidak pernah ia cicipi.



Renata mulai mencicipinya dan benar-benar lezat di lidahnya, padahal sudah lama dia tidak makan selahap ini. Sejak dia hamil nafsu makannya berkurang karena selalu merasa mual.


Tanpa terasa dia hampir menghabiskan makanan itu, dia mulai panik saat menyadari dia tidak menyisakan nya untuk Liam. Renata beranjak dari duduknya dan melihat ke arah wajan di atas kompor. Renata langsung bernafas lega, ternyata ibunya masih menyisakan di wajan.


Renata tersenyum sekaligus meneteskan air matanya. Tiba-tiba entah apa yang ia rasakan tentang ibunya sekarang. Dia mulai tidak tau, apa dia harus membenci ibunya atau memaafkan ibunya.


...***...


Malamnya Liam pulang, Renata menyambutnya dengan gembira. Renata segera mengambil tas dan tabung gambar suaminya yang tampaknya sudah sangat lelah. Renata terus mengikuti langkah Liam menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Liam duduk langsung duduk di pinggir ranjang mereka. Terlihat jelas wajah lelahnya.


"Capek banget, ya?" tanya Renata seraya mengusap wajah suaminya. Liam mengangguk pelan dan balas mencium kening istrinya itu.


"Aku mau mandi dulu!" ucap Liam lalu beranjak menuju kamar mandi.


Renata pun segera menyiapkan makanan untuk suaminya di dapur. Ia menghidangkan makanan yang di masak oleh ibunya tadi. Selesai menghidangkannya Liam pun datang dengan wajah lebih segar karena baru habis mandi. Dia segera duduk bersiap untuk makan malam.


"Tumben kamu masak banyak gini?" tanya Liam seraya menikmati hidangan makan malamnya.


Renata terdiam dan hanya tersenyum, dia tidak berani mengatakan itu masakan ibunya. Liam akan marah jika tau ibunya datang ke kediaman mereka.


Liam melihat kearah istrinya sekilas, Renata tampak aneh.


"Kamu nggak makan?" tanya Liam.


"Aku udah tadi," ucap Renata seraya menikmati susu hangatnya. Liam tidak bertanya lagi dia terus menikmati makan malamnya dengan lahap.

__ADS_1


***


Selesai makan malam, Renata dan Liam duduk bercengkrama di ruang keluarga sambil menonton tv, Liam sibuk memindah-mindahkan channel televisi untuk mencari Chanel kesukaannya.


Sedangkan Renata tengah duduk bersandar di samping Liam dengan kakinya terulur di pangkuan Liam yang masih sibuk menonton televisi seraya mengusap kaki istrinya itu. Perasaan Renata merasa tidak enak jika harus menyembunyikan kedatangan ibunya tadi siang.


"Li!" seru Renata.


"Hmmm..." gumam Liam dengan tidak melepaskan pandangannya dari televisi.


"Tadi ... tadi siang, Mama aku kesini!" ucap Renata hati-hati. Liam langsung menoleh kearah Renata.


"Ngapain dia ke sini?" tanya Liam dengan tatapan serius dan penasaran ke arah Renata yang segera menurunkan kakinya dari pangkuan Liam.


"Nggak, kita cuman ngobrol," jawab Renata.


"Aku nggak suka Ibu kamu ke rumah kita terlalu sering tanpa alasan, Re. Jangan undang ibu kamu ke kehidupan kita. Kita harus jaga jarak sama dia, kecuali memang ada alasan penting baru dia boleh kesini, itu pun atas izin dari aku. Kalo kamu masih melanggarnya kamu bisa pilih aku atau dia. Aku akan penuhi mau ibu kamu, tapi dia tidak boleh masuk dalam hidup kita ... apalagi sebagai keluarga," ucap Liam tegas.


Entah kenapa Renata tidak menyukai reaksi Liam ini, walau dia sudah tau Liam pasti tidak menyukai ibunya masuk ke kehidupan mereka. Tapi Renata tetap tidak menyukai Liam yang seolah-olah ingin menyingkirkan ibunya secepat mungkin.


"Kamu tau betul alasan aku tidak menyukai ibu kamu kan, Re? Karena itu aku sekarang bekerja keras untuk mengumpulkan uang, agar ibu kamu bisa segera pergi dari hidup kita," seru Liam emosional dan untuk pertama kalinya Liam bicara tajam pada Renata, dan itu cukup mengagetkan Renata. Mereka berdua saling tatap dengan tatapan tajam.


"Dia ibu aku, kamu nggak bisa ingkari itu. Suka atau nggak suka dia ibu aku, seburuk apapun dia, dia tetap ibu aku," teriak Renata dan bulir bening itu pun menetes dari sudut mata Renata. Liam menatap Renata tidak percaya dia menggeleng dan membuang mukanya.


"Apa kita mulai tidak sepaham lagi sekarang, Re?" tanya Liam tajam lalu pergi ke kamar meninggalkan Renata yang langsung pecah tangisnya.


Malam itu mereka tidur dengan saling memunggungi satu sama lainnya. Tidak ada yang benar-benar tertidur baik Renata maupun Liam, mereka berdua tidak bisa tidur karena permasalahan ini.


Liam menarik nafas kasar lalu mengalihkan tubuhnya ke posisi terlentang dengan meletakkan telapak tangan kanan di bawah kepalanya. Dia menoleh kearah Renata yang masih memunggunginya. Dia tidak bisa tidur jika masih dalam keadaan bertengkar begini. Ingin rasanya ia memeluk istrinya itu, tapi rasa kesalnya masih besar pada Renata, hingga ia pun kembali memunggungi Renata dan mencoba untuk tidur.


Sedangkan Renata juga sama kacaunya dengan Liam, ia ingin mendekap suaminya. Dia tidak bisa tidur jika masih bertengkar begini. Dia menoleh kebelakang dan Liam masih dalam posisi membelakanginya, membuat dia kesal sendiri. 'nyebelin' rutuk Renata membatin.

__ADS_1


...***...


Pagi-pagi seperti biasa Liam bangun bersiap akan pergi kerja. Dia turun dan melihat Renata sedang menyiapkan sarapan di meja makan. Renata berjalan sambil menekan pinggangnya yang semakin hari semakin sakit.


Liam duduk bersiap untuk sarapan, mereka masih tampak mendiami satu sama lainnya. Tidak ada komunikasi ataupun sapaan, tidak ada yang mau memulainya terlebih dahulu. Mereka sarapan sambil sibuk dengan kesibukan masing-masing. Melihat Liam mendiami nya begitu membuat Renata merasa semakin kesal. Dia menatap tajam pada Liam yang masih sibuk dengan sarapan dan handphone nya. Renata menyendok makanannya ke mulut dengan kasar dan wajah yang tampak tertekuk karena kesal.


Sesaat kemudian Renata segera bangkit hendak mengambil minumnya yang habis, tapi tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit.


"Aww.... Perutku!" desahnya seraya menahan perutnya. Liam segera menoleh pada Renata dan secara reflek bangkit dari posisinya menghampiri Renata dengan perasaan khawatir.


"Kamu nggak papa?" tanya Liam panik sambil menyentuh bahu istrinya itu.


"Sakit!" gumam Renata seraya menahan perutnya, Liam jadi bertambah panik dan khawatir.


"Kita kedokter sekarang!" seru Liam panik.


Seketika ia lupa dengan kekesalannya pada Renata. Yang ada rasa khawatirnya. Liam segera membawa Renata menuju rumah sakit bersalin terdekat dengan perasaan yang campur aduk karena melihat Renata meringis kesakitan.


***


Sesampainya di rumah sakit, Renata segera di bawa ke ruang pemeriksaan. Dokter segera mengecek keadaan Renata. Dia tampak meraba perut Renata dengan sebuah stetoskop nya. Beberapa saat kemudian ia pun tersenyum.


"Ini di sebut sebagai kontraksi palsu. Biasa terjadi jika ibu dalam keadaan stress atau kelelahan. Karena itu ibu hamil di larang stress dan kelelahan. Ini tidak apa-apa, kalian boleh pulang sekarang, mungkin 3 atau 5 Minggu lagi istri bapak melahirkan, untuk sementara ibu boleh pulang," ucap dokter ramah. Liam jadi merasa bersalah pada Renata. Ia menatap Renata dan tertunduk.


Setelah mendapatkan resep obatnya, Liam dan Renata pun segera pulang.


Sesampainya di rumah Renata langsung ke kamarnya dan berbaring di sana.


"Aku telepon Mama ya biar nemenin kamu di rumah. Sebab aku ada kerjaan nggak bisa nemenin kamu," terang Liam. Renata mengangguk pelan.


Liam pun segera menelepon ibunya. Setelah menelpon ibunya Liam segera menemui Renata yang tengah berbaring di ranjang.

__ADS_1


"Aku nggak benci sama mama kamu, tapi aku takut kehadiran mama kamu nanti buat hubungan kita kacau. Mama aku pasti nggak akan terima. Kesalahan mama kamu terlalu fatal," terang Liam membuat Renata tertunduk. Liam panik melihat reaksi Renata karena takut Renata kembali stress. "Maksud aku ... kita butuh waktu buat jelasin ini semua sama mama aku. Nggak bisa kita tiba-tiba bawak mama kamu di depan mama aku," ucap Liam mencoba meluruskan. Renata tersenyum dan mengangguk, itu membuat Liam tenang. Dia mendekap istrinya itu dengan hangat.


BERSAMBUNG...


__ADS_2