Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Malam Yang Panas


__ADS_3

Perlahan Renata menggandeng tangan suaminya itu untuk ke kamar. Liam hanya mengikutinya tanpa sepatah katapun. Dia segera menutup pintu kamar itu. Dan tanpa banyak kata dia segera melingkarkan tangannya pada leher Liam dan mendaratkan kecupan hangat di bibirnya.


Itu membuat Liam kaget sekaligus senang, Renata sedang memberitahunya jika ia siap memulai hubungan mereka lagi. Walau tanpa kepastian. Dia sudah tidak perduli lagi, dia hanya ingin bersama suami dan anaknya. Dan malam ini akan ia buktikan tekadnya itu.


Liam yang menyadari kode itu langsung bereaksi. Dia membalas ciuman itu dengan sedikit Liar. Tangannya menahan kepala Renata dengan tangan yang lain meraba tubuh istrinya itu dengan berani dan berlahan mulai membuka pakaian isterinya. Berlahan melangkah ke ranjang tanpa melepas pagutan mereka.


Ia membaringkannya berlahan. Menyesap tiap tubuh indah itu dengan penuh perasaan cinta dan nafsu. Renata hanya pasrah dengan perlakuan suaminya itu. Mereka hanya ingin menikmati malam ini dengan cara yang lebih indah, melupakan sejenak batasan dan permasalahan mereka.


Renata membuka kancing baju suaminya hingga terlepas semua dan membuangnya begitu saja. Liam tersenyum melihat reaksi liar dan gila Renata. Dengan dia yang sudah tak mengenakan atasan segera membuka gesper sabuknya. Renata hanya menatapnya dengan tatapan sayu.


Mereka sekarang sudah benar-benar tidak mengenakan apapun, kecuali seutas selimut tipis yang masih mereka usahakan untuk menutupi tubuh mereka, walau pun tidak terlalu berfungsi karena mereka yang memang sudah seperti hilang kendali malam ini. Yang ada hanya hasrat untuk saling memuaskan satu sama lain, yang mana semakin kuat karena rindu yang mereka tahan sejak lama dan baru saat ini bisa mereka luahkan.


Namun mereka masih dalam kesadaran penuh untuk menyadari keberadaan Aiden yang tengah tertidur nyenyak di samping mereka.


Ruangan yang cukup sempit dan hanya ada kipas angin sebagai pendingin ruangan sangat tidak cukup untuk menyejukkan mereka. Tapi tetap tak menghentikan hasrat mereka yang terus menuntut lebih.

__ADS_1


Liam menghantikan cumbuannya, ia menatap Renata seolah meminta persetujuannya untuk hal yang lebih lagi. Renata tersenyum seolah paham dengan sikap sopan suaminya itu.


"Aku milikmu, sayang," bisik Renata penuh hasrat yang menggoda.


Liam menyunggingkan senyumnya. Dan berlahan mereka benar-benar dalam hubungan intim yang sebenarnya. Diawali dengan ritme lembut yang membuai.


Terdengar lenguhan dari Renata yang membuat Liam semakin berhasrat untuk menikmati malam ini. Hingga semakin menjadi tak terkendalikan lagi, membawa mereka ke perasaan di awang-awang. Ia mengusap lembut wajah istrinya dengan tanpa menghentikan aksinya. Ia pun tersenyum.


Renata tidak ingin permainan ini cepat berakhir, ia segera ambil alih permainan itu agar imbang, tak ada yang mendominasi. Mereka menikmatinya dengan penuh kehangatan. Meski keringat yang membanjiri tubuh mereka membuat mereka seperti di sebuah sauna. Tapi tak menghentikan kegilaan nafsu mereka.


Cukup lama Renata dengan permainannya. Ini harus segera di tuntaskan. Liam membalikkan keadaan dan sekarang dialah yang ambil kendali. Dengan kegilaan yang semakin menggila itu membuat mereka tidak bisa menahannya lagi. Dan menumpahkan semua hasrat mereka berdua bersamaan. Dengan nafas yang memburu mereka berpacu dengan hasrat yang semakin menggila.


Dan setelah itu dia terkulai melemas, tapi suaminya masih dengan permainannya, Dia hanya bisa mengikuti alur permainan itu saja dengan pasrah, sudah cukup lelah baginya untuk bermain lagi. Hingga ia merasakan sesuatu bersamaan dengan Liam yang juga memejamkan matanya seolah merasakan hal yang sama dengan yang ia rasakan barusan.


Sungguh sesuatu yang luar biasa mereka lalui malam ini. Sebuah kecupan hangat Liam di kening istrinya itu sebagai penutup dari percintaan mereka malam ini.

__ADS_1


Liam masih di posisi menindih tubuh Renata, rubuh lemas menindihnya. Ia masih belum melepasnya. Mereka melepaskan semuanya hingga benar-benar menguras tenaga mereka.


"Li, berat, ih," seru Renata. Liam mengangkat tubuhnya dan tersenyum. Renata menyeka keringat di wajah suaminya itu. Terlihat sangat seksi dan menawan. Dan ia melepaskan istrinya dengan sebuah kecupan hangat di keningnya sekali lagi, seolah sebuah ucapan terimakasih karena sudah mau menerimanya kembali dan merebahkan tubuhnya di samping Renata.


Aiden masih tertidur pulas, mungkin karena obat Paracetamol yang di minumnya membuat dia tertidur pulas dan tidak menyadari apa yang di lakukan ayah dan ibunya.


Renata tidur di bahu suaminya itu yang masih tampak lemas.


"Li, gimana kalo aku hamil?" tanya Renata yang seolah baru sadar. Dia menggigit kukunya khawatir dengan tatapan yang tak kalah khawatirnya. Liam menatap wajah istrinya yang hanya beberapa milimeter dari wajahnya itu. Lalu dia tertawa dengan suara pelan.


"Aku nggak mau hamil sebelum hubungan kita pasti dulu, Li," ucap Renata lagi.


"Kamu yang mancing aku tadi," ucap Liam seolah tidak mau tanggung jawab.


"Kamu kok gitu, sih?" ucap Renata kesal.

__ADS_1


"Udah lah. Sekali cuman," ucap Liam malas membahasnya karena sudah mengantuk dan mengalihkan tubuhnya membelakangi Renata. "Paling pagi besok lagi sekali kalo nggak dua kali," celetuk Liam lagi yang sontak membuat bantal melayang ke wajahnya. Pastinya itu adalah perbuatan Renata yang kesal. Sedangkan Liam hanya terkekeh dan tertidur dengan hanya seutas selimut tipis yang menyelimuti tubuhnya.


BERSAMBUNG...


__ADS_2