Izinkan Aku Mencintainya Ibu

Izinkan Aku Mencintainya Ibu
Hari Pernikahan Semakin Dekat


__ADS_3

Hari yang di tunggu pun tiba, keluarga Liam benar-benar datang melamar Renata. Nenek Renata menyambutnya dengan suka cita atas kedatangan keluarga besar Liam dalam rangka melamar cucunya Renata. Dia tidak menyangka Renata akan mendapatkan jodoh laki-laki sehebat Liam, begitu pula anggota keluarga yang lain. Mereka ramai membicarakan sosok Liam yang tampan dan mapan calon Suami Renata itu. Semua berjalan lancar hingga acara selesai dan penempatan tanggal pernikahan pun sudah di tentukan.


Hanya Ayu yang tampak tidak begitu senang. Dia terlihat gelisah dan kesal. Betapa tidak, pernikahan Renata dan Liam akan sangat berpengaruh padanya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena semua anggota keluarga mendukung hubungan Renata dan Liam. Dia tidak tahan di sana lama-lama hingga dia pergi ke kamar dan di susul oleh suaminya.


"Mas, kita akan kehilangan proyek kita kalo kayak gini. Mereka benar-benar ngelamar Renata," umpat Ayu di kamarnya. Suaminya masih tidak habis pikir dengan sikap Ayu yang di nilainya egois, dia ingin memaksakan Renata menikah dengan Arman demi kepentingannya sendiri.


"Udah ah, aku mau keluar aja," ucap suaminya lalu beranjak keluar meninggalkan istrinya di kamar sendirian. Sesaat kemudian Ayu pun menyusul suaminya keluar.


Saat di tengah acara lamaran yang hikmat itu dengan pertemuan 2 keluarga besar. Tiba-tiba Ayu mendapatkan telfon dari ibunya Arman. sontak itu membuat nya menjadi pucat pasi. Ia segera kembali ke kamar untuk menerima telpon itu.


"Halo Jeng?" sapa Ayu seramah mungkin pada ibunda Arman di seberang sana.


"Nggak usah basa-basi deh, Yu. Apa benar Renata di lamar pacarnya? Aku dapat berita tadi. Aku malu, Yu. Kamu bilang setuju kalau Arman nikah sama Renata, tapi kenapa nerima lamaran orang lain, sih? Saya benar-benar kecewa sama kamu, Yu. Ini masalah harga diri keluarga kita, omongan udah kemana-mana kalo Renata sama Arman itu akan nikah, tapi sekarang malah nikah sama orang lain lagi," bentak ibunda Arman penuh emosional dari seberang sana. Ayu tidak mampu berkata-kata lagi. Dia kehilangan kata-katanya sekarang. Ini membuat dia hampir gila memikirkannya.


"Kamu sih, cari masalah, Yu. Sekarang nggak usah nyalahin siapa-siapa. Ini kesalahan kamu," ucap Suaminya yang ternyata mendengar percakapan dia dan ibunda Arman barusan.


...***...

__ADS_1


Berhubung permintaan khusus dari keluarga Liam, maka pernikahan mereka pun akan di laksanakan di Jakarta. Semua ke riwehan mereka dalam menyiapkan pernikahannya pun mulai terasa. Seperti Hari ini Renata dan Anin berencana menemui desainer pakaian pengantinnya. Sebelum itu mereka mampir ke bukti ibunda Liam Anin terlebih dahulu, karena ada beberapa urusan yang harus Anin selesaikan segera di butiknya.


Hari itu Renata di mintai Anin untuk menemaninya di butik. Di sana Renata sangat antusias melihat hasil desain gaun Anin. Saat dia melihat harganya, itu membuat dia semakin terkejut. Tidak ada yg kurang dari 2 jutaan. Itu membuat nyali Renata ciut seketika untuk menyentuhnya. Dia berlahan menjauhi gantungan baju-baju itu berlahan dan duduk di salah satu sofa di sudut ruangan tersebut. Tepat saat ada seorang pelanggan Anin yang datang, dia segera ke dalam dan di sambut para pelayan dengan ramah. Melihat perlakuan istimewa itu membuat hati Renata tergelitik untuk bertanya pada salah satu karyawan di sana.


"Dia siapa?" Tanya Renata.


"Itu artis mbak, masak mbak nggak tau," Terang si karyawan ramah.


"Hmmm... Jarang nonton TV," ucap Renata seraya tersenyum nyengir, si karyawan hanya terkekeh mendengarnya.


"Dia itu lagi naik daun Lo, mbak Rere. Dia selalu pesan baju di sini, makanya dia jadi tamu VIV kita. Kalo pelanggan VIV ada ruangan khusus, Mbak. Biasanya mereka nggak mau pake baju yang pasaran, jadi mereka minta desain khusus. Makanya dia di istimewa kan, Mbak. Harga baju yang di ruangan VIV itu bisa berkali-kali lipat lagi dari yang ini, Mbak." Terang si karyawan membuat Renata membelalakan matanya.


"Bisa 30 - 80 jutaan, Mbak," terang si karyawan membuat Renata terbelalak tidak percaya jika ada orang yang mau membayar sebegitu mahal untuk seutas gaun.


Tidak lama tampak Anin datang menemui Renata dengan seulas senyuman manis yang merekah di bibir manisnya. Mereka pun langsung pergi menuju tempat butik desainer gaun pengantin yang di maksud Anin. Di sana mereka di sambut dengan sangat baik oleh pemilik butik sekaligus perancang gaun pengantin Renata.


"Cantik ya jeng Anin mantunya, jarang ada di Jakarta perempuan cantik yang polos kayak gini, yang ada hasil permak semua," rumpi si pemilik butik yang tampak suka bergosip itu.

__ADS_1


Benar saja, sepanjang sesi fitting baju itu dia terus bergosip dengan gaya lentiknya yang ceria itu.


***


Selesai dengan acara fitting bajunya, Renata di jemput Liam untuk mengurus data kelengkapan surat nikah dan izin nikah mereka. Renata menyambut kedatangan calon suaminya itu dengan senyuman bahagia.


Di mobil dalam diam Anin mengecek data milik Renata, dia melihat nama ibu Renata, entah kenapa batinnya selalu mencurigai Renata. Dengan hati berdebar, dia membuka berkas tersebut. Terlihat nama ayah dan ibu Renata di sana.


Nama ibu nya tertulis jelas LIDYA SUKMADEWI, itu membuat Anin bernafas lega. Setidaknya rasa curiganya tidak terbukti.


"Semua datanya ini udah siap, Li?" tanya Anin dengan masih memegang berkas di map kuning itu.


"Udah, Mah," jawab Liam singkat sambil menyetir dengan Renata di sampingnya sedangkan Anin duduk di bangku belakang.


Tidak lama mereka pun sampai sedangkan Anin sudah kembali ke butiknya, hanya Liam dan Renata yang pergi ke KUA. Mereka di sambut para petugas dengan ramah disana. Mereka di beri tahu perihal pernikahan dan nasehat-nasehat singkat tentang pernikahan.


Liam dan Renata tampak sangat bahagia menyambut pernikahan mereka ini.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2