
Tak...
Tak...
Tak...
Suara sepatuku beradu dengan jalanan di gang sempit ini, terdengar lantang ditengah kesunyian malam. Sementara dari ujung gang, tepat dikontrakan pintu kedua paling akhir, pria kurus, rambut gondrong dengan wajah tak terawat terus meneriaki namaku, mengeluarkan sumpah serapah dari mulut baunya itu.
"Rayaaaaa!"
"Brengsek!"
Rumah-rumah tetangga tampak tertutup rapat, tak ada yang ingin membantuku sama sekali, atau sesungguhnya mereka juga bosan menyaksikan adegan ini, seperti menonton tayangan ulang sinetron "Ku menangis" yang diputar setiap hari.
Nafasku terengah satu-satu, sementara air mata tak tau lagi sudah berapa liter mengalir dari sudut mata ini. Dadaku seperti dihimpit ribuan ton batu, terasa sempit dan menyesakkan. Sejujurnya, aku lelah, teramat lelah, aku sudah tidak sanggup lagi ya Tuhan, aku ingin menyerah, aku ingin mengakhiri segalanya.
Kupandangi air sungai yang mengalir deras tepat dibawah jembatan dimana aku berdiri saat ini. Mataku merabun sebab sisa genangan air mata masih bertengger disana. Episode demi episode memilukan dalam hidupku seolah terputar otomatis dikepala, sialnya itu malah membuat keinginan untuk mengakhiri hidup semakin menjadi-jadi.
Aku melangkah sedikit mendekat ke arah pagar besi jembatan yang hanya sebatas pinggangku. Sekali lagi menoleh ke air yang seolah berseru memanggil-manggil namaku dengan girangnya.
Kemari!!! Ayo terjun,,
Kau tidak berguna!!
Ikutlah bersama kami, dunia tak adil untukmu bukan?
Ayo?!
__ADS_1
Ku hela nafas panjang, aku benar-benar ingin mati kali ini. Yah, dengan begitu semua penderitaanku akan lenyap, lenyap sekalian dengan akunya juga.
Aku menoleh kiri kanan, memastikan tidak ada orang lain selain diriku disana, jalanan lengang. Pria itu, tidak, maksudku abangku ternyata tidak mengejarku atau sebenarnya memang tidak berniat untuk mengejarku setelah mendapatkan apa yang dia inginkan. Yah, pria brengsek yang dengan berat hati harus kuakui sebagai kakakku itu telah merampas seluruh tabunganku, hasil jerih payahku bekerja berbulan-bulan untuk membayar uang semester kuliah yang seharusnya ditransfer besok. Tidak puas, ternyata dia masih juga ingin mengincar cincin satu-satunya peninggalan eyang.
Hari sudah menunjukkan pukul 12 malam, tidak banyak orang yang lewat di jembatan kecil ini, selain dedemit, kuntil anak, dan para kolega nya. Entah untuk keberapa kali aku menghembuskan nafas. Apakah aku berharap akan ada seseorang yang menghentikan aksi nekat ku ini. Sepertinya tidak ada... Aku tidak akan nekat untuk loncat ke jembatan hanya karena uangku dirampas, bukan, bukan itu saja. Tapi masalahku sudah sangat complicated, hingga membuatku berfikir bahwa inilah jalan terbaik.
Lahir dari keluarga yang berantakan dengan masalah disana sini, kehidupan ekonomi pas- pasan, ibu yang banyak hutang, serta ayah yang seorang mucikari. Tidak cukup sampai disitu, abang juga ikut - ikutan menambah beban dengan hobi mabuk-mabukan dan merampas barang, seharusnya kesemua itu membuatku menjadi tangguh, tahan banting. Dan itu memang sudah kulakukan sejak dulu, lantas mengapa malam ini menyerah? jawabannya karena aku sudah tidak sanggup lagi. Segala sesuatu memiliki titik *******, titik didih, titik beku, dan jika telah mencapai titik tersebut maka hanya akan ada dua kemungkinan, terhenti atau meledak.
Untuk kesekian kali aku menoleh ke arah jalanan. Masih sama, sunyi dan lengang. Mataku terpejam dengan bibir mengatup rapat. Ada banyak alasan seseorang ketika memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Salah satu dari banyak alasan itu adalah karena ia tidak menemukan adanya harapan diantara banyaknya masalah yang membelit hidupnya saat ini. Aku sangat berharap kali ini ada yang menarik tanganku, memeluk dan mengatakan kalau semuanya hanya mimpi, atau sesungguhnya masih ada harapan dan besok ketika terbangun, semua ternyata tak nyata. Tapi harapanku rupanya hanya bentuk dari kesia-siaan saja. Tidak ada satupun yang ingin menghentikan aksiku sekarang.
Namun dugaanku salah, tepat ketika aku maju selangkah dan menaiki undakan pagar besi pertama, sebuah motor ninja keluaran terbaru mendekatiku. Aku tahu pemilik motor itu, siapa lagi kalau bukan Aga.
Aku sengaja mematung ditempat, menunggu Aga yang secepat siput turun dari motornya dengan anggun. Dan sempat pula bercermin di kaca spion motornya sebelum bersiul dan berjalan kearah ku.
"Mau lompat?" Aga bertanya santai seolah menanyakan besok mata kuliah apa pada diriku.
"Airnya dingin loh, gak takut."
Aku masih diam, sama sekali tak merespon cuitan Aga, tapi masih sempat kaki ini turun dari undakan besi hingga kembali memijak lantai jembatan.
"Ikat dulu tali sepatunya yang benar, biar pas jatuh nanti, terjunnya cantik. Kan gak lucu kalau nyangkut." Aga berjongkok dan membenarkan Ikat tali sepatuku.
What?? Aku tidak kaget lagi, ini Aga. Satu-satunya sahabat terkonyol yang pernah ada, cakep sih cakep, sebelas dua belas sama Ji Cang Wook, tapi pemikirannya patut dipertanyakan. Dan naasnya aku masih betah berteman dengannya hampir sebelas tahun ini.
"Siip, udah.. Sekarang silahkan lompat." Aga berdiri dan menyenderkan punggungnya ke pagar jembatan.
Aku melirik sekilas ke bawah, dimana air sungai masih bergemuruh, bersorak menyambut kehadiranku, tiba-tiba saja nyaliku ciut.
__ADS_1
Aga ikut melirik sekilas ke bawah, "Dengar- dengar dibawah jembatan ini, ada Anaconda."
"Mana ada.. " bibirku mengerucut.
"Minimal Crocodile, you know Buaya yang kalau makan mangsa, suka gigit kaki duluan, terus badan, tangan dan hanya menyisakan kepala doang. Besok-besok tim SAR cuma nemuin kepala kamu, badannya dah habis jadi kudapan buaya." Aga meringis, dan bodohnya akupun ikut-ikutan meringis pula.
Tekad mengakhiri hidup sebesar gunung Merapi yang bercokol dikepalaku beberapa menit lalu, mendadak lenyap, menyisakan ketakutan untuk mati kali ini. Sekali lagi, aku melirik ke bawah jembatan, aku menelan bulat-bulat liurku yang berkumpul dirongga mulut. Kenapa kini aku jadi ragu?
"Ayo lompat, aku tungguin nih." Aga masih menyender santai di pagar jembatan.
"Atau mau aku bikin live, sekarang bunuh diri live lagi viral loh di tik tok." Kali ini Aga sudah mengeluarkan ponselnya, sambil tersenyum jahil mengarahkan kamera ponselnya padaku.
Aku mematung sesaat, aku memang masih ingin mati sejujurnya. Tapi sekali lagi aku melihat aliran air deras dibawah sana, yang hitam, pekat dan mistis, membuat keberanianku menguap begitu saja. Aku melirik Aga, mencari-cari keberanian yang mungkin bisa aku dapatkan disana, tapi sama sekali tak membantu, malah membuatku ingin menghentikan kekonyolan ini. " Aku lapar..." Desisku berjalan cepat menuju motor Aga."Ayo?!"
"Serius di cancel terjunnya?"
Aku menggeram pelan sebelum melayangkan tatapan ke Aga, pria itu cengengesan dan kali ini secepat cahaya melompat menaiki motornya, diikuti olehku yang di bonceng di jok belakang.
Kami akhirnya berhenti di salah satu warung pecel lele yang berderet di pinggir jalan. Aku masih sempat merapikan penampilanku yang berantakan lewat kaca spion sebelum memasuki warung, diikuti oleh Aga dibelakang.
"Kamu yang bayar, aku lagi gak punya uang." Ucapku sambil menyuap nasi sambal terasi dihadapan ku.
Alis Aga menyatu, "Emang sejak kapan kamu yang bayar."
"Okeh, dicatat aja semua hutangku, nanti kalau sudah lulus kuliah, aku bayar."
Aga geleng kepala sambil menahan tawa, Yah, Aga pasti tahu, sangat tahu malah bahwa sampai kapanpun aku tak kan sanggup membayar semua hutangku ke Aga. Termasuk hutang karena telah menyelamatkan ku dari pikiran untuk mengakhiri hidup barusan.
__ADS_1
To be continue...