
Ini sudah hari ketiga ponsel Fara enggak bisa dihubungi, gadis itu juga tidak masuk ke sekolah. Athan sempat bertanya pada Ve dan Sarah, tapi keduanya juga tidak tahu. Ve sempat ke rumah Fara, tapi rumah Fara tertutup rapat. Enggak ada tanda- tanda kalau rumah itu berpenghuni.
"Gue juga enggak bisa menghubungi Fara dari hari Senin." Athan sempat melirik sekilas Sarah yang sekarang mengetuk-ngetuk ponselnya ke atas meja. Mereka sedang duduk dikantin.
"Sekarang sudah hari Kamis." Tambah Ve yang tampak sama kalutnya dengan Sarah.
Athan diam, dia menggeser kursi duduknya kemudian berdiri. Tadinya dia ingin mencari informasi ke Sarah dan Ve, tapi sepertinya mereka juga kehilangan kontak dengan Fara. Terakhir Athan mengantar Fara sampai ke rumah gadis itu, semua masih baik- baik saja.
"Gue cabut dulu." Ucap Athan sambil berjalan cepat tanpa menunggu respon kedua gadis yang ia temui di kantin itu.
Satu-satunya yang bertanggungjawab atas ini semua adalah Dru. Memang sejak dua hari ini, rumor tentang pacar Dru yang cowok itu umbar di media sosial beberapa hari lalu telah menghilang. Dru telah menghapus video itu dari laman IG nya, komentar-komentar serta artikel terkait pemberitaan itu juga seolah lenyap ditelan bumi. Semua berita itu telah ditarik dalam sekejap, dan tidak ada satupun yang membicarakannya lagi.
Dru bisa dengan mudah ditemui di basecamp nya. Cowok itu langsung menyipit menatap sinis ke Athan yang berjalan ke arahnya.
"Gue mau ngomong." Athan berhenti tepat dihadapan Dru.
"Kalau lo mau bahas soal Fara, sorry, gue enggak ada urusan lagi sama perempuan itu." Dru menegakkan punggungnya, menatap nyalang ke Athan.
"Fara enggak masuk sekolah, sudah 3 hari. Ponselnya juga enggak bisa dihubungi."
"Bukan urusan gue." Jawab Dru datar.
__ADS_1
"Urusan lo, gara-gara lo Fara menghilang."
Dru makin menyipitkan matanya, "Urusan gue sama Fara udah selesai tiga hari lalu, video yang gue unggah juga udah gue hapus, gue udah bikin klarifikasi kalau itu cuma prank, semua pemberitaan terkait Fara udah enggak ada. Gue enggak ada hubungan apa-apa lagi sama perempuan itu. Jadi masalah Fara enggak sekolah, dia hilang, atau dia pergi itu bukan urusan gue."
Athan tercekat, dia menahan nafas,"Apa yang terjadi?" ucapnya pelan hampir berbisik, "Kenapa berita lo sama Fara tiba-tiba menghilang?"
Dru mendecakkan lidah," Oom nya datangin bokap gue, gue baru tau kalau oom nya Fara punya pengaruh yang sebegitu besar sampe bikin bokap gue gak berkutik. Mereka mau nuntut kalau berita itu masih lanjut."
"Terus?"
"Terus apa lagi? ya mereka narik semua artikel dan video tentang Fara, video klip yang gue buat bareng Fara juga ikutan ditarik, gue diancam harus keluar dari label musik bokap gue."
"Fara? lo ketemu sama Fara?" Suara Athan tercekat, aura panik tercetak jelas diwajahnya kini.
Baik Athan maupun Dru sama-sama terdiam, "Sudah? kalau enggak ada yang mau lo bahas lagi, gue mau pulang." Dru memecah keheningan, membuat Athan tersentak.
Athan masih mematung saat Dru akhirnya berjalan melewatinya begitu saja, bahu mereka saling bertabrakan, namun kemudian Dru berbalik ketika langkahnya mencapai pintu. "Fara mau dipindahkan ke luar negeri."
Sontak saja ucapan Dru barusan membuat Athan berbalik, dia terdiam, menunggu Dru bicara lagi, namun Dru tak kunjung bicara, cowok itu hanya menatap Athan penuh penyesalan, "Lo enggak bisa ketemu Fara lagi, dia udah pindah sekolah."
***
__ADS_1
Ada apa ini, seolah lantai yang diinjak Athan tiba-tiba runtuh dan Athan terjatuh kedalamnya. Athan sangat berharap semua yang dikatakan Dru hanya bualan semata, namun Athan harus menelan pil pahit ketika dia meng croschek berita itu ke bagian TU sekolah. Benar, Fara telah mengurus semua kepindahannya dari sekolah. Dan gadis itu sama sekali enggak memberitahunya. Ini begitu menyakitkan.
Athan berjalan gontai menyusuri koridor ruang guru, dia masih tak habis pikir, apa yang terjadi pada Fara. Mengapa gadis itu pergi, bukankah masalahnya dengan Dru sudah selesai, seharusnya tidak ada alasan Fara untuk pergi begitu saja seperti ini, tanpa pesan, tanpa aba- aba, tanpa bertemu dulu dengannya.
Athan tertawa miris, dia bukan siapa-siapa lagi bagi Fara, kenapa juga Fara harus berpamitan dengannya, tapi tidakkah Fara memberitahu sahabatnya, Ve dan Sarah juga sama kehilangannya seperti Athan. Bukankah seharusnya Fara berbagi cerita dengan sahabat- sahabatnya itu?
Dari kejauhan Athan bisa melihat Ve berlari kearahnya," Fara... Fara pergi." Ucap Ve dengan nafas terputus-putus.
Athan mencoba menenangkan diri dengan menghirup udara banyak-banyak, namun tentu saja itu malah membuatnya makin terlihat menyedihkan.
"Dia barusan telpon, pake nomor sepupunya, ponselnya disita, dia sudah berada di Zurich sekarang."
"Tunggu... Zurich?"
Ve mencoba menarik nafas, "Iya Zurich, tempat kelahiran papa kandungnya."
"Jadi Fara benar-benar pergi?" Athan berbisik, bisikan yang entah ditujukan pada siapa, mungkin pada dirinya sendiri.
Seperti ada yang menguliti hatinya secara perlahan, mengapa terasa sakit sekali, beginikah akhirnya. Dia dicampakkan begitu saja. Bukan, bukan Fara yang mencampakkannya, tapi dia sendiri yang menyia-nyiakan gadis itu. Seandainya dulu dia lebih tau bagaimana cara memperlakukan gadis yang ia cintai, mungkin Athan tidak terlalu semenyedihkan ini.
Dia tidak pernah benar-benar membuat Fara bahagia selama mereka bersama, dia selalu mengabaikan gadis itu lewat sikapnya yang terlampau cuek. Andai waktu bisa diulang, mungkin Athan akan memilih jalan yang berbeda. Dia mungkin bisa mengucapkan kata cinta seribu kali sehari. Tapi itu terdengar percuma sekarang, apapun yang dipikirkan Athan, tidak akan membuat Fara kembali, gadis itu benar-benar telah pergi, meninggalkan sisa rasa yang akan disayangkan seorang Athan.
__ADS_1
Kini Athan hanya bisa menyesali waktu, mengapa dulu dia tidak menghabiskan banyak waktu bersama gadis itu, gadis yang entah kapan bisa ia temui lagi. Mengapa ia tidak pernah langsung mengiyakan saat Fara memintanya untuk mengirim pesan selamat tidur setiap hari, mengapa ia tidak pernah menelpon gadis itu sekedar mengucapkan I miss you. Dan sekarang Athan hanya bisa mentertawakan dirinya yang begitu bodoh.
to be continue