
Raya
Menjadi mahasiswi jurusan Farmasi adalah cita-cita ku sejak dulu, belajar bagaimana suatu zat bisa memengaruhi fisiologis tubuh, bagaimana reaksi kimia dari suatu obat bisa menyembuhkan, mempelajari sistem kerja golongan obat tertentu yang bisa tepat sasaran menghambat fungsi suatu organ, seperti golongan obat antipyretic contohnya, yang memengaruhi fungsi hypothalamus dalam menurunkan panas tubuh, bahkan aku bisa meracik obat sederhana melalui ilmu farmakologi ini. Aku telah lama bermimpi akan bekerja di perusahaan obat besar sekelas Kimia Farma suatu hari nanti. Dan disinilah aku sekarang berada, di sebuah gedung laboratorium farmasi di kampus ku.
Sambil tersenyum, aku fokus dengan tugas kuliah hari ini. Yah, aku ingin menjadi sukses dalam hidupku, karena hanya dengan kuliah sungguh-sungguh dan memiliki pendidikan tinggilah aku bisa keluar dari lingkaran kemiskinan, setidaknya aku tidak ingin menjadi seperti ayah, apalagi mama.
Jika aku ingin menjadi seorang apoteker, lain halnya dengan Aga yang bercita-cita ingin menjadi seorang duta dan konsul. Aga berambisi menjadi perwakilan Indonesia di belahan bumi lain suatu hari kelak. Maka dari itu Aga mengambil jurusan Hi (Hubungan Internasional), bahkan sejak di bangku SMA, Aga sudah mempelajari beberapa bahasa internasional, dan saat ini Aga telah menguasai hampir 5 bahasa, bahasa Inggris, bahasa mandarin, bahasa Arab, Jerman dan Amerika latin.
Aku tahu betul, betapa seorang Aga sangat serius dengan cita- citanya. Aga bahkan sudah mempersiapkan S2 nya di New York setelah wisuda. Aku bangga pada Aga, dia sosok laki-laki pertama yang kukagumi. Tentu saja hanya kagum, karena aku enggak berani lebih dari itu. Aga seperti bintang dilangit, yang hanya cocok untuk dikagumi dari bumi, istilahnya kayak Mariposa, enggak tergapai dan enggak terjangkau.
Aku menyudahi kegiatanku dengan menyimpan buku kedalam tas, kemudian keluar dari gedung. Sebuah pop-up muncul dilayar ponsel ku. Pemberitahuan transfer uang sebesar lima ratus ribu, dari Aga.
Tak lama ponsel ku berbunyi, Aga menelepon.
"Ya, Ga?"
"Uangnya udah masuk?"
"Iya, ini uang apa?"
"Buat ongkos, kalau aku enggak bisa jemput, jangan jalan kaki, naik gojek aja."
"Aga... " Aku baru saja ingin protes ke Aga, enggak perlu seperti ini. Kesannya aku jadi semacam beban untuk Aga. Tapi baru saja ingin melayangkan protes, Aga sudah menutup telponnya.
Aku ingin transfer balik uangnya, tapi pengalaman mengajarkan ku untuk tidak melakukan itu kalau enggak mau bikin Aga ngamuk. Dulu juga pernah Aga ngamuk gara-gara aku balikin uang pemberiannya.
Waktu itu, aku masih ingat, kami duduk dibangku SMA, aku yang mondar-mandir di depan ruang bendahara sekolah, dengan tatapan galau karena belum bayar SPP hanya bisa meringis saat Aga menanyaiku, padahal besok mau ujian. Alhasil hanya aku yang belum dapat kartu ujian.
Aga sampai menggadaikan play station nya untuk membayar SPP ku. Aku, tentu aja enggak enak hati. Dua bulan setelah itu, aku berhasil mengumpulkan uang sebesar yang Aga keluarkan untuk SPP ku dulu. Yah, aku langsung balikin dong. Tau apa reaksi Aga? dia ngamuk.
__ADS_1
Aku enggak tau, kenapa Aga bisa semarah itu. Dan baru kali itu juga Aga marah padaku, sampai bilang enggak mau berteman lagi kalau aku nekat balikin uangnya, menurutku sih Aga berlebihan. Dalam pertemanan, wajar-wajar aja kalau kita saling pinjam meminjam, terus dikembalikan. Tapi Aga berpikiran lain, ya udah, akhirnya uang itu aku simpan lagi.
Hari sudah menjelang magrib saat aku tiba di kontrakan, kali ini aku enggak jalan kaki, aku naik ojol, hari sudah sore juga, kalau masih agak siang sih pengennya tadi jalan kaki, balik lagi menganut azas manfaat, wkkkkk.
Baru aja ingin berangkat lagi kerja di minimarket setelah mandi dan makan, ponsel ku bordering.
Ian calling...
"Ada apa, Ian?"
"Ray, lo dimana?"
"Dikontrakan, baru mau berangkat kerja, ada apa?"
"Lo bisa ke apartemen Aga, nggak?"
Aku melirik jam dinding, lima belas menit lagi pergantian jaga di minimarket. "Enggak bisa, Ian. Nanti telat, emang ada apa sih?"
Aku menghela nafas pelan, suara Ian terdengar panik. Aku nya jadi ikutan panik. Aga tinggal sendirian di apartemen, siapa tau, dia sakit perut, pingsan, terpeleset dikamar mandi atau apa. Dengan cepat, aku menghubungi teman di minimarket, minta gantikan jadwal, jadi besok aku mulai jaga dari sore sampai malam. Hari ini aku izin dulu.
Setelah itu, aku langsung pesan ojol menuju apartemen Aga. Jantungku enggak berhenti meloncat, berbagai adegan buruk tentang Aga melintas di otak ku yang lumayan encer. Aku bahkan berlari dari lobi menuju unit Aga. Beruntung aku sudah tau password apartemen Aga, jadi aku langsung menekan lima angka yang terdiri dari tanggal, bulan dan tahun kelahiran Aga itu.
Aku panik, kelewat panik, sebab sebelum berangkat, aku sempat menelepon Aga. Benar kata Ian, nomor Aga enggak aktif. Ku buka pintu dengan cepat, detik berikutnya aku langsung menjerit sambil menutup wajah dengan kedua telapak tanganku dan mengumpat keras.
Aku hampir merosot jatuh melihat dua insan berbeda jenis ke lamin itu, saling menempelkan bibir, keterlaluan sekali.
***
Aga dan Shella tersentak saat menyadari kehadiranku. Shella yang berciuman, kenapa wajahku yang merah padam. Gigiku gemerutuk, kesal setengah hidup pada Ian, tentu saja. Aku seperti orang gila berlari ke apartemen Aga, hanya untuk menyaksikan mereka berciuman. What the hell!!!
__ADS_1
Aga berdiri kikuk, lalu menghampiriku. Dia bingung tentu saja, tapi cepat-cepat mengubah ekspresi, "Raya,,, baru datang."
Aku menaikkan alis, melirik ke Shella sedetik lalu beralih ke Aga lagi," Ian brengsek, dia telpon nyuruh aku kesini." Aku berbisik.
Aga mengabaikan bisikanku. "Kenalin Shell, ini Raya, anak Farmasi, sepupu gue. Dia kadang tinggal disini juga."
What?? drama apa lagi ini Bambang.
Shella berdiri dan tersenyum padaku, "Oh, sepupu Aga, pantesan gue sering lihat kalian boncengan."
Kami berjabat tangan," Raya.. "
" Shella."
Karena aku sudah diperkenalkan sebagai sepupu, jadi aku bebas disini. Aku cuma ingin minum air dingin, kepalaku rasanya ingin pecah. "Eh, lanjutin aja Shell, gue ke dapur dulu."Aku tersenyum pelan pada Shella.
"Kenapa nyusul?" aku melirik Aga dengan ekor mataku.
Aga menoleh sekilas ke arah ruang tamu, dimana dia meninggalkan Shella disana."Ya,ikut duduk di depan, yuk. Temanin aku."
Oh Lord, demi seluruh ubur-ubur koleksi SpongeBob dan Patrick, aku ingin mencakar wajah Aga. Bisa-bisanya nyuruh aku duduk diantara mereka dan menyaksikan mereka berbuat maksiat didepan mataku, bahkan mataku sudah cukup ternoda tadi.
"Ga, aku enggak salah dengar kan? Ngapain aku duduk disana? mau nonton kamu sama Shella saling bertukar air liur? Aku panik tadi, Ian nelpon katanya kamu minta tolong, aku sampai izin kerja segala, takut kamu kenapa- napa."
Aga mengacak rambutnya frustrasi, "Iya, aku nelpon Ian tadi, minta tolong. Aku dicium Shella, aku panik."
Aku tersedak air minum, antara ingin tertawa dan menjerit, tapi ku urungkan." Terus, aku percaya? panik darimana? Jelas-jelas aku lihat tadi, kamu enggak nolak."
"Dia baru aja nempelin bibirnya pas kamu datang. Please, temanin aku, sampai Shella pulang."
__ADS_1
To be continue...
Silahkan komen...