JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
XXV


__ADS_3

Fara menggulung rambutnya menggunakan hairclip, kemudian memperhatikan Athan yang matanya sudah terpejam dan tertidur diatas ranjang. Berkali- kali dia memastikan suhu tubuh cowok yang terlentang itu yang belum juga turun.


Tadi Andien sudah dibawa bik Na, pembantu rumah Athan pulang kerumah bersama mang Deden, satpam rumah mereka. Rupanya tadi saat kejadian, bik Na dan mang Deden sedang belanja ke pasar. Orang tua Athan masih di Surabaya, sengaja tidak dihubungi karena masih sibuk mengurusi uji coba dari BPOM untuk beberapa produk obat sediaan syrup yang saat ini diproduksi perusahaan mereka, beberapa sediaan paracetamol syrup dari perusahaan farmasi milik keluarga Athan sempat ditarik dan dilarang beredar karena diduga mengandung dietilen glikol (DEG) dan etilen glikol (EG) yang diduga bisa menyebabkan penyakit gagal ginjal akut pada anak- anak. Sudah hampir satu minggu orangtua Athan berada di pabrik mereka di Surabaya mengurusi masalah tersebut. Athan melarang menghubungi orang tuanya, lagipula ini hanya alergi disertai demam, besok kalau demamnya turun, juga boleh pulang kata dokter.


Pukul lima sore, mereka masih di IGD. Fara baru selesai mengurusi segala ***** bengek administrasi rumah sakit sebelum pindah ruangan, untungnya tidak susah, hanya isi kepalanya saja yang sangat berantakan.


Sebanyak apapun Athan mengatakan kalau Fara tidak perlu khawatir karena dia baik- baik saja, kondisinya  jauh  dari kelihatan baik- baik saja. Mereka pernah berpacaran hampir dua tahun, dan selama itu pula tidak pernah sekalipun Fara mendapati Athan demam, sakit atau semacamnya. Kelelahan saja cowok itu jarang. Jadi wajar kalau sekarang Fara khawatir setengah mati. Bayangan Fara saat melihat Athan mimisan tadi adalah cowok ini memiliki penyakit bawaan yang serius yang bisa mengancam nyawa.


Tapi dokter bilang Athan cuma memiliki sedikit masalah alergi yang juga bisa jadi serius kalau tidak segera ditangani. Ditengah kepanikannya, rasanya Fara ingin menangis, kalau saja Athan tidak tiba- tiba membuka mata.


“Udah boleh pulang?” tanyanya pelan.


Fara menggeleng, “Kamu kayaknya rawat inap.”balasnya. “Tadi bik Na bawa baju ganti kamu, mendingan kamu ganti baju dulu, baju kamu basah.”


Athan menatap sekilas bajunya yang basah karena keringat, “I’m completely okay.”


“Not, you are not. Kamu hampir mati tau gak.” Fara memalingkan wajahnya, mengusap sekilas airmata yang sudah jatuh dari sudut matanya.


“Ya udah, tapi kamu gak usah panik.”


“Siapa yang panik!!”


“Tangan kamu begetar dari tadi, wajah kamu juga pucat, itu panik namanya.”


Fara menghembuskan nafas kasar,tadi saja Athan masih menjawab pertanyaannya dengan gumaman, nafas cowok itu juga terdengar susah. Giliran sudah agak mendingan, yang dilakukan Athan malah mencari ribut dengan Fara.”Kamu dari tadi ngomongnya baik- baik aja, gak apa- apa, kamu lihat sekarang kondisi kamu gimana? Demam kamu 40 derajat, Athan! Kamu sesak, kaki tangan kamu dingin, kamu bahkan mimisan. Bangun aja kamu gak bisa. Dari mananya sih yang enggak apa- apa dan baik- baik saja.” Fara mengutarakan unek- uneknya.


Athan mengulum senyumnya, dia suka melihat Fara yang seperti ini, yang mengomelinya tanpa henti, yang kalau bicara bulu matanya selalu berkedap- kedip.


“Lagian ya, udah tau alergi kacang almond, kenapa masih dimakan juga? Kata Andien kamu sengaja makan itu.”


“Hah, siapa yang sengaja, aku lupa kalau punya alergi!”


Fara mendengus mengabaikan elakan Athan, “Ganti baju gih, bentar lagi perawat mau pasang infus.” Gadis itu mengatur ranjang Athan agar bagian kepala naik supaya Athan bisa duduk.


Awalnya Fara membiarkan Athan berusaha untuk membuka kemejanya sendiri, tapi ketika melihat cowok itu terlihat kesusahan, Fara menutup tirai ruangan menjadi rapat kemudian mendekati Athan. Fara membuka kancing kemeja hitam cowok itu satu persatu, semua dilakukan Fara dengan cepat berusaha sekuat mungkin untuk tidak tergoda melirik ke tubuh Athan, tapi apa yang dilakukan Athan malah membuat Fara hampir memekik terkejut.


Cowok itu memeluk pinggang Fara.

__ADS_1


“Apaan sih, Than!!!”


“I miss you.”


Sumpah, kalau kondisi Athan tidak lagi terlihat sekarat seperti ini, Fara sudah menyangka cowok ini hanya modus pura- pura sakit agar mendapat perhatian Fara. Sayangnya suhu tubuhnya yang memang masih panas tidak bisa membohongi siapa- siapa.


Fara memegang lengan Athan yang melingkar dipinggangnya, berniat melepaskannya.


“Kenapa aku gak boleh peluk kamu?”


Ini Athan kenapa sih, dulu aja waktu mereka pacaran mana pernah Athan mau peluk duluan, yang ada Fara ngejar- ngejar minta dipeluk.”Than, cooperative dikit kenapa, bentar lagi perawat datang mau pasang infus kamu, berhenti kayak gini.”


“Aku lagi pengen peluk kamu.”


Fara menghembuskan nafasnya, “Enggak disini Athan dan enggak sekarang. I’Ve told you, is not the right time.”


“Dimana?kapan? Aku boleh peluk kamu?” cowok itu mengangkat kepalanya, memandangi Fara dari sana, yang bikin nafas Fara tertahan.


He look handsome, cute and broken at the same times. Dari sisi mananpun cowok ini memang tidak ada cacat- cacatnya sedikitpun. Fara masih menahan nafasnya dan juga keinginannya untuk balik memeluk Athan.


“Nanti setelah kamu sembuh.” Balas Fara pelan. “ Setelah kamu sehat dan boleh pulang.”


“Iya.”


“Kamu janji?”


“Iya.”


Athan nyaris melepaskan pelukannya, tapi itu hanya terasa beberapa detik saja, karena setelah itu, pelukannya terasa lebih erat.


“Kalau kamu enggak nepatin janji gimana?” kepalanya kini bahkan bersandar di perut Fara.


Ya Tuhan, tangan Fara kini pasti lebih dingin dari Athan.


Fara menatap kosong kedepan, kemudian membasahi bibirnya dan melepaskan pelukan Athan. “Udah sih, sekarang ganti baju,” Ucapnya tegas yang membuat Athan mau tidak mau pasrah dan tidak bisa lagi berbuat apa- apa.


Dia melepaskan kemeja Athan dan berusaha waras untuk  tidak salah fokus kemana- mana. Menahan nafas dan pandangan, perempuan itu buru- buru memakaikan Athan kaos ganti setelah kemejanya sepenuhnya terlepas dari tubuhnya. Cowok itu juga tidak kelihatan selemas saat Fara membawanya kemari, makanya mempermudah prosesnya memakai baju sendiri.

__ADS_1


“Kalau kayak  gini dari tadi kan cepet.” komentar Fara, dia malah setatap- tatapan dengan Athan, kemudian Fara menunduk,”Aku pinjam sendal kamu, sepatu aku tadi dirumah kamu.” Ucapnya kemudian.


Athan mengangguk.


Fara kembali membuka tirai dan menunggui Athan yang dipasang infus oleh perawat, tidak banyak drama karena pembuluh darah Athan juga mudah dicari. Ketika perawat sudah pergi, Athan memandangi tangan kirinya yang sudah dipasang infus.


“Ini beneran rawat inap?”


Fara mengangguk, dia sudah duduk di kursi tunggu disebelah ranjang Athan.


“Kok belum pindah juga?”


“Sebentar tunggu hasil tes darah kamu keluar.”


“Gak bisa sekarang?”


“Ruangannya juga harus disiapin dulu.”


“Beneran gak bisa sekarang?”


Fara menghembuskan nafas beratnya,”GAK BISA !!!!”


Athan terdiam kemudian kembali menyandarkan tubuhnya ke bantal.”Kamu nemenin aku kan?” Ucapnya sambil melirik ke arah Fara.


Fara mengangguk singkat, iya, Fara memang berniat menemani Athan malam ini, kebetulan mama masih di Penang ada seminar alumni, papa juga masih ada flight. Cuma dia butuh pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju.


***


Malamnya Fara tidak bisa tidur, ada sih beberapa jam dia tertidur di sofa, kemudian Fara terbangun karena mimpi buruk. Fara bermimpi kalau Athan punya penyakit serius yang tidak bisa disembuhkan, kemudian cowok itu pergi untuk selama- lamanya. Itu makin mengacaukan pikirannya, membuatnya cemas. Alhasil, dia malah sibuk mengompresi dahi Athan dengan handuk yang dibasahi dengan air hangat dan tidak bisa tidur lagi sampai pagi.


Athan membuka matanya pelan keesokan harinya, sebenarnya dia juga tidak bisa tidur nyenyak malam tadi. Terbangun sesekali hanya untuk memastikan bahwa Fara masih berada disampingnya dan berada dalam jangkauan pandangannya. Fara tidak kemana- mana, hanya pergi ke kamar mandi, cewek itu lumayan lama dikamar mandi, mungkin mandi tebakan Athan.


Athan melihat dari sudut matanya, Fara keluar lagi dengan baju yang sudah berganti. “Fa, kalau kamu laper, makan aja tuh makanan aku.” Ucapnya menyuruh.


Fara hanya memutar bola matanya malas, menganggap perkataan Athan hanya angin lalu. Fara malah mengambil nampan makanan Athan, mendekatkannya dengan cowok itu, memaksa Athan untuk menghabiskan makanannya sebelum kunjungan dokter. Mau lidahnya pahit, atau tenggorokannya terasa tidak enak, cowok itu harus tetap menghabiskan makanannya sebelum minum obat meski diselingi protes Athan yang minta berhenti makan, Fara tetap bergeming menanggapi rewelnya Athan yang melebihi bocah.


Welll, Fara baru kali pertama melihat sisi Athan yang ini. Cowok itu seperti memiliki dua kepribadian sekaligus dalam hidupnya. Dan alter yang manja dan selalu minta perhatian yang sekarang duduk dihadapan Fara ini adalah alter baru yang tidak pernah ditemui Fara ketika mereka pacaran dulu. Dan Fara menanggapi ini semua dengan kesabaran penuh dan berjanji akan melalui ini dengan penuh keikhlasan.

__ADS_1


Fara melakukan ini semua tentu saja dengan alasan kemanusiaan, bukan karena dia kembali menjadi budak cinta. Benar begitu kan?


__ADS_2