JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
BAB VIII


__ADS_3

“Masih sakit?” Athan berjongkok sambil meniup pelan ke luka Fara yang dibalas perempuan itu dengan ringisan singkat. Athan mengoleskan bethadine terakhir, luka Fara hanya berupa goresan jadi tidak perlu ditutup dengan kasa atau semacamnya. Selesai mengobati fara, Athan mengambil posisi duduk di sebelah perempuan itu.“Kita cari makan yuk.” Ucapnya.


Fara mengerucutkan bibir, pupus sudah rencananya ingin menikmati seafood diatas kapal pesiar diiringi orkesta alam perpaduan hembusan angin laut dan kicauan burung, sebab dia dan Athan jelas sekali tidak berada di kapal pesiar saat ini, melainkan di dermaga. “Kita balik ke kapal pesiar.” Tegas Fara kemudian.


“Ck... Kaki kamu masih luka.” Athan mendengus.”Cari tempat lain aja.”


“Enggak mau, aku maunya di kapal pesiar.”


“Ya udah pergi aja sendiri, kalau kamu nyemplung ke laut aku enggak mau nolongin.”


Fara mendongak , menatap sinis ke Athan, kemudian berjalan pongah menuju tangga dermaga, dimana kapal boat masih bersender disana. Dengan kaki terpincang Fara terus berjalan, berharap Athan segera menyusulnya, tapi cowok itu hanya mematung ditempat, tanpa berniat mendekati Fara sama sekali, dasar sialan.


Fara berhenti di tepi tangga, dia menelan saliva ketika melihat kapal boat bergoyang- goyang kuat mengimbangi ombak laut, anginnya cukup kencang membuat nyali Fara untuk melangkah ke atas boat tanpa bantuan seseorang langsung menciut. Dia membalikkan tubuh dan melihat Athan yang tersenyum mengejek dari kejauhan. Fara menghembuskan nafas kuat lalu berjalan kembali kearah Athan.”Ayo cari makan ditempat lain.” Ucapnya setelah berdehem keras.


Athan mengulum senyumya jumawa, kemudian mengajak Fara ke sebuah kedai yang tidak begitu jauh dari mereka berada sekarang, sehingga hanya perlu berjalan kaki untuk menjangkau kesana. Kedainya sangat instagramable dan unik, mereka menjual makanan khas Bali yang tertera di daftar menu. Fara memesan nasi campur Bali dan ayam betutu, sedangkan Athan memesan sate lilit dan rujak kuah pindang, ini benar- benar makanan berat yang sangat cocok dimakan disaat lapar.


Athan lebih dulu menyelesaikan makannya ketimbang fara, gadis itu masih sibuk memisahkan daging ayam dengan tulangnya. Athan menunggu dengan sabar sambil menyesap minumnya.


“I am bit confused.”


“Dengan?” Fara menghentikan aksi gigit ayamnya. Tertarik pada bahasan Athan barusan.

__ADS_1


“Kamu percaya enggak sih sama cinta pada pandangan pertama?” balas Athan pelan. “I don’t believe in love at first sight.”


Fara terdiam sebentar, mencoba mencerna namun gagal, ini bahasan Athan kok random banget sih.


“Kok bisa orang jatuh cinta pada seseorang pada pandangan pertama, padahal dia belum tau apa yang terjadi pada orang itu di hari- harinya. Enggak tau yang dilakukan orang itu ketika dia lagi marah, sedih, atau kecewa. Gak masuk akal.”


Fara kemudian tersenyum, ada decakan pada senyumnya, kemudian dia mengulum senyumya pada detik selanjutnya. “Dulu, I love you at first sight.” Akunya kemudian.


“Kenapa?” Tanya Athan kalem.


“Waktu itu, kamu nyelamatin aku dari hantaman bola basket.” Fara berhenti sebentar mencoba mengingat kejadian.”Emm, pas masih SMP.”


“Seriously? Cuma gara-gara itu kamu jadi suka?” Athan melebarkan matanya.”Cuma kayaknya jahat banget, kalau ada yang ngeliat lemparan bola hampir kena muka orang, terus dia bisa menangkis, tapi malah dibiarin gitu aja, iya kan?”


Athan mungkin sudah bosan dipuji ganteng sejak bayi. Makanya kalau ada yang memuji dia ganteng, dia biasa aja. Sudah tau juga.


“Jadi kesimpulannya, love at first sight itu hanya sebatas fisik kali ya?” Cowok itu kembali menyesap minumnya.


Fara kurang setuju, tapi ucapan Athan juga enggak salah- salah amat, toh dia awalnya juga suka ke Athan karena fisik cowok itu. Dari mata turun ke hati, begitu sih istilahnya.


“Kamu beneran gitu enggak pernah lihat cewek cantik lewat atau siapapun terus naksir?”

__ADS_1


Athan menggeleng pelan membuat Fara mengangguk mengambil kesimpulan, wajar juga sih, sejak awal kan hati Athan sudah diisi sama si Dira Dira itu.


“For me, love is more than that. It’s a scared thing. Kayak harus mengenal luar dalam dulu, cocok- cocokkan juga, buat tau itu cinta apa bukan......” Ucap Athan dalam. “Bagaimana kamu bisa mencintai seseorang padahal kamu belum tau isi hatinya seperti apa. Kalau hatinya busuk gimana?”


Fara tidak tahu harus menjawab apa, dia kembali beralih ke sisa makanan di piringnya dan menghabiskan makanannya dalam diam.


“Tapi, love is still love, anyway. Makanya harus kenal lebih dulu, karena cinta harusnya enggak hilang timbul begitu saja.”


Ucapan Athan barusan membuat Fara menghentikan makannya, dia menatap Athan, apa maksud ucapan terakhir Athan coba, mau bilang kalau cinta Fara ke dia hilang timbul begitu saja, begitu.


Fara berdecak, “Tumben banget kamu bahas soal cinta- cintaan.” Sindirnya. “Kamu lagi jatuh cinta?” Fara meraih gelasnya, tersenyum mengejek sebelum akhirnya tersedak sendiri karena mendengar ucapan Athan di detik berikutnya.


Bagaimana tidak tersedak kalau Athan barusan bilang, “Yes, I’m falling in love with you.”


Athan apa- apaan sih...


Bukannya membantu karena Fara tersedak minumnya sendiri, Athan malah lanjut ngomong,” Sorry ya, ini bukan love in first sight. Tapi lebih dalam dari itu, aku suka fisik kamu, hati kamu, gaya kamu, kelebihan kamu dan yang terpenting aku juga suka kekurangan kamu.” Dan Athan mengucapkan semuanya dengan wajah lempeng seolah enggak ada kejadian saja.


Jadi bisa dibayangkan wajah Fara seperti apa saat ini kan....


Namun cepat- cepat Fara berdehem, fix, Athan lagi terkena gangguan jin dermaga makanya kelakuannya kayak begini.

__ADS_1


To be continue...


__ADS_2