
Athan melepas tas ransel dari pundaknya dengan nafas terengah, kemudian berlari menuju barisan mahasiswa baru. Ini hari pertama Ospek tapi Athan malah datang terlambat sehingga ia berdiri di barisan paling belakang sekarang.
Pilihan kuliah yang ditawarkan papa ada dua selepas lulus dari sekolah menengah atas, di Universitas Indonesia dan di Imperial College London, keduanya sama-sama di jurusan bisnis. Dan Athan memilih tetap berada di Indonesia untuk Sarjananya, sedangkan untuk pascasarjana dan jenjang doktor, Athan baru berencana ke Imperial College London, tempat papanya bersekolah dulu.
Sebagai calon penerus bisnis keluarga, jenjang karier Athan seolah sudah di desain dari awal, dia sudah tahu harus bersekolah dimana, jurusan apa, dan bagaimana kelanjutan jenjang karier nya ke depan. Athan hanya tinggal menjalankan tanpa ada pilihan.
"Hai...Gisel... " Seorang perempuan berambut ikal sebahu mengulurkan tangannya ke arah Athan. Gadis itu tepat berdiri disamping barisan Athan, sama seperti Athan,dia juga mahasiswa baru.
"Nama gue Gisel, nama lo siapa?" Perempuan yang mengaku bernama Gisel itu menggoyangkan uluran tangannya, memberi kode agar Athan menyambut tangan itu. Namun Athan hanya diam.
" Athan... " Lanjut Athan menyambut sekilas uluran tangan Gisel. Kemudian dia fokus lagi menghadap ke depan mendengarkan arahan dari panitia OSPEK.
"jurusan apa?"
"Manajemen bisnis." Jawab Athan tanpa menoleh.
"Wah sama dong, gue juga manajemen bisnis." Perempuan itu tersenyum antusias, "Alumni mana?"
Athan tidak menjawab, sebenarnya dia bukan termasuk orang yang pandai berbasa-basi kenalan dengan orang baru, dia juga tidak berniat untuk cuek, sombong atau apa, tapi dia cuma ingin fokus mendengarkan pengarahan tanpa ada gangguan.
"Lo kok mirip banget sama Cha En Woo ya, gue enggak pernah lihat cowok yang gantengnya sebelas duabelas sama Cha En Woo kayak lo." Perempuan itu masih berceloteh kendati tidak ada tanggapan sama sekali dari Athan. "Udah punya pacar?"
Athan menoleh tanpa ekspresi ke arah Gisel. Menghela nafas sebentar kemudian mengangguk sambil tersenyum,"Sudah."
Sudah, dia sudah punya pacar, itu yang Athan tekankan dalam nada suara dan ekspresi nya barusan. Athan kembali menghadap ke depan masih sambil mengulum senyum, teringat akan sang kekasih yang sekarang berada di benua lain, berjarak ribuan kilometer dari tempat dimana dia berdiri saat ini. Namun tetap, bagi Athan jarak sama sekali bukan jadi penghalang untuk hatinya terpaku.
Setiap hari, setiap detik Athan bahkan selalu tidak sabar menunggu hari Sabtu, iya Sabtu, dimana jadwal pacarnya bisa menerima telpon di sekolah asrama.
"Oh,, udah punya pacar ternyata." Raut kecewa tercetak jelas diwajah Gisel. "Wajar dong ya, orang ganteng mah gak mungkin masih jomblo." Lanjut gadis itu, dia akhirnya berhenti berceloteh dan ikut fokus pada arahan di depan, namun itu ternyata hanya bertahan 5 menit.
"Anak UI juga?"
__ADS_1
"Hah..?"
"Pacar lo? anak UI juga?" Gisel mengulang pertanyaannya.
Athan menggeleng.
"Ohh... Udah lama pacaran?"
Kali ini Athan terpaksa menoleh kearah Gisel yang mulai berisik itu, tampak menimbang sebentar kemudian tidak menghiraukan pertanyaan perempuan yang ada di sampingnya. Jika ditanya sudah lama, tentu saja seharusnya sudah lama, jika enggak ada insiden Fara memutuskannya kemudian Athan memohon-mohon agar diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki hubungan mereka. Kendati jarak terlampau jauh memisahkan mereka, tapi Athan berjanji akan berubah mulai saat itu.
Jadi Athan akan menghitung masa mereka pacaran hanya satu tahun, waktu di mana dia dan Fara balikan lagi, dimana Athan berikrar dalam dirinya akan selalu ada untuk Fara, meski fisiknya tidak berada di dekat gadis itu, tapi hatinya akan selalu untuk Fara.
Adapun masa sebelum itu, tentu saja masa paling suram, jadi akan Athan skip dari memorinya. "Satu tahun." Jawab Athan tegas ke Gisel.
Yah, satu tahun adalah jawaban yang pas untuk pertanyaan tersebut. Tepatnya di awal Juni tahun kemarin, disaat Athan sudah pasrah pada keadaan, disaat dia merasa sudah saatnya benar-benar merelakan kepergian Fara dalam hidupnya. Bukannya Athan enggak berjuang, dia sudah bolak-balik menanyakan nomor telepon Fara di Zurich yang bisa dihubungi, stalking semua media sosial gadis itu sampai berbulan-bulan, berharap bisa ada kegiatan yang diposting Fara yang bisa menggambarkan hidupnya, namun nihil.
Hanya ada satu petunjuk dari adik Fara saat itu, Fara bersekolah di sekolah asrama khusus putri yang sangat ketat aturan, yang tidak membenarkan siswanya memiliki ponsel. Mereka hanya bisa diberi kesempatan menerima telepon disetiap hari Sabtu-Minggu.
Tentu saja petunjuk ini tidak disia-siakan Athan, berbekal dari rayuan tiket konser BTS dan poster Jungkook yang diberikan Athan untuk adik Fara, dia berhasil mendengar suara Fara ditelpon.
Athan tahu, saat itu Fara kaget mendengar suaranya, alih-alih menelpon sang adik, Fara malah mendengar suara Athan.
"Athan??"
"Iya, aku... " Suara Athan tercekat, dia benar-benar terlihat menyedihkan, andai saja tidak diperhatikan adik Fara dari ujung ruangan, mungkin Athan sudah menjatuhkan air mata yang hampir menggenang disudut matanya, dadanya bergemuruh hanya dengan mendengar suara sang gadis yang sangat ia rindukan itu.
"Athan, sorry waktu itu enggak sempat pamitan."
"Gak papa, aku ngerti kok, kamu tertekan saat itu." Athan berjuang mati-matian agar suaranya tidak terdengar bergetar. "Kamu sehat kan?"
"Iya, alhamdulillah. Kamu?"
__ADS_1
Athan menganguk pelan kendati Fara tidak akan bisa melihatnya, "Iya, aku sehat, dan harus selalu sehat supaya bisa lihat kamu lagi."
Athan sempat terdiam beberapa detik, "Fa... "
"Ya...?"
"Banyak-banyak makan ya, tidur yang nyenyak disana."
Dari ujung telpon Athan bisa mendengar suara kikikan dari Fara, "Perhatian banget sih."
Athan tersenyum miris, suara renyah Fara makin mengingatkannya akan kebodohan masa lalu, yang tidak akan dia ulangi."Fa.... "
"Iya..?"
"....... "
"Athan...? Than..?"
"........... "
"Kamu masih dengar aku Than?"
"Cinta kamu Fara.... "
Fara diam, lumayan lama, membuat Athan jadi panik. Jangan-jangan disana Fara sudah memiliki kekasih, akan terdengar konyol kalau Athan barusan mengungkapkan perasaan cintanya ke gadis itu, sementara Fara sudah memiliki seseorang yang lain. Ayolah, Athan parah sekali, ini baru pertama kali mereka bisa bersua lewat telpon setelah sekian lama dan sekian banyak peristiwa yang terjadi diantara mereka. Bisa-bisanya Athan kelepasan ngomong, pasti bikin Fara bingung.
"Fa...?"
"Ya... "
"........ "
__ADS_1
"Cinta kamu juga Athan."
to be continue