JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
XXXII


__ADS_3

Fara menyadari bahwa hubungannya menjadi dingin dan tidak baik-baik saja dengan mama, tentu saja itu dimulai sejak mama mendepaknya ke rumah oma di Zurich dan memasukkannya ke sekolah khusus wanita dengan aturan super ketat sampai Fara merasa seperti dipenjara.


Sangat sulit bagi Fara menyesuaikan diri hidup disana dengan lingkungan yang berbeda, cuaca yang tidak sama seperti di Jakarta, serta bahasa negara Swiss yang hanya dipahami Fara sepotong-sepotong, beruntung pelajaran disekolah menggunakan bahasa Inggris sehingga Fara tidak begitu tertinggal dalam hal pelajaran.


Seminggu berada disana, yang dilakukan Fara hanya menangis. Oma dan Opa yang membujuknya, mengatakan kalau hidup di Zurich tidak sejelek yang Fara bayangkan," Kamu cuma belum beradaptasi saja, tinggal disini sangat menyenangkan, nanti Oma tunjukkan tempat-tempat indah disini, kita juga akan selalu ziarah ke makam papamu seminggu sekali." Itu ucapan oma untuk menghibur Fara.


Setelah memulai persekolahan, Fara benar-benar seperti dikurung, dia tidak bisa mendapatkan akses keluar dari asrama persekolahan, mereka hanya diberi jatah menelpon keluarga di setiap Sabtu dan Minggu. Oma sering mengunjungi Fara dihari Minggu, membawakan pie kesukaan Fara, selalu menghibur Fara dengan leluconnya yang terkadang sama sekali tidak lucu itu.


Fara akhirnya mampu bertahan dengan segala kondisi yang dialaminya. Ini sudah bulan ke-enam Fara berada di Zurich, dia juga sudah mendapatkan teman, Emma dan Reana. Keduanya mengingatkan Fara akan sosok Ve dan Sarah, sahabat yang bahkan tidak sempat ditemui Fara sebelum kepergiannya.


Sampai suatu hari, di Minggu pagi, ketika Fara bertukar telpon dengan sang adik di Jakarta, Fara tercekat mendengar suara Athan, ya Athan. Laki-laki itu tidak melupakan Fara sama sekali, dia bahkan bilang dia mencintai Fara, dan tentu saja, Fara masih sangat mencintai Athan juga.


Athan memohon agar mereka kembali seperti dulu, laki-laki itu berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama. Dan itu benar-benar dibuktikan Athan. Athan akan selalu menghubungi Fara di setiap Sabtu-Minggu, bertukar kabar, saling bercerita tentang sekolah masing-masing. Athan bercerita kalau dia akan mengambil jurusan manajemen bisnis di UI.


"Kamu pulang ke Jakarta kan setelah lulus sekolah?" Itu pertanyaan Athan ketika mereka telponan dan tentu saja tidak bisa Fara jawab saat itu.


"Aku enggak tau." Fara menggeleng pelan. "Mama pengen nya aku lanjut kuliah kedokteran."


"Di sana?" Ada nada kecewa dalam suara Athan.


"Aku pengennya balik ke Jakarta, kuliah ngambil jurnalistik." Fara tersenyum miris. Menjadi jurnalis cita-cita Fara sejak dulu. Dia ingin menjadi pemburu berita, terjun ke lapangan ke daerah konflik, ke daerah bencana, bukan mendekam di rumah sakit menjadi dokter dengan segala kesibukannya.


"Tapi mama pengennya aku kuliah kedokteran." Lanjut Fara sedih.


Diseberang sana, Athan hanya mendengarkan Fara berkeluh kesah, "Kamu sudah bicara sama mama kamu?"


"Sudah"


"Terus, mama kamu bilang apa?"

__ADS_1


"Dia tetap ngotot pengen aku jadi dokter, nerusin mama sama kakek, kata mama jadi jurnalis resikonya besar, sering pergi-pergi dan bisa kehilangan nyawa kapan aja, menurutku mama berlebihan."


Kalau menuruti egonya sih, Athan juga enggak mau kalau Fara jadi jurnalis, pekerjaan itu terlalu beresiko untuk seorang perempuan, lagipula Athan enggak ingin Fara pergi-pergi, dia ingin Fara selalu ada disampingnya saat Athan membuka mata. "Mama kamu ada benarnya." Ucap Athan kemudian.


"Tapi aku enggak mau jadi dokter, lihat darah aja aku langsung lemas, gimana mau nanganin pasien coba?"


"Kamu enggak usah jadi apa-apa kalau gitu."


"Terus aku ngapain dong?"


"Jadi istri aku aja..."


Fara terkikik, "Sejak kapan kamu bisa gombal kayak gini? enggak lucu, tau."


"Emang enggak lucu, aku kan bukan pelawak."


Fara masih terkikik lalu tiba-tiba berubah serius, "Than, kalau mulai ngampus nanti, pasti ketemu cewek-cewek cantik disana."


"Kalau nanti, kamu naksir cewek lain gimana?"


"Tetep kamu yang paling cantik."


"Tuh kan, gombal lagi."


"Siapa yang gombal sih, emang begitu kenyataannya."


"Kalau suatu hari nanti, aku enggak cantik lagi, kamu tetap mau?"


"Emangnya aku suka kamu cuma karena kamu cantik? ya enggak lah sayang, cantik itu bukan soal fisik doang. Aku suka kamu karena segala yang ada di kamu, hati kamu, sikap kamu, tingkah kamu."

__ADS_1


"Serius?"


"Ya serius lah... "


Fara enggak perlu senorak ini dengan senyum- senyum sendiri seandainya Athan pernah ngomong ini sebelumnya. Tapi demi apa, ini the first loh Athan seperti ini, manusia es nya dulu ternyata bisa manis juga. Fara enggak menyangka sama sekali Athan benar-benar berusaha untuk berubah demi dirinya.


***


Perkuliahan gelombang pertama sudah dimulai dan Fara belum menentukan pilihan untuk memilih jurusan apa. Dia dan mama sama-sama keras kepala, sementara yang lain enggak ada yang bisa menengahi.


"Nurutin mama sekali aja kenapa sih?" Ucap mama ketika mereka baru saja menyelesaikan makan malam. Mama dan papa tiba di Zurich sore tadi tepat dua bulan setelah kelulusan Fara di senior high school.


Fara mendengus meletakkan sendok dan garpunya di atas piring, "Emangnya selama ini aku enggak pernah nurutin mama?"


"Fara..!!"


"Aku bahkan enggak diberi kesempatan buat pamitan ke teman-teman aku dulu. Jadi kurang apa aku nurutin mama?"


Mama menggeram menatap tajam ke arah Fara. Sementara papa cuma bisa mengelus pelan punggung tangan istrinya.


"Aku mau ambil jurusan jurnalistik, aku enggak mau kuliah kedokteran." Ucap Fara dingin.


"Silahkan kalau kamu jadi jurnalis, terserah kamu. Toh kamu sudah merasa besar, enggak perlu pendapat mama lagi."


"Mama... "


Entahlah, dada Fara rasanya ingin meledak, dia berdiri kemudian berlari masuk kedalam kamar. Fara merasa kalau hidupnya tak lebih dari sebuah boneka, boneka mainan mama. Yang harus menuruti dan menjalankan apa yang jadi keinginan mama.


Dulu waktu mama mendepak Fara keluar dari rumah, tak pernah sekalipun mama memikirkan perasaan Fara, padahal Fara juga korban. Cuma satu kesalahannya karena masuk ke kamar laki-laki, tapi tidak seharusnya mama sampai membuat Fara pergi, menyita ponselnya, dan tidak memberi kesempatan Fara sama sekali untuk berpamitan ke sahabatnya termasuk juga ke Athan.

__ADS_1


Sampai disini akhirnya Fara jadi berfikir kalau mama tidak menyukainya, Fara anak yang tidak pernah diinginkan mama, Fara terlahir dari sebuah kesalahan, mama enggak pernah mencintai papa kandung Fara. Seperti itulah pikiran kotor yang menggerogoti otak Fara saat ini.


to be continue


__ADS_2