JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Kabur 2


__ADS_3

AGA


Mobil kami melaju kencang membelah keramaian dengan dua mobil menyusul, mengejar dibelakang. Aku selalu suka adegan fast and furious, balap liar dan semacamnya, sangat memacu adrenalin ketika menonton yang seperti itu. Tapi enggak jika aku merasakannya sendiri, ini Bandung guys, yang benar saja.


Tepat ketika mobil kami berbelok di jalan pintas yang lumayan lenggang, dua mobil itu berhasil menyalip, dan kami tentu saja terkepung. Mobil terpaksa berhenti. Kulirik sekilas Raya yang terpaku dengan tubuh bergetar, gadis ini ketakutan.


"Jangan mengorbankan diri kalian, aku akan keluar dan kembali kesana." Raya menatapku dan Ian bergantian. "Kumohon, ini masalahku, kalian enggak seharusnya terlibat, biarkan aku menyelesaikannya sendiri."


"Dasar bodoh, kami akan menghadapi mereka." Gigiku gemeretak.


"Kalian akan mati, ku mohon... Mereka bukan tandingan kamu, Ga. Mereka ada banyak. Biarkan aku keluar, aku akan menerima pernikahan ini."


Raya sudah ingin keluar dan membuka pintu mobil, ketika tanganku mencekalnya. "Tunggu disini, okay. Percaya padaku....Aku dan Ian bisa menghadapi mereka."


Aku enggak perlu persetujuan Raya untuk keluar dan menghajar para preman itu, setelah mengangguk sekilas kearah Ian. Kami keluar, mengunci Raya yang menangis didalam mobil.


***


Aku memperhatikan orang-orang yang sedang mengepungku dan Ian. Mulai dari tempat mereka berdiri, jarak mereka padaku, sampai benda- benda yang ada disekitar targetku. Mulai dari balok kayu dan pisau yang ada ditangan mereka, atau yang terselip dipinggang mereka. Aku bisa melihatnya dari tonjolan kecil dibalik jaket yang mereka kenakan.


Aku sedang menganalisa lawanku, untuk menghitung seberapa cepat dan mampunya aku melumpuhkan mereka.


"Gue tau lo sangat hebat, Ga. Juara taekwondo, kung-fu atau apalah. Tapi kita dikepung oleh 10 orang, matilah kita." Ian berbisik.


"60 detik." balasku singkat.


"Are you kidding me? 6 detik untuk melumpuhkan satu orang!!"


Aku enggak menggubris ketidakpercayaan Ian. Aku hanya memperhatikan gerak-gerik lawanku yang tampak gugup, ini sangat menguntungkan.


Aku beranjak. Melompat dan menendang salah satu dari mereka. Meninju dada dari yang lainnya, yang akan mengambil pisau dipinggangnya, namun pisau itu sudah tidak ada, karena sekarang pisau itu berada ditanganku. Gerakanku seperti kilat, mereka terlalu mudah dikalahkan, bahkan tubuhku saja belum terasa panas.


Sesuai perkiraanku, 60 detik mereka lumpuh. Aku berjongkok pada salah satu dari mereka. "Katakan pada bos kalian, jangan pernah mengganggu Raya. Kalau dia berani menyentuh Raya seujung kuku pun, dia akan mati."


" Si- sia, siapa kau?" Pria itu tergagap dengan darah segar mengucur dari pelipisnya akibat terbentur ujung trotoar tadi.


"Aku JAGAD BIMASAKTI ADYAKSHA."


"Adyaksha???" dia bergumam ketakutan.


Aku menginjak pria itu sambil berdiri, "Sampaikan itu pada bos kalian."

__ADS_1


***


Raya masih menangis ketika aku dan Ian masuk lagi kedalam mobil. Aku memeluk Raya singkat, sekedar memberitahu bahwa semua baik- baik saja. Tidak ada yang bicara sampai kami memasuki tol, Ian diam fokus menyetir, aku juga terlalu lelah untuk memulai obrolan, dan juga mengantuk. Hanya suara sesegukan sisa tangis Raya yang tersisa memecah keheningan. Mobil kami langsung kembali ke Jakarta, menuju apartemenku.


Aku langsung merebahkan diri di sofa, sementara Ian berpamitan pulang setelah tertidur hampir satu jam di atas karpet saat kami tiba. Ian berpesan agar tidak terlalu mendesak Raya untuk bercerita apa yang sudah terjadi padanya. Gadis itu masih syok, aku menyuruhnya untuk beristirahat dikamarku.


Raya ngotot tadinya ingin memakai kamar tamu, tapi kamar tamu belum sempat dibersihkan. Tidak ingin berdebat lebih lama, aku terpaksa memaksanya, hingga akhirnya Raya mengalah dan masuk ke kamarku.


Ternyata aku tertidur disofa, kejadian beruntun dari pencarian Raya sampai insiden membawa kabur pengantin membuat tulang- tulangku rontok semua, aku terbangun ketika perutku berbunyi. Aku lapar. Kulirik pintu kamarku yang masih tertutup, tak lama terbuka, memunculkan wajah Raya dibaliknya.


"Ga...?"


"Ya?" Aku duduk dan menoleh.


"Enggak jadi deh." Pintu kembali tertutup, secepat benda Itu terbuka tadi. Aku hanya menggelengkan kepala dan menuju dapur, perutku benar- benar lapar. Kami hanya makan bubur kacang hijau tadi pagi di Bandung sebelum membawa Raya kabur, dan sekarang sudah jam 6 sore. Aku membuka kulkas, hanya ada telur. Tak mau menunggu untuk memesan makanan online, aku berinisiatif membuat telur dadar.


Raya masih didalam kamar, sementara aku sudah menghabiskan dua piring nasi.


"Ray,, Raya... Makan dulu." Ketukku pada daun pintu kamar.


Raya muncul dari sana, aku menaikkan alis, perasaan aku sudah meletakkan kaus dan celana training tadi untuk dipakainya sebelum menyuruhnya istirahat. Tapi Raya masih memakai kebaya itu, rambutnya sudah digerai.


"Kenapa belum ganti baju?"


"Kenapa?"


Raya berbalik dan menampakkan kancing kebaya kecil-kecil dan rapat disepanjang punggungnya. Aku menghela nafas, pantas saja. Dia enggak bisa membuka kancing itu.


"Kenapa enggak bilang dari tadi." Ucapku pelan.


Raya hanya diam, tubuhnya menegang saat tiba-tiba saja aku sudah berdiri dibelakangnya. "Aku bantu buka."


Raya duduk dipinggir ranjang, dengan rambut yang sudah disisihkannya kedepan hingga menampakkan leher putih, mulus, damn. Kenapa jakunku jadi naik turun hanya karena melihat leher itu.


Aku mulai membuka satu kancing, enggak semudah yang kupikirkan ternyata.


"Kenapa bisa ada di Bandung?"


"Hahh?" Raya mengajakku bicara ternyata.


"Aku mencarimu, tiga hari enggak ke kampus, aku khawatir."

__ADS_1


Dua kancing telah terbuka...


"Terus?"


"Ian mengajakku kerumah mu. Tapi kata mereka kamu mau dinikahkan."


"Mereka pelacur-pelacur ayah." Ada nada getir di suara Raya ketika ia mengungkapkan itu. "Ayahku seorang mucikari, dan aku tinggal dikampung pelacuran. Itulah alasan kenapa aku terus menghindarimu, aku terlalu malu."


6 kancing terbuka...


Fokusku terpecah, antara mendengar cerita Raya dan menatap punggung mulus dan lembut di hadapanku. Seperti tersengat arus listrik pendek, tubuhku menegang ketika secara tak sengaja kulit tanganku bertemu kulit halus milik Raya.


"Shhiit,,!!" Aku mengumpat pelan, dia bangun tanpa diminta, disaat yang enggak tepat. Mana aku cuma pakai celana pendek berbahan kaos, sangat memalukan melihatnya menonjol mengejekku dibalik celana.


"Ga?" Sepertinya Raya mendengar umpatanku, gadis itu berhenti bercerita.


"Ya?"


"Aku belum pernah cerita tentang orangtuaku kan?"


"Iya.."


"Dulu ayahku pernah masuk penjara, dan mama melarikan diri dari hutangnya. Meninggalkan kami dibawah pengasuhan eyang. Waktu itu aku masih kelas 3 SD."


Delapan kancing terbuka...


"Setelah bertahun- tahun, akhirnya mama kembali. Ayah dan mama mengajakku untuk tinggal bersama. Tapi ternyata mama masih memiliki hutang yang besar pada pak Horison. Pria yang tadinya akan menikahiku. Ga? kamu dengar kan?"


10 kancing terbuka...


"Kamu enggak pake bra, Ya?"


"Hahh?" Raya terperanjat, tiba-tiba kikuk. "Bajunya memang didesain seperti ini, sudah ada cup dibagian depan kebaya." Raya kesulitan berucap.


Dasar bego lo Aga, Raya jadi malu sekarang. Kulit wajahnya pasti memerah, bisa dilihat dari telinganya yang ikut memerah. Tubuh Raya bergerak tak nyaman.


" Udah kebuka setengah, sepertinya kebayanya sudah bisa dilepas, makasih, Ga." Raya langsung berlari ke kamar mandi.


***To be continue


Happy reading semua

__ADS_1


Like, komen, ya***...


__ADS_2