
RAYA
Aku menggeleng pelan, mencoba mengusir pemikiran bahwa benar Aga cemburu. Kalaupun dia cemburu, untuk apa coba? aku mengetuk kepalaku dengan buku jari, enggak sepantasnya pemikiran seperti itu melintas di otakku.
Aga enggak mungkin cemburu atau memiliki perasaan khusus padaku, sangat tidak masuk akal. Aga dengan segala atribut yang dimilikinya enggak mungkin menyukai perempuan biasa - biasa sepertiku. Lagipula dia sudah ada Shella, berbie hidup yang super cantik, yang tentu saja sangat di cintainya. Aku menggeleng kuat, dan tertawa sendiri. Sungguh pemikiran konyol yang mesti dibuang jauh - jauh.
Minggu pagi, biasanya kuhabiskan di lapangan kota. Bukan untuk lari pagi, atau sekedar bersenang- senang menghabiskan waktu. Tapi aku bekerja, tentu saja. Seorang Soraya Inggria Ningrum, enggak akan membuang waktu percuma tanpa menghasilkan uang.
Lek Min beserta istrinya, yang punya kontrakan tempat aku tinggal selama ini, memiliki usaha bubur ayam. Yang kata mereka omsetnya bisa naik tiga kali lipat di Minggu pagi. Dan itu bukan isapan jempol, sejak aku bekerja bersama mereka sudah hampir satu tahun di setiap hari minggu pagi, warung merekalah yang paling rame. Rata-rata memang pengunjung akan memilih sarapan bubur ayam setelah berolahraga.
Kami biasanya berangkat mulai pukul 5 pagi dan selesai pukul 10. Aku baru saja membereskan mangkuk dan cangkir minum, menyusunnya kembali ke keranjang dan dimasukkan ke mobil pick up milik lek Min, ketika netraku menangkap sosok tak asing.
Ayah...
Ayah berdiri tak jauh dari mobil pick up lek Min, wajahnya tampak pucat dan lelah. Aku berjalan menghampiri ayah setelah berpamitan pada lek Min.
***
"Ayah sakit?" Pertanyaan itu mencuri keluar dari bibirku setelah kami duduk di bangku taman, tepat di sisi timur lapangan. Hubunganku dengan ayah enggak merenggang, tapi juga enggak bisa dikatakan dekat. Aku hanya enggak mau hidup bersama ayah di kampung pelacuran nya itu. Jadi walau hanya sebulan, dua atau tiga kali, kami masih rutin bertemu.
Ayah enggak menanggapi pertanyaanku, malah membawa berita yang mengejutkan. "Fiza ditangkap polisi." Ungkap ayah berat, membuat mataku membola seketika.
"Abang?"
"Ditangkap kemarin, sekarang masih di sel Polres."
"Kenapa..?" gagapku.
"Dia menculik anaknya sendiri, dan hampir membunuhnya. Katanya dia ingin mati bersama anaknya. Beruntung ada warga yang melihat saat Fiza berusaha mencekik anak itu, sekarang, Jean masih dirawat di Rumah Sakit, anak itu trauma."
Aku menutup mulutku dengan kedua telapak tangan, bang Fiza benar-benar sudah gila, bagaimana bisa dia melakukan tindakan kriminal seperti itu.
__ADS_1
"Abangmu depresi, Raya. Seharusnya dia dirawat di rumah sakit jiwa, bukan di dalam penjara."
Mataku sudah berembun, sekali aku berkedip, maka airmata akan jatuh dari sana. Sekejam-kejam nya bang Fiza, dia masih abangku. Mendengar hidupnya hancur seperti itu, ada bagian hatiku yang ikut tersakiti.
Bang Fiza enggak seperti itu dulu. Dia kakak laki-laki yang baik meski cenderung cuek. Hanya bang Fiza, saudara yang kupunya. Kami sudah melewati hampir dari setengah umur kami bersama dalam suka dan duka. Namun beberapa tahun terakhir ini merupakan cobaan terberat untuk bang Fiza.
Aku meremas ujung kemeja yang kupakai, sambil menahan tangis yang dalam hitungan detik akan tumpah.
"Fiza bisa saja direhabilitasi dan tidak dipenjara, tapi mereka minta uang. Ayah mana ada uang. Sudah satu bulan ayah enggak kerja lagi."
Sontak aku langsung menatap ayah, "Ayah sakit?" Pertanyaan itu ku ulang lagi.
Ayah hanya menggeleng pelan, "Ada yang ingin ayah bicarakan serius ke kamu, Soraya."
"Apa?"
"Mama kamu sudah pulang."
"Mama?" mataku membola untuk kedua kalinya dalam lima belas menit terakhir ini.
Entahlah, aku harus bereaksi seperti apa. Di satu sisi, aku sangat merindukan mama, namun disisi lain ada kecewa yang enggak bisa aku sembunyikan, saat dia memilih pergi meninggalkan aku dan bang Fiza dulu.
Dan akhirnya, disinilah aku berada. Di dalam rumah yang sudah bertahun-tahun aku hindari. Rumah masa kecilku, rumah yang menyimpan sejuta kenangan. Rasa manis, pahit, kecewa, luka, semua jadi satu saat aku duduk di sofa usang di rumah ini. Aku menatap foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto itu masih berada di posisi yang sama saat terakhir ku tinggal. Foto Ayah yang menggendongku, dan mama berada disampingnya sambil memeluk bang Fiza. Kami bahagia kala itu, merayakan ulang tahun bang Fiza yang ke 9 tahun.
Aku tersentak saat sosok mama muncul dari pintu belakang, ia menyingkap gorden yang entah kapan terakhir kali di cuci.
"Raya... " Mama berdiri mematung.
"Mama..?"
Mama masih cantik, meski penampilannya saat ini terkesan lusuh. Mama mengenakan kaos longgar dan celana denim. Dia berjalan mendekatiku yang masih kaku ditempat.
__ADS_1
"Maafkan mama, Raya. Maafkan mama.. hiks hiks." Mama memelukku erat,erat sekali sampai aku kesusahan untuk bernafas.
"Kemana aja mama selama ini?"
"Mama bersembunyi, mama lari ke Padang."
"Padang? Sumatera Barat?"
Mama mengangguk, "Di Pariaman, kerja di warung makan."
"Terus kenapa balik?" ya Tuhan, pertanyaan apa itu, aku bukan bermaksud untuk ketus, tapi kata-kata itu meluncur sendiri tanpa sempat aku rem.
Mama menunduk, ia menangis lagi, "Maafkan mama, Raya. Karena mama, kalian harus mengalami ini semua. Mama tau ini sudah sangat terlambat, tapi beri mama kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Maafkan mama."
Jauh dilubuk hatiku yang terdalam, aku rindu mama. Terlepas dari kesalahan yang ia perbuat dimasa lalu, dia tetap mama. Aku luluh, hanya dengan melihatnya menangis seperti ini. Kuraih tubuh mama, dan ku peluk erat erat. What's past is past, aku enggak perlu melirik ke masa lalu. Aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi sebagai takdir yang memang ditetapkan untukku.
Kami duduk bertiga dimeja makan kecil di dapur, mama sudah memasak rendang ayam, dia sesumbar kalau sekarang dia sudah jago masak setelah belajar di warung makan tempatnya bekerja dulu. Dan terbukti, masakan mama memang lezat.
"Besok kita bawa ini untuk Fiza." Ucap mama.
"Bang Fiza boleh dijenguk?"
"BHP nya sudah selesai, dan akan dinaikkan ke kejaksaan, jadi sudah bisa di jenguk." Kali ini ayah yang bicara. "Lusa mau dipindahkan ke Lapas."
Aku menghela nafas pelan.
" Raya, pindah ke sini lagi ya? tinggal sama ayah dan mama, mau ya?" ayah meraih tanganku, tatapannya memohon membuatku enggak bisa mengatakan tidak. Aku menelan ludah, lalu beralih ke mama. Ekspresinya enggak berbeda jauh dari papa, hingga untuk kesekian kali aku luluh, dihadapan mereka, aku mengangguk. Memilih untuk kembali tinggal di kampung pelacuran yang sangat kebenci.
***To be continue...
Happy reading ya..
__ADS_1
Like n komen nyaaa
Makasih kk kk tersayang***....