JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
BAB XVII


__ADS_3

Mereka tiba di bandara Ngurah Rai tepat pukul 12 siang, dan langsung dijemput bus menuju hotel tempat mereka menginap selama empat hari tiga malam di Bali. Satu kamar ditempati oleh 2 orang, dan Fara sekamar dengan Ve, sedang  Sarah mendapatkan kamar di ujung lorong, dua kamar dari kamar Fara.


Karena acara baru akan berlangsung besok, maka Fara, Ve dan Sarah berencana untuk menghabiskan waktu di pantai, mereka akan berenang, kebetulan keberadaan hotel mereka sangat menjorok ke bibir pantai.


Menggunakan kamera smartphone, Fara berkali- kali memastikan apa yang ia kenakan masih dalam batas normal, yakni kaus dan celana pendek sepaha. Setelah melihat beberapa tamu hotel yang mengenakan bikini, barulah Fara berjalan seperti biasa, walau  tidak bisa juga dikatakan terlalu biasa saat ia melewati Athan dan Faza yang tengah duduk di lounger.


Melewati mereka, mau tidak mau Fara menyapa dengan cepat, sebisa mungkin menghindari kontak mata apapun dengan Athan karena masih dipusingkan dengan percakapan mereka tadi saat di pesawat.


Athan menanyakan kembali ke Fara soal keputusan cewek itu. Athan masih kekeuh ngajak balikan, yang tentu saja ditolak Fara dengan tegas. Fara enggak mungkin dong mau balikan begitu saja tanpa tau maksud terselubung dari cowok itu. Dan sejak turun dari pesawat, kemudian mereka menaiki bus sampai saat ini ketika mereka sama- sama berada di pantai, keduanya belum bicara lagi.


Buru- buru Fara menghampiri Ve dan Sarah yang sudah bergabung dengan anak- anak lain. Ada Dru yang sempat disapa Fara dengan ramah tentunya, mengingat kejadian baku hantam antara Dru dan Athan tempo hari, Fara belum bicara apa- apa lagi ke Dru. Keduanya memisahkan diri sebentar, dan Fara meminta maaf soal kejadian di warung soto juga bertanya keadaan Dru, sekedar basa- basi sebenarnya. Dru pun demikian, cowok itu menanyakan kondisi Fara yang katanya sakit sampai enggak masuk sekolah selama tiga hari.


Dan tentu saja, interaksi Fara dan Dru itu dilihat jelas oleh Athan yang langsung buang muka saat tidak sengaja setatap- tatapan dengan Fara.


Fara memisahkan diri dari Dru setelahnya, dan kembali bergabung bersama teman- temannya.


“Than, fotoin kita dong.” Ve meminta ketika Athan dan Faza berjalan melewati mereka. Gadis itu segera menyerahkan ponselnya kepada Athan. Fara juga ikut mengambil posisi dan tersenyum ke arah kamera. Matanya hanya melihat kamera, sebisa mungkin menghindari Athan.


“Full body?”


“Ya.”


“Ve, poni lo rapiin dikit. Sarah merapat lagi....” Sarah menggeser tubuhnya lebih merapat ke Cia yang berdiri di tengah.


Arahannya terdengar meyakinkan. Athan is good about photography.


“Lagi dong Than.”

__ADS_1


“Eh, boomerang juga ya Than.” Cia menambahkan, “Please.”


Athan menurut saja keinginan- keinginan para cewek ini, meskipun tampangnya tidak ada senyum- senyum sama sekali. Lumayan puas berpose, Ve dan Cia mendekat, berdiri disisi kiri dan kanan Athan, melihat hasil foto mereka. Sarah juga ikut mendekat, dalam sepersekian detik mereka kompak melihat ke arah Fara.


“Kok, Fara setengah- setengah begini sih?” Cia protes, membuat Fara jadi ikut berjalan kesana untuk melihat hasilnya yang langsung membuatnya menggeram kesal di detik itu juga.


Seketika, Fara berperang dengan jin yang ada didalam tubuhnya agar tidak segera menjambak rambut Athan.


“What in hell I do wrong to you?” Fara ingin berteriak.


Semua foto dimana ada Faranya terpotong, kalaupun ada, paling hanya setengah karena Fara berdiri paling pinggir. Fara ingin meminta foto ulang, namun sayangnya anak- anak sudah pada berlari ke air menceburkan diri.


Masih dalam mode kesal setengah mati sebab Athan meghancurkan dokumentasi yang seharusnya bisa dia bagikan di media sosial. Fara akhirnya ikut menceburkan diri ke dalam air.


“Kok Athan gitu banget sih ke lo.” Cia berbisik saat tubuh nya mendekat ke Fara.


Fara mendengus sambil mengedikkan bahu,” Enggak tau gue, aneh.”


“Enggak.”


“By the way kalian masih pacaran kan?”


Fara melirik sekilas ke Cia, memang belum banyak yang tau soal hubungan Fara dan Athan yang sudah berakhir, gadis itu menghembuskan nafas pelan,”Kita udah putus.”


“Serius?” Mata Cia membola, kemudian mengangguk- angguk, entah apa yang gadis berambut bop itu anggukkan.


***

__ADS_1


Puas bermain air, mereka kembali ke hotel untuk bersih- bersih. Sore ini semua anak berencana akan kumpul di cafe kapal pesiar yang ada di pelabuhan. Fara sudah siap dengan outfitnya, dress motif bunga melati selutut tanpa lengan dengan topi lebar nangkring dikepalanya, sementara rambut panjangnya dibiarkan terurai begitu saja.


Setibanya di pelabuhan, Fara melihat kapal pesiar yang jauh lebih mewah dan megah dari yang dibayangkannya, gadis itu sempat terpana, mulutnya sampai mengaga.


Untuk sampai ke kapal, mereka harus menaiki boat yang sudah menempel di pinggir tangga. Fara menunggu gilirannya untuk naik ke atas boat dengan excited. Ketika sudah giliran, dia malah merengut karena mendapati Athan menjadi salah satu dari yang membantu mereka menaiki boat.


Athan mengulurkan tangannya ke arah Fara, tapi perempuan itu malah berfikir sebentar. Mengingat Athan tadi sengaja memotong bagiannya saat memotret mereka, cowok ini mungkin kesal tanpa alasan padanya. Kalau Fara meraih tangan Athan, terus ternyata Athan malah mendorongnya ke laut bagaimana?


Alhasil, perempuan itu mengulurkan tangannya sejauh yang dia bisa, dia berusaha meraih sisi boat tanpa bantuan Athan, berhasil, dia melangkahkan sebelah kaki naik ke boat. Tapi pegangan terlalu jauh dan licin, sehingga Fara terperanjat. Dia memekik, berikut semua orang yang menyaksikan. Sementara disepersekian detik yang sama, Athan sigap menahan lengan dan pinggang Fara. Nyaris saja mereka berdua jatuh ke laut. Kaki Fara sampai terantuk di tangga, sakit juga.


“Susah banget ya hati- hati?”


Benturan dengan sisi tangga membuat betis Fara tergores, tidak dalam, darahnya juga tidak merembes, tapi cukup membuat Fara batal untuk ikut ke acara di cafe kapal pesiar.


“Sakit?” Athan bertanya. Cowok itu yang membantunya berjalan sampai dapat tempat duduk, sekaligus mengoleskan kakinya dengan betadine.


Fara mengangguk pasrah. Kepalanya terus menunduk ke arah betisnya. Dibandingkan sakit, lebih banyakan malunya.


“Salah siapa?”


“SALAH KAMU LAH!!!!!” Fara ingin menjawab begitu, dengan teriakan kalau perlu. Hanya saja kesinisan seorang Athan, auranya yang gelap, dan bagaimana dia berdiri tegak dengan tampangnya yang sedingin itu membuat Fara memutuskan untuk tidak cari gara- gara.


“Aku.”


“Ck, makanya...” Decaknya. “Lain kali, hati- hati.”


Fara mengangguk, memutuskan untuk menjadi anak baik. Biar mereka tidak perlu berdebat, bertengkar dan semacamnya. Mengingat jarang- jarang seorang Athan berkelakuan seperti barusan, jika diteruskan bisa- bisa Fara makin teraniaya.

__ADS_1


To be continue...


Athan kalau cemburu serem ya wkwkkwk,,,,


__ADS_2