
RAYA
Aku yang tadinya ingin menuju kantin langsung terhenti ketika melihat Aga di sana. Duduk bersama para petinggi perusahaan, dan oh iya, bersama bu Gigi juga tentunya. Mereka sedang mengobrol saling melempar senyum, entah mengapa hatiku sedikit memanas melihat kedekatan mereka, sedikit, yah hanya sedikit. Aga bukan siapa - siapa selain sahabat dimasa lalu, jadi berhenti bertingkah bodoh seperti ini. Aku langsung berbalik ketika mata Aga menangkap keberadaanku.
"Mbak, kok balik? Enggak jadi makan?" Andin heran melihatku yang urung masuk ke kantin.
"Mbak baru ingat, masih ada kerjaan. Duluan aja Ndin." Aku berlalu dan mempercepat langkahku dan berbelok masuk melewati tangga darurat, ini lebih efektif untuk melarikan diri ketimbang lift.
Tapi seseorang mengejutkanku dengan mencekal pergelangan tanganku.
"*I got you!! "
" Akhhh*... " Aga, dia... Kenapa bisa ada disini. Aku kaget dan gugup setengah mati, tubuhku bahkan bergetar hebat. Seharusnya aku enggak perlu selebay ini. Aku bisa menyambutnya seperti menyambut teman lama, seolah enggak pernah terjadi masalah diantara kami, tapi aku enggak bisa.
Aga, enggak ada yang berubah darinya, selain semakin tampan dan mempesona diusianya yang bukan lagi remaja. Ku pikir aku tidak akan bertemu dengan sosok ini lagi. Tapi rupanya terkadang takdir punya jalannya sendiri. Aku ingin tertawa mengingat betapa lucunya hidup mempermainkanku. Setelah lima tahun aku berhasil membuang jauh- jauh bayangan Aga dalam hidupku, dan hari ini dia datang, berdiri tepat dihadapanku dan memelukku.
"Le.. pas, Ga. Nanti ada yang melihat kita." Tubuhku memang enggak pernah imun terhadap Aga, sosoknya begitu mendominasi, membuatku bergetar tak berdaya. Aga menatap ku dalam, ada kerinduan disana yang membuncah, jakunnya bergerak samar, membuatku susah untuk beralih, baru kali ini aku merasa kalau gerakan jakun seorang laki-laki itu ternyata sangat sexy dan maskulin.
Stop Raya, aku menutup mata dan membukanya lagi. Aga memberondongku dengan pertanyaannya, aku yakin dia enggak akan melepaskanku setelah ini. Aku pergi tiba-tiba saat itu, tentu saja, Aga meminta penjelasan walaupun aku merasa enggak ada yang perlu dijelaskan disini. Aku enggak akan pernah bisa memiliki Aga, kami terlalu jauh, maksudku perbedaan yang membentang membuatku lelah duluan, tanpa berniat untuk berjuang sama sekali.
Maka ketika jam pulang tiba, aku tahu, Aga menungguku. Aku sama sekali belum siap menjelaskan apapun padanya, termasuk menjelaskan soal keberadaan Athan diantara kami. Ini begitu rumit. Lagipula sekarang Aga akan dijodohkan dengan bu Gigi, Giana gadis cantik, berkelas, anggun, mereka cocok dari segi apapun. Aku enggak perlu membuat drama queen dengan datang tiba-tiba pada Aga, mengatakan kalau kami memiliki anak bersama hasil dari kesalahan malam itu.Lupakan.
Aku menghela nafas panjang, membasuh wajahku di wastafel di wc kantor. Sudah pukul lima sore, dan bus yang biasa mengantar kami pasti sudah pergi. Aku berjalan menuju gerbang belakang, disana ada pintu yang biasa digunakan petugas untuk membuang sampah. Aku bisa melewati jalan itu, sebab aku enggak mungkin melewati gerbang depan, ada Aga yang menungguku disana.
Aku langsung menyetop angkot yang akan mengantarku pulang, hatiku berdenyut nyeri saat angkot melewati gerbang depan pabrik, ada Aga disana, tengah berdiri disamping mobilnya sambil melirik jam, dia menungguku.
***
__ADS_1
Ayah dan ibu sedang duduk di teras depan. Sedang Siska dan Athan menonton di ruang TV. Aku baru ingat kalau memiliki janji pada Athan untuk menelepon om, entah siapa itu.
"Athan, jadi mau telpon om?" Tanyaku.
Athan menoleh dan mengangguk bersemangat, dia sampai berdiri dan beralih kerahku.
"Jadi, ibuun."
"Pake ponsel bibi Siska aja ya, minta tolong bibi Siska telpon Om nya, bunda ada perlu sama kakek." Senyumku terkembang saat bibir Athan mulai mengerucut.
Siska langsung mendekati Athan, tampak lebih bersemangat dari bocah itu. "Om siapa nih, cieee yang udah punya Om, pacarnya ibun kamu ya?"
"Huss sembarangan, itu om yang dimaksud Athan, kakak sepupunya teman kamu."
"Oppa Song Jong Ki? kok bisa? Athan emang punya nomernya?" Mata Siska menatap Athan heran bercampur takjub.
Aku tergelak pelan, "Temani dulu ya, mbak ada perlu sama ayah." Tolehku cepat ke Siska sebelum berjalan ke teras depan, bergabung bersama ayah dan ibu.
***
"Loh, ibu mana yah?"
"Barusan dijemput sama bude Larmi, ikut pengajian. "
" Oh.. " Aku baru ingat, tiap malam selasa, ibu ikut pengajian RT yang diadakan di masjid kampung. Rata- rata ibu- ibu semua sih anggotanya, aku pernah ikut dua kali, dan yang paling muda tentu saja aku waktu itu.
"Kenapa Ray?" Seolah mengerti isi pikiranku yang sedang penuh, ayah menungguku berbicara. Kalau aku sudah menyusul ke teras, biasanya ada yang ingin aku bicarakan, ayah sudah hafal itu.
__ADS_1
"Aku ketemu Aga, yah." Ucapku pelan, sangat pelan nyaris tak terdengar.
Untuk sesaat ayah diam. Ayah saksi pertama yang mengetahui kehamilanku waktu itu. Hati orang tua mana yang enggak terluka, melihat anak gadisnya hamil tanpa suami, tanpa pernikahan. Tapi ayah enggak marah, dia enggak pernah marah padaku atau mempertanyakan kenapa bisa terjadi.
Alih-alih marah atau kecewa, ayah malah sibuk menyalahkan dirinya sendiri. Ayah menganggap kehamilanku adalah karma karena pekerjaan kotornya dimasa lalu. Ayah menangis waktu aku cerita, dia hanya memelukku dan mengatakan, mengapa aku yang menanggung semua dosanya, kenapa aku yang dijatuhi hukuman bukannya dia.
Maka sejak saat itu, ayah orang pertama yang melindungi ku. Kehamilanku enggak mudah, aku mengalami hiperemesis gravidarum, Mual muntah yang parah, hingga harus di opname di RS. Belum lagi cuitan tetangga, kerabat ibu dan orang-orang sekeliling yang meremehkan, membuatku bertambah stress. Tapi ayah, ibu dan Siska menguatkanku, mereka rela memasang badan, menjadi tameng untukku, memberiku perhatian dan cinta agar aku bisa berdiri tegak menghadapi dunia.
Pun saat aku melahirkan Athan, aku mengalami perdarahan hebat, sampai aku berpikir bahwa itulah saat terakhirku. Jika memang harus pergi, maka aku ikhlas, kubilang ke ayah untuk memberi nama belakang Adyaksha untuk anakku.
Satu minggu aku berada di ICU, dalam kondisi tidak sadarkan diri. Ayah memberikan nama Ranathan Adyaksha pada bayi laki-laki yang kulahirkan. Aku baru bisa menggendong Athan saat usianya satu bulan.
Tepat saat Athan genap satu tahun, aku mendapat pekerjaan di PT. Laboratoria Medicad, waktu itu hanya menjadi supervisor, aku bahagia. Aku mulai menata kembali hidupku, berjalan tegak menantang dunia, mesti nyinyiran masih tetap ada. Enggak mudah menghadapinya, aku tahu itu. Bagi seorang wanita yang hamil dan punya anak di luar nikah tanpa suami memang cukup berat.
Pandangan merendahkan, menganggapku wanita murahan, wanita penggoda selalu mengiringiku kemanapun aku melangkah, tapi aku adalah Soraya, hidupku memang didesain untuk tahan banting sedari kecil.
"Aga tahu soal Athan?"
Aku menggeleng lemah ke ayah, "Dia enggak perlu tahu, yah."
"Aga harus tahu, bagaimanapun Athan adalah anaknya, darah dagingnya, terlepas dari hubungan kalian seperti apa." wajah ayah mengeras.
"Aku enggak ingin ini jadi rumit."
Sebab aku tahu apa yang akan terjadi setelah Aga tahu keberadaan Athan.
To be continue...
__ADS_1