
AGA
Aku enggak tahu harus menceritakan ini dari mana. Semuanya begitu tiba-tiba, dalam semalam, aku sudah menjadi seorang ayah dan memiliki anak berusia 4 tahun. Mama dan papa sepertinya memang menungguku sedikit tenang. Terbukti dari keduanya yang masih betah berada diruang keluarga sambil menonton siaran TV.
Aku menuruni tangga dan ikut bergabung bersama mereka setelah Ian pamitan pulang. Diam dan berusaha merangkai kata- kata yang pas agar papa dan mama enggak syok setelah mendengar pengakuanku.
"Ma...?" Aihhh, kenapa malahan sekarang aku jadi gugup, mama akan memarahiku, itu pasti. Tapi apa mama akan menerima Raya dan Athan? aku mencoba meneliti air muka mama, baik mama maupun papa masih menungguku dengan wajah datar yang enggak bisa ku tebak sama sekali.
"Ma, Pa, ada yang mau aku bicarakan." Aku berdehem pelan, rasanya kerongkonganku kering, aku butuh minum, dan meminum air dalam gelas yang berada di atas meja, entah minum siapa, mungkin minum papa.
"Ma, aku udah punya anak, usianya 4 tahun, maksudku yang dikatakan Giana tadi, benar kalau Raya sudah punya anak, dan itu anakku juga, aku - yang menghamilinya lima tahun lalu, jadi anak itu anakku. Anak yang dikatakan Giana itu anakku, darah dagingku- anak kami, ma."
Mama menaikkan alis, bingung tentu saja, bicaraku cepat dan enggak jelas. Aku bahkan enggak yakin pengakuan barusan keluar dari mulutku. Namun kalimat itu agaknya bisa dicerna papa dengan baik.
Masih dengan wajah datar tanpa emosi, papa menatapku. "Bagaimana kamu bisa seyakin itu kalau Raya hamil anakmu dan kenapa kamu bisa menghamilinya dan baru membicarakan ini sekarang?"
Kepalaku mendadak pening mendengar rentetan pertanyaan papa. Pertama- aku memang enggak tahu kalau aku punya anak, Raya sama sekali enggak memberitahuku perihal kehamilannya, kedua- aku yakin 100% kalau Raya hamil anakku, aku percaya dan itu enggak perlu aku ragukan lagi, ketiga- kenapa aku bisa menghamili Raya, karena aku brengsek.
"Ga, sumpah, mama mau marah sebenarnya sama kamu, bagaimana bisa ?!!!" mama memijit pelipisnya syok. "Dan lagian, kamu enggak bisa menyimpulkan begitu saja kalau anak Raya adalah anak kamu juga, kamu harus memastikan dulu."
" Ma, aku percaya Raya. Aku yang menidurinya waktu itu, lalu pergi ke London, tanpa tahu kalau Raya hamil. Aku sudah melihat sendiri anak itu, dia sangat mirip denganku, dia anakku ma."
"Lakukan tes DNA, kalau benar dia anakmu, nikahi gadis itu, kamu harus bertanggung jawab." Tegas papa.
"Aku enggak perlu tes DNA atau tes apapun untuk menikahi Raya." Gigiku gemerutuk menahan emosi, jelas papa belum percaya kalau anak Raya adalah anakku juga sampai adanya bukti konkret. Tapi dengan melakukan tes DNA sama saja seperti membunuh Raya. Dia akan merasa bahwa aku meragukan nya dan Athan. Itu bisa menyakiti Raya, dan aku enggak ingin lagi Raya terluka.
.
.
.
Yang pertama kali kulakukan setelah tiba di Surabaya adalah mendatangi alamat yang diberikan Gigi ketika makan malam. Bermodal selembar kertas, aku menyusuri perumahan di daerah tersebut. Enggak terlalu sulit menemukan rumah Raya, rumahnya terletak di ujung komplek, dengan posisi hook sehinga memiliki tanah berlebih di sampingnya dan itu dijadikan sebagai kebun keluarga, ada tanaman tomat, cabe, dan kacang panjang disana.
Rumah sederhana itu tampak asri dan juga sepi. Aku mengetuk pintu beberapa kali, namun enggak ada tanda-tanda keberadaan orang disana.
__ADS_1
"Cari siapa dek?" seorang nenek, kutaksir berusia 70 an datang mendekatiku, masuk lewat pagar depan rumah Raya.
"Mau tanya mbah, benar ini rumah Raya?"
"Oh Soraya,, iya betul. Tapi jam segini nggak ada orangnya. Soraya kerja, palingan maghrib baru pulang. Ayah sama ibunya di Toko, Siska sekolah."
Aku tahu soal itu. Tadi pagi aku sempat menghubungi Raya, sekedar memastikan kalau dia balik kerja lagi. Aku bersikap seolah enggak ada kejadian, dan Raya sama sekali enggak mencirigaiku, Raya juga enggak tahu kalau aku berangkat ke Surabaya hari ini. Dan orang-orang yang disebutkan si mbah tadi, siapa aja? kok banyak banget, setahu aku Raya cuma punya ayahnya.
"Anaknya sekolah, biasanya kalau pulang langsung di ajak ke toko." Tambah mbah sambil meludahkan sirih dalam mulutnya ke tanah. Eww.
"Toko?" ulangku.
"Iya toko kelontong yang di ujung itu, pas di perempatan. Datang aja langsung kesana."
Aku mengangguk sebelum mengucapkan terima kasih ke mbah. Benar kata si mbah, tokonya enggak terlalu jauh, pas di perempatan. Hanya itu satu-satunya toko kelontong yang menjual sembako. Toko itu diapit oleh dua ruko, di kiri kanannya. Ruko pangkas rambut, dan yang satu lagi fotokopian.
Aku berdiri ragu di depan toko, entah kenapa tiba-tiba nyaliku ciut. Ketika melihat wajah ayah Raya muncul dari balik rak toko, aku sampai mundur dua langkah.
Matanya memicing melihatku, mungkin mencoba mengingat sebab baru sekali kami bertemu, dulu waktu aku membayar hutangnya. Akupun sebenarnya hampir lupa wajah ayah Raya seperti apa, kalau enggak ingat tahi lalat besar di ujung hidungnya itu.
Tak lama seorang wanita dengan wajah keibuan ikut mendekati kami, dia bukan mama Raya, aku masih ingat mama Raya enggak seperti ini.
"Dia istri baruku." Ucap ayah Raya seolah bisa membaca isi pikiranku dan aku mengangguk hormat.
Ayah Raya membawaku duduk di kursi di luar tokonya, dia menghembuskan nafas panjang sebelum menatapku dalam- dalam. "Kenapa baru datang sekarang?"
Pertanyaan ayah Raya yang langsung to the point membuatku terluka lagi, dia enggak menghakimi tapi bertanya dengan nada yang sama terlukanya sepertiku.
"Waktu Raya menelepon, kalau dia ingin ikut ke Surabaya setelah wisuda, aku sangat senang. Setelah bertahun dia menghindariku, akhirnya dia mau tinggal bersamaku lagi, aku tahu dia malu karena pekerjaanku dulu. Tapi saat dia bilang, kalau dia hamil, aku sangat terpukul. Aku merasa ini karma untukku karena sudah begitu banyak menjual gadis pada lelaki hidung belang dimasa lalu. Dan Raya yang harus memikul dosaku."
"Aku- aku minta maaf." Gagapku, mataku seperti terbakar saking panasnya.
"Dia bersikeras tidak ingin kamu tahu, dan ingin membesarkan anaknya sendiri. Aku tidak tahu alasannya apa, aku hanya bisa menurutinya waktu itu." Ayah Raya membuang pandangannya jauh ke depan. "Namanya Athan Adyaksha." toleh ayah Raya kembali padaku.
Aku tercekat, ada sesuatu yang mengalir hangat di dadaku, setidaknya Raya menyelipkan nama keluargaku untuk anak kami.
__ADS_1
"Raya yang memintanya, dia bilang kalau seandainya dia harus pergi dan tidak bisa merawat anaknya, Athan masih memiliki identitas dari ayahnya. Yah, waktu itu Raya perdarahan saat melahirkan Athan, dia koma satu minggu dan harus dirawat di ICU."
Kali ini aku enggak bisa menahannya lagi, sekuat apa aku mencoba, air mataku tetap menetes, "Maafkan, aku om. Aku benar-benar menyesal. Aku akan bertanggung jawab, aku mencintai Raya dan anak kami."Lirihku pelan. Kedengarannya memang sangat terlambat, tapi aku sungguh-sungguh, aku akan menebus kesalahanku pada Raya dan juga Athan.
Ayah Raya hanya diam lalu berdiri, "Pergilah jemput Athan disekolahnya, dia sudah pulang jam segini. Nanti aku telpon gurunya di sekolah kalau kamu yang jemput."
Perkataan ayah Raya itu kuanggap sebagai restu beliau padaku, dan aku langsung berdiri dengan semangat menggebu dan jantung yang berpacu kencang. Untuk pertama kalinya aku akan menjemput anakku, ya Tuhan, dia benar-benar anakku, dan aku akan datang kesekolahnya, menjemputnya. Aku ingin melompat saking terharunya.
To be continue
Assalamualaikum kakak kakak readers tersayang, ada salam nih dari Aga dan Raya... Sebentar lagi bulan Ramadhan, Marhaban ya Ramadhan yaaa... Mohon maaf lahir batin,,
Terimakasih sudah membersamai setiap langkahku dalam menulis di Mangatoon dan Noveltoon sampai saat ini.
Tadinya aku mau tamatin cerita Jagad Raya sebelum Ramadhan, tapi sepertinya gak bisa, enggak keburu waktu.
Aku mau libur nulis selama Ramadhan, tapi Jagad Raya jadi gantung,. Gimana nih.. Kakak kakak bisa pilih option ini.
Jagad Raya dibagi 2 season, part ini tamat nanti ada season 2, Jagad Raya after marriage setelah lebaran.
Tetap nulis cuma waktu up nya gak bisa janji.
Gimana kakak???
__ADS_1