
RAYA
Aku pulang ke rumah dengan status sebagai pacar Aga. Rasanya masih asing, sering membuatku senyum- senyum sendiri, lalu kemudian mengutuk diriku yang bertingkah lebay, padahal sudah emak- emak beranak satu. Ya Tuhan, memalukan sekali.
Aku seperti remaja yang baru mengenal pacaran. Tapi sumpah demi apa, ini memang kali pertama aku pacaran dan sahabat baikku sendiri yang menjadi pacar pertamaku. Dulu, aku sama sekali takut bermimpi, hidupku terlalu rumit dan menyedihkan, apalagi bermimpi kalau suatu hari Aga bisa melihatku, melihat dalam artian mencintaiku, rasanya mustahil. Aga terlalu jauh dari jangkauan, sampai aku merasa ini enggak nyata.
"Kenapa mbak? kok senyum- senyum sendiri?"
"Hahh? enggak kok." Aku gelagapan saat Siska memergokiku.
"Mbak kayak orang lagi kasmaran tau, hahaaa!!"
"Siskaaaa!! "
"Ayo ngaku, siapa pria beruntung yang bisa mengambil hati mbak Raya ku yang cantik ini."
Aku menggeleng, enggan menanggapi godaan Siska. Suara Athan mengagetkanku, Athan memintaku untuk memeluknya sebelum tidur. Aku menciumi wajah anakku yang perlahan memejamkan mata. Aku berencana memberitahu Aga soal Athan dalam waktu dekat, tapi enggak sekarang.
Aku akan memulainya perlahan, aku enggak ingin terburu- buru. Hubunganku dan Aga baru berjalan beberapa jam. Aga juga cerita, lusa dia harus kembali ke Jakarta. Jadi ku putuskan untuk mengenalkan Athan saat Aga datang ke Surabaya lagi.
***
Enggak ada yang berubah dari Aga, dia masih manis dan perhatian sama seperti dulu. Kami seolah telempar ke masa lalu, masa- masa saat kami masih bersama dan bersahabat dekat. Bedanya, kali ini lebih romantis, namun baik aku maupun Aga, masih kucing- kucingan untuk bertemu di pabrik. Aku enggak mau ada gosip- gosip aneh, jadi aku putuskan untuk menyembunyikan hubungan kami.
Aku penasaran sejak kapan Aga mulai menyukaiku, karena yang kutahu dia enggak pernah menunjukkan gelagat kalau dia tertarik padaku selama kami bersahabat. Dia menyukai Shella dulu dan pacaran dengan Shella, dan setelah kejadian malam itu, Aga berangkat ke London dan aku menyingkir ke Surabaya. Jadi enggak ada ruang untuk Aga tertarik padaku selain dari manifestasi rasa bersalahnya padaku. Tiba-tiba saja tubuhku menegang.
"Ada apa?" Aga merasakan tubuhku yang berubah, Yah, karena memang saat ini kami duduk berdampingan di sofa kamar hotel Aga.
Husss, jangan berfikir aneh- aneh. Kami hanya menghabiskan waktu mengobrol dan nonton film, Aga yang meminta, karena besok dia harus balik ke Jakarta. Kebetulan hari ini hari sabtu, jadi aku mengiyakan ajakan Aga.
Aku menoleh, "Sejak kapan kamu menyukai?" Suaraku terdengar serak saat menanyakan itu ke Aga.
Aga tersenyum, lalu menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga, "Aku enggak tahu, mungkin sejak awal memang aku sudah menyukaimu."
__ADS_1
Keningku berkerut," Tapi kamu pacaran sama Shella, kamu naksir Shella." protesku.
"Mungkin itu salah satu bentuk penyangkalanku, tapi kamu benar, aku sempat naksir Shella, aku pikir itu cinta, aku maksain keadaan agar cocok sama Shella, tapi ternyata itu bukan cinta, dan cinta enggak bisa dipaksakan. Aku cinta kamu, Raya. Sejak dulu perasaanku enggak berubah. Aku cuma membungkam perasaan itu dan menyangkalnya. Aku bersikeras bahwa kita hanya teman, dan sudah seharusnya hanya jadi teman."
"Kenapa kamu harus menyangkalnya? " gagapku.
Aga menggeleng pelan," Aku enggak mau kehilangan kamu."
"Kamu pikir, dengan aku tahu kamu diam- diam menyukaiku, aku akan pergi?"
Perlahan Aga menganggukkan kepala. Dan itu membuat hatiku kosong, seandainya aku tahu sejak dulu kalau Aga memiliki perasaan yang sama dengan ku, mungkin ceritanya akan berbeda. Mungkin aku bisa memilih jalan yang lain.
Aku menghela nafas pelan, "Kenapa sekarang kamu malah jujur dengan perasaanmu?" desakku.
"Karena aku sudah merasakan bagaimana tersiksanya kehilangan kamu, Ray. Aku menyesal waktu itu udah pergi dari kamu dan kamu, kenapa kamu menghilang?"
"Aku pikir menjauh adalah pilihan terbaik waktu itu." Ucapku pelan. "Tapi sekarang enggak lagi, dan aku akan menunjukkan sesuatu." Mataku berbinar, kali ini aku sungguh-sungguh ingin mengenalkan Athan pada Aga. Aku enggak sabar melihat reaksi Aga, aku yakin dia akan menerima keberadaan Athan dengan sukacita.
"Apa, sesuatu apa?" Tatap Aga penasaran.
Yah, aku benar. Dua minggu dari sekarang Aga berulang tahun, dan aku berencana memberinya kado terindah yang enggak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya, aku akan mengenalkan Athan, anak kami. Buah cinta kami.
"Aku bodoh ya, Ray." Ucapan Aga membuatku mendongak, dan mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
"Bodoh kenapa?"
"Bodoh karena enggak menyadari perasaanku sendiri. Tadinya aku pikir bisa menghapus perasaan itu saat kamu pergi, tapi yang ada malah makin menjadi- jadi." Aga menangkup kedua sisi wajahku. Dia tertawa lepas, enggak ada ekspresi menyebalkan diwajah itu, yang ada hanya sorot mata lembut penuh kasih.
Ketika melihatnya seperti ini, aku sadar, selama ini Aga menatap ku ya seperti ini, enggak ada yang berubah.
"Aku enggak pernah menyangka akan mendengar pengakuan seorang Jagad Bimasakti Adyaksha yang diam- diam menyukai Soraya." Ucapku haru.
Selamanya Aga akan tetap menjadi Aga.
__ADS_1
Aku melepaskan diri dari rengkuhannya, sambil menahan tawa, aku mencoba memukul nya, tapi Aga langsung menangkap tanganku dan menarikku masuk kedalam pelukannya.
****
Aga sudah berangkat pagi-pagi, aku enggak bisa mengantarnya ke bandara karena harus ke pabrik. Jadilah, kami berpisah hanya via telpon pagi itu. Aga berjanji akan kembali ke Surabaya dua minggu lagi, bertepatan saat hari ulang tahunnya, sebab aku sudah berjanji akan memberikan kejutan, dia sibuk mengorek kejutan apa yang akan aku berikan. Tapi aku bersikeras untuk enggak memberikan clue apa-apa ke Aga, dan dia tentu saja sangat penasaran.
Aku tiba di departemen beta laktam tepat waktu, dan mulai membungkus tubuhku dengan pakaian kerja seperti biasa ketika Andin memanggilku.
"Mbak, ada telpon dari bu Gigi, disuruh keruangannya."
"Kenapa, Ndin?"
"Enggak tau mbak, disuruh cepat katanya tadi."
Aku kembali membuka pakaian kerjaku dan menggantungnya di belakang pintu ruangan. Kenapa bu Gigi memanggilku pagi-pagi.
"Bu Gigi kesal banget mbak pas mbak enggak masuk hari Kamis kemaren."
Keningku berkerut, apa dia akan memarahiku karena aku enggak masuk hari itu, apa dia tahu aku berbohong?
"Ya udah, mbak ke ruangan bu Gigi dulu Ndin."
Bohong kalau aku enggak gugup saat ini, tapi aku coba untuk tetap berjalan tegak dan mengetuk pintu ruangan bu Gigi.
Benar dugaanku, bu Gigi sepertinya sedang kesal, bisa dilihat dari raut wajahnya yang sama sekali enggak ramah. Belum lagi aku menyapa, dia sudah melempar kertas foto ke atas mejanya.
"Bisa kamu jelaskan ini!!!! "
Mataku langsung terpaku pada foto- foto yang sudah terserak diatas meja, sebagian bahkan ada yang jatuh ke lantai.
Foto kebersamaan aku dan Aga. Ada gambar Aga yang memelukku ditangga darurat, ada Aga yang mencegatku di pintu gerbang, ada Aga yang tengah mencium keningku, kesemuanya diambil dari foto print CCTV kantor.
***To be continue
__ADS_1
Nah kan, gimana nih***....