
RAYA
Bu Gigi menatapku nyalang, seolah aku adalah seonggok kotoran yang mesti dibuang jauh- jauh. Sementara aku, aku masih terpaku pada foto- foto yang berserak diatas meja kerjanya.
"Selama ini saya berusaha untuk enggak pernah mendengar gosip miring tentang kamu. Saya seolah menutup telinga dari mereka yang mengatakan kalau kamu wanita enggak benar, hamil diluar nikah, punya anak tapi enggak tau bapaknya yang mana, wanita penggoda. Tapi hari ini, saya membuktikannya sendiri, kalau semua itu bukan hanya gosip miring, tapi fakta, DASAR JA LANG!!!!"
Aku tersentak mendengar semua ucapan bu Gigi padaku.
"Maksud ibu apa?"
"Masih nanya??? dia calon tunangan saya!!!" Kali ini bu Gigi berteriak, aku yakin orang diluar sudah mendengar perdebatan kami, mengingat ruangan ini bukan ruangan kedap suara.
"Ibu sudah klarifikasi ke pak Jagad? karena setahu saya belum ada acara tunangan diantara kalian." Aku masih menjaga ekspresiku agar tetap tenang.
"Apa?? kamu mau mencoba mengonfrontasi saya hah? kamu kira saya mengada- ada kalau Jagad itu mau dijodohkan sama saya, calon tunangan saya?!"
"Bukan - bukan itu maksud saya bu, pak Jagad itu sahabat saya dari kecil, dan sekarang kami memang sedang menjalin hubungan, yah- kami pacaran. Jadi, saya pikir saya enggak merusak hubungan siapa- siapa disini."
Bu Gigi tampak menggeram sebelum menghadiahiku dengan tatapan membunuhnya, "Dengarkan saya, Raya. Papa saya dan orang tua Jagad sudah menentukan tanggal pertunangan kami. Kami akan segera bertunangan dalam waktu dekat, jadi berhenti membual tentang hubungan kalian. Seseorang seperti Jagad enggak akan pernah tertarik pada ja lang sepertimu. Saya tahu, Jagad cuma main- main sama kamu."
Kali ini giliranku yang menggeram, sumpah aku ingin mencakar wajah blesteran wanita dihadapanku ini. Persetan kalau dia atasanku, aku enggak peduli kalau perusahaan ini milik papanya, dia sudah melukai harga diriku dengan mengataiku ja lang. Aku bahkan sudah maju selangkah ketika ponselku berdering.
Aga calling...
"See !! Dia menelpon." Desisku menunjukkan layar ponsel ke arah bu Gigi. Aku sengaja mengganti mode loudspeaker agar wanita itu mendengar percakapan kami.
"Hi, babe. Aku udah sampai Jakarta. Masih di bandara sih."
"Oh iya, syukurlah. Aku lagi diruangan bu Gigi."
"Gigi? Gigi siapa?"
"GIANA."
"Owh,, putri pak Guesto itu."
__ADS_1
"Calon tunangan kamu." Tegasku ke Aga tanpa mengalihkan tatapan dari wajah bu Gigi.
"Hahaaa,,siapa bilang, I'm not,, until world the end." Tawa Aga menggema, memantul ke dinding- dinding ruangan tempat kami berada.
Aku melirik bu Gigi yang sudah pucat, wajahnya bahkan seputih kapas. Mungkin dia malu karena sudah mengaku- ngaku sebagai calon tunangan Aga, sedang Aga sendiri enggak mengakui itu. Dia sampai berpegangan pada sisi meja agar enggak terjatuh. Kali ini harga dirinya lah yang terinjak mendengar ucapan Aga yang seperti itu, jelas dia sama sekali enggak diperhitungkan. Jujur, sebenarnya aku enggak tega melihat bu Gigi seperti itu, tapi Salahkan dirinya sendiri karena sudah mengataiku ja lang.
"Ga, aku masih ada urusan, sudah dulu ya. Hati- hati, telpon lagi nanti."
"Take care babe, I miss you."
"Miss you, too."
Aku menutup sambungan telpon, dan memasukkan kembali ponselku kedalam kantung blazer yang kupakai.
"Dengar ibu direktur operasional yang terhormat, pak Jagad bahkan enggak kenal siapa Gigi." Ucapku pelan. "Jadi berhenti mengklaim kalau pak Jagad milik anda."
Aku berbalik dan berjalan menuju pintu, ada rasa puas dihati saat bisa melihat ekspresi bu Gigi yang sudah seperti ingin menenggelamkan diri di segitiga bermuda itu. Aku tahu setelah ini aku enggak akan menginjakkan kaki dikantor ini lagi, langkahku terhenti dan kembali menghadap ke arah bu Gigi," Dan satu lagi, jangan pernah mengatai saya ja lang, karena saya bukan ja lang. Anda enggak tahu apa- apa tentang saya."
Aku keluar dan menutup pintu ruangan bu Gigi. Mataku memanas, rasanya ingin menangis. Orang- orang menatapku penuh tanya, ada juga yang secara terang-terangan melihatku kepo. Yah, karier ku berhenti hari ini. Aku segera melangkah pergi dari gedung utama menuju gedung produksi beta laktam.
Aku hanya memberi instruksi ke Andin untuk memantau penimbangan bahan obat, kemudian berlalu dari sana, mengabaikan tatapan penasaran Andin dan tim yang lain.
****
Aku pulang kerumah, enggak ada siapa- siapa. Athan ikut ayah ke toko, Siska masih disekolah. Aku memilih untuk masuk kamar dan menghempaskan diriku di ranjang. Aku menangis.
Entah kapan tepatnya aku berhenti menangis kemudian tertidur. Aku tersentak saat suara ponsel yang sengaja ku taruh dibawa bantal bergetar. Aga menelponku lagi. Kali ini panggilan video.
Aku menggeser icon hijau dan wajah Aga langsung tertera di layar.
"Kok sembab wajahnya, abis nangis?" Alis Aga bertaut.
Aku mengangguk dan kembali menangis.
"Kenapa, babe?? Any something wrong?"
__ADS_1
Perlahan aku mulai menceritakan kejadian dikantor, seluruhnya kecuali perkataan Bu Gigi tentang aku yang hamil diluar nikah. Aga menggeram kesal.
"Kenapa kamu pulang?"
"Perusahaan punya bokap nya, pastilah aku bakalan dipecat setelah mempermalukan anaknya. Daripada dipecat, mending aku keluar sendiri, besok aku ajukan resign."
"Siapa bilang PT. Laboratoria Medicad punya pak Guesto, kalau dulu iya, tapi saham terbesar udah dipegang aku sekarang, ralat, papa aku maksudnya, pak Guesto cuma menjabat dirut aja."
"Terus?"
"Kamu tetap kerja disana, kalau perlu naik jabatan, nanti aku yang atur, calon istri Jagad Bimasakti Adyaksha enggak boleh kalah sama tusuk gigi."
"Agaaaa, aku serius!!"
"Aku juga serius, babe..."
"Aku enggak mau nepotisme, aku bangga dengan aku yang sekarang. Yang meniti karir dari bawah atas prestasi dan kerja keras aku sendiri."
"Good for you, kalau begitu besok masuk kerja seperti biasa. Tegakkan kepala, pastikan si Gigi Gigi itu yang ciut lihat kamu, bukan sebaliknya."
"Tapi dia cantik." Aku berdecak.
"Kamu juga cantik."
Aku memutar bola mata malas, "Berhenti lip service kayak gitu, Ga."
"Not I'm, siapa bilang lip service. Aku serius. Denger ya, Ray. Aku jelas punya standar yang tinggi dalam memilih calon istri, enggak sembarangan bisa jadi calon istriku, and you, kamu memiliki semua standar yang aku mau."
"Tapi aku enggak secantik Bu Gigi."
"You have beautiful eyes, you also have beautiful smile. Kedengarannya mungkin gombal, karena aku memuji pacarku sendiri, tapi kenyataannya begitu." Aga berkata tegas, tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
Hatiku menghangat ketika mendengar penuturan Aga, aku suka setiap kali Aga menatapku seperti ini, tatapan memuja yang penuh kelembutan sekaligus gairah yang tidak ditutupinya, sehingga membuatku merasa cantik.
He makes me think that I'm the most beautiful woman in his life.
__ADS_1
To be continue