JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
BAB IX


__ADS_3

Fara membawa tumpukan buku di kedua tangannya, penuh sampai menutupi dagu. Hari ini benar-benar sibuk,mulai dari UTS, bikin presentasi di lab. Kimia, dilanjutkan dengan tugas bahasa indonesia meresensi Novel. Fara bahkan belum sempat mengobrol dengan Ve maupun Sarah. Waktu sudah memasuki tengah hari, perut Fara juga mulai protes minta diisi.


"Aiih, sial banget sih." Decak Fara saat mengetahui bahwa dompetnya ketinggalan dirumah, padahal Fara sudah mengarah ke kantin. Mau minta pinjaman ke Sarah dan Ve, dua orang itu lagi di perpustakaan, jauh juga mau balik dan berjalan ke perpus.


Fara sudah berniat balik badan saat didapatinya Bonny tengah tertawa bersama Faza di bawah pohon Akasia, Fara menyunggingkan senyum.


"Bon..!"


Yang dipanggil menoleh kemudian melambai, Fara langsung mendekati Bonny,"Lo masih punya hutang bakso ke gue, gue mau nagih sekarang."


"Besok aja Fa, gue baru udah makan siomay bareng Faza."


"Gue maunya sekarang bon bon, lo enggak perlu makan, bayarin gue aja."


"Tumben lo ngegembel si Fa, kehabisan duit?" Faza nyeletuk.


"Dompet gue ketinggalan di rumah."


"Pacar lo mana?"


Fara memutar bola matanya, "Gue lagi training jadi jomblo sejak sehari lebih 2 jam yang lalu."


" Pfhhh, hahahaha kalau jomblo ya jomblo aja, enggak usah pake training - training kayak melamar kerja aja." Faza tertawa.


"Btw, serius lo Fa, putus sama Athan?"Itu barusan Bonny yang ngomong.


"Maybe yes maybe no, tunggu tanggal main aja sih. Yuk buruan gue laper nih." Fara menarik lengan Bonny.

__ADS_1


Bonny yang memang enggak ada acara lain, ya mau mau aja nemenin Fara ke kantin. Fara memesan bakso jumbo plus urat isi cabe rawit, ditambah jus mangga tanpa susu.


"Lo laper beneran ternyata." Bonny menggeleng menatap mangkuk bakso dihadapan Fara.


"Kan udah gue bilang, gue laper." Fara menambah kecap dan saus kedalam mangkuk baksonya.


"Udah gue bayar, gue cabut duluan ya." Bonny bangkit dari duduknya terburu.


"Ya jangan gitu dong, temenin gue bentar. Tengsin banget gue makan sendirian."


"Tuh si Athan lagi jalan kesini, gue masih sayang sama hidung gue kali Fa."


Benar kata Bonny, ketika Fara menoleh, dia mendapati Athan yang tengah berjalan ke arah meja mereka. Belum saja Athan tiba, Bonny sudah menghilang dari tempat ia berdiri tadi.


"Aku makan disini boleh?" Athan mendaratkan bokongnya tepat dibangku yang diduduki Bonny tadi.


"Ya bebas, enggak perlu minta izin aku segala." Ucap Fara tanpa melihat ke arah Athan sama sekali.


"Siapa yang ngambek, ingat ya kita lagi break ." Dengus Fara sengit, agaknya Fara benar-benar ingin mengibarkan bendera hitam lengkap dengan gambar tengkoraknya kali ini.


Athan tertawa menampakkan deretan giginya yang putih. Seolah- olah kata break adalah lelucon paling lucu sedunia yang pernah ia dengar.


"Kamu pikir yang kemarin itu, aku cuma main-main, aku serius tau." Fara mendelik kesal.


"Iya tau."


"Terus kenapa ketawa, ada yang lucu?"

__ADS_1


"Iya."


"Kamu yang lucu." Bisik Athan pelan setelah diam beberapa detik.


"Dasar aneh." Fara kembali menghirup kuah baksonya. Sengaja ia mempercepat durasi makannya, sebab berlama- lama di dekat Athan bisa merusak syaraf. Senyum Athan dengan lesung pipi itu bisa saja membuat Fara tergoda dan berakhir menjatuhkan harga dirinya kembali, tidak tidak, kali ini Fara enggak boleh tergoda. Athan ini jenis jin iprit yang sulit diusir dari pikiran Fara meskipun sudah membaca ayat kursi tiga kali.


"Sorry, aku duluan." Fara berdiri tergesa setelah menghabiskan baksonya dan meraih ponsel yang ia letakkan diatas meja.


"Fa,,, " Athan mencekal pergelangan tangan Fara ketika gadis itu berniat kabur." Yang kemarin, sorry."


Fara diam sejenak, "Enggak apa, aku emang sok tau kok."


"Maaf,maksud aku... Aku enggak bermaksud bikin kamu tersinggung."


Fara terkekeh," Siapa yang tersinggung, I'm not." Ini bisa gak ya, tangan lepas dulu, sumpah jantung Fara loncat- loncat berkhianat.


"Jadi...?"


"Jadi apa? Kita tetap break seperti yang aku bilang, aku perlu waktu untuk mencintai diri aku sendiri, kehidupan aku, aku mau belajar move on dari kamu, Yah meskipun butuh usaha, dan itu enggak mudah."


"Why?" Athan menatap Fara dalam, tatapan yang sangat jarang ia tampilkan selama ini. "Kenapa ingin move on?"


"Why? Ya karena mencintai kamu itu ternyata melelahkan." Fara menghembuskan nafas pendek, dia memberanikan diri untuk melirik Athan, "Tenang aja, gak usah pasang tampang sok sedih gitu deh, kehilangan satu fans enggak akan ngaruh di kehidupan kamu, fans kamu yang lain masih banyak kok." Fara memaksakan diri untuk tersenyum dan perlahan melepaskan cekalan tangan Athan padanya.


Seperti ada beban berat yang terangkat dari pundak Fara saat mengungkapkan itu semua dihadapan Athan, ketika mencoba untuk ikhlas, ternyata rasanya lebih ringan meski tentu saja masih ada bagian hati yang seperti tertusuk duri, tapi sejauh ini masih bisa Fara atasi.


Fara berjalan menuju perpustakaan dengan hati seringan kapas, berkali-kali Fara menghembuskan nafas panjang. Mulai hari ini Fara berjanji akan lebih mencintai diri sendiri. Yah, Fara pernah bilang bukan, selagi harapan masih ada dia akan menunggu, tapi kali ini Fara yakin, harapan itu sudah tidak ada lagi.

__ADS_1


Sebelumnya Fara sangat yakin kalau dia bisa menunggu, dia akan menunggu meskipun itu akan memakan waktu yang lama. Namun, Fara hanya bisa menunggu kurang dari dua tahun sejak ia mengungkapkan perasaannya pada Athan. Entah mengapa, Fara mendadak kehilangan harapan. Entah mengapa, dia jadi tidak punya tujuan. Entah mengapa, dia jadi merasa apa yang dilaluinya selama ini hanya sia-sia.


Makanya sekarang Fara memutuskan untuk berhenti dan seharusnya tidak pernah berfikir untuk memulai kembali.


__ADS_2