
“Kak...! kakak enggak sekolah?!”
Itu suara mama memanggil dari luar kamar, sementara Fara masih betah bergelung dalam selimutnya persis seperti kepompong. Tidak, Fara memang tidak berniat untuk datang ke sekolah hari ini, dia sudah memutuskan untuk pura- pura sakit. Fara tidak bisa tidur nyenyak tadi malam. Salahkan saja Athan berikut ajakan konyol cowok itu untuk balikan supaya Fara bisa menciumnya. Wait? Apa katanya kemarin, “ Ayo balikan, so kamu bisa menciumku sepuas yang kamu mau....”
Huaaa,,, Fara menghantukkan kepalanya ke bantal berulang kali , benar- benar frustasi. Bagaimana bisa dia mempermalukan dirinya seperti itu di depan Athan kemarin, murahan sekali kau Fara. Okay, kalau dipikir- pikir, obsesinya dulu untuk memiliki seorang Ranathan memang toxic, Fara mampu menggunakan cara apa saja agar Athan bisa melihatnya sebagai seorang perempuan, Fara bahkan meniru apapun yang berhubungan dengan sosok gadis yang disukai Athan, iya Dira, gadis yang disukai Athan. Fara sempat bela- belain mengganti gaya rambut mirip Dira, gaya pakaian Dira dan semuanya seperti Dira, agar apa, agar Athan bisa meliriknya. Tapi bukankah itu dulu, dan Fara sudah tobat sekarang. Namun kejadian di mobil kemarin mematahkan semuanya, mengapa bisa seorang Fara sampai tidak tahan nafsu hanya karena melihat bibir Athan, berani- beraninya Fara mencium Athan disaat cowok itu sudah berstatus mantannya.
“Aaaaagghhhhhhh.” Fara kembali membenamkan kepalanya di bantal.
Tunggu, yang menjadi pertanyaan besar di kepala Fara adalah... apa tujuan Athan? Iya, tujuan Athan untuk mengajaknya balikan. Bukankah seharusnya momen mereka putus adalah kesempatan untuk Athan terbebas dari Fara. Athan bebas mengejar cinta sejatinya si Dira Dira itu kan. Kenapa malah mengusik Fara, sampai bisa- bisanya kemarin cowok itu memasang wajah seperti dia benar- benar tersakiti oleh Fara. Apa coba?
“Kak...? buka pintunya? Kamu ngapain di dalam, enggak sekolah?”
Suara mama kembali melempar Fara ke realita. Fara membuang selimut ke lantai dan berlari ke arah pintu kamar, “Fara enggak enak badan ma.” Ucapnya sepelan mungkin setelah membukakan pintu untuk mama.
Fara bisa melihat mama mengernyitkan dahi memindai tingkahnya yang tidak biasa, sebagai dokter mama mesti tahu mana yang sakit beneran dan pura- pura, “ Kamu kenapa?”ucap mama.
“Enggak enak badan.” Fara mengulangi ucapannya.
“Kamu enggak ngerjain PR, atau malas ketemu seseorang?”
Yap, kok mama bisa nebak kalau Fara lagi menghindari seseorang ya, Fara menggeleng, “Beneran ma, enggak enak badan, Fara izin sehari ya.”
Aurora menghela nafas panjang , sungguh dia tidak ada waktu untuk menginterogasi Fara pagi ini, ada jadwal operasi cito, maka dia hanya mengangguk lalu mengintruksikan Fara untuk tetap dirumah.
__ADS_1
Fara kembali bergulung dalam selimut setelah memastikan mama telah keluar rumah. Bagaimana setelah ini? Dia benar- benar malu untuk bertemu kembali dengan Athan, cowok itu pasti menganggapnya murahan. Dia bilang mereka bisa berciuman setiap hari kalau balikan lagi. Tuh kan, Fara jadi tambah meradang mengingat ucapan Athan. Tapi cowok itu serius saat mengungkapkannya, tidak ada nada merendahkan dalam ucapan Athan kemarin. Lagipula, Athan bukan tipikal orang yang menggunakan ajakan balikan dalam sebuah hubungan sebagai topik bercanda, dia terlalu mahal untuk itu. Jadi apa tujuanmu wahai Athan????
Suara bel rumah menghentak Fara, cewek itu buru- buru berdiri dan keluar dari kamar. Ada Ve yang sudah berdiri masih memakai seragam lengkap di depan pintu, membuat Fara berjengit heran, ini masih jam 10 pagi, apa Ve bolos sekolah.
“Katanya kamu sakit?sakit apa?” Ve masuk kerumah setelah Fara menyingkirkan tubuhnya ke samping.
“Gak enak badan.”
“Tadi Athan nanyain lo, nomor lo juga enggak aktif.” Ve meletakkan bungkusan buah yang ia bawa ke atas meja. “Udah makan belum? Gue bawa seblak kesukaan lo juga nih.”
Fara ikut duduk di sisi Ve, membuka bungkusan seblak setelah sebelumnya mengambil piring dan minum dari dapur.
“Ini lo segar bugar, gak enak badan dari mananya?” Ve mencibir ke arah Fara saat gadis itu berdecak semangat menghirup kuah seblak.
“Cerita apa?”
“Gue mencium Athan kemarin.” Fara menunduk, frustasi lagi.
“What? Cium? Cium di mana? Di bibir?”Ve heboh sampai- sampai berdiri dari duduknya.
Fara mengangguk pelan, wajahnya kembali murung.
“Kok bisa sih Fa?”
__ADS_1
Fara mengedikkan bahu.” Gue gak sadar.”
“Gak sadar dari hongkong, emang lo mabuk?”
Fara menggeleng tapi masih dengan posisi menunduk,”Gue kayak terhipnots gitu pas lihat ke arah bibirnya, gue benar- benar gak nyadar kenapa tiba- tiba bibir gue udah nempel disana, di bibir Athan.”
“Terus?”
“Dia ngajak balikan, dia bilang gue bisa nyium dia kapan aja kalau kami balikan.”
“Pffthhhhh....Hahahahaaaaaa.” Tawa Ve meledak, cewek itu sampai menepuk- nepuk meja.
“Monyet!! Tadi lo udah janji jangan ketawa!” Fara mendelik ke arah Ve.
“Terus lo mau balikan? biar bisa nyium Athan tiap ada kesempatan?” Suara Ve terdengar disela sisa- sisa tawanya.
“Ya enggaklah.” Fara mendengus.”Aneh kan, kok Athan ngajak gue balikan. Daripada ngajak gue balikan mendingan dia ngejar Dira.”
Ve mengangguk setuju, “Iya juga sih, bukannya Athan sama Dira dari dulu dekat kan, itu pas di butik kamarin aja mereka mesra banget.” Ve kembali duduk dan mendekati Fara.”Atau mungkin sebenarnya Athan udah nembak Dira, terus ternyata Dira suka sama orang lain, jadi daripada kosong mendingan dia ngajak lo balikan.”
Lagi- lagi Fara mendengus,”Analisis lo gak mutu banget sih.” Fara kembali menghirup kuah seblaknya.
Bukan apa- apa apabila Fara tidak begitu percaya ucapan Ve, sebab Fara merasa tatapan Athan padanya sesaat setelah cowok itu baku hantam dengan Dru benar- benar , entahlah Fara tidak paham. Cowok itu seperti terlihat sangat terluka saat Fara memilih meninggalkannya. Enggak mungkin kan seorang Athan terluka karena Fara.
__ADS_1
To be continue