JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
BAB XXIV


__ADS_3

Hidup terkadang penuh hal tak terduga dan bahkan tak pernah sekalipun terpikir sebelumnya. Memang begitulah hidup. Athan tidak pernah membayangkan kalau suatu saat nanti, ada hari- hari dimana dia terjebak dan jatuh sejatuh- jatuhnya terhadap sosok perempuan, untuk kali pertamanya di titik paling dalam perasaannya.


Lucu sekali ya, seumur- umur, Athan meyakini, kalau tidak ada sesuatupun yang membuatnya benar- benar tertarik, apalagi pada sosok perempuan. Dia selalu bisa mengontrol dirinya juga keinginannya. Tapi sejak Fara datang dengan tidak tahu malunya, mengambil paksa hampir dari setengah isi otaknya, perlahan namun pasti, Athan seolah kehilangan semua kontrol diri, layaknya penerjun bebas yang tidak bisa membuka parasut ditengah udara, Athan terjatuh sedalam- dalamnya pada sosok gadis bernama Fara itu.


Athan boleh saja merasa berada diatas angin karena gadisnya itu terlalu amat mencintainya, setidaknya pemikiran itu masih bercokol di kepala Athan sampai kemarin. Athan meyakini kalau Fara hanya mencintai dirinya seorang. Bahkan saat Dru mencoba mendekati Fara, Athan pikir Dru bukan merupakan tandingannya.


Namun kemudian Athan seperti tersadar, kalau Fara berusaha menjauh darinya. Dan Dru? Yang awalnya dipikir Athan bukan lawan seimbang, justru memperlakukan Fara dengan sangat baik. Bahkan kata Haikal yang masih teman Athan, Dru memperlakukan Fara jauh lebih baik dari pada yang pernah dilakukan Athan.


Sialan sekali kan? Seketika Athan sadar kalau Dru bukan lawan yang mudah. Pria itu bermain cantik  mendekati Fara dengan bertopeng sebagai teman. Dru bahkan berhasil mengajak Fara kerumahnya dengan dalih membuat project video bersama.


Sampai disini, masihkah Athan berlagak songong dengan berfikir Dru bukan lawan seimbang? Athan memang punya segalanya, wajah tampan, otak cerdas, kapten basket yang tak terkalahkan, dan harta kekayaan yang jangan ditanya. Selama ini Athan cukup percaya diri dengan kemampuan dan segala yang dia punya.


Tapi sayangnya, Dru juga memiliki itu semua. Kalau Athan dikelilingi uang dan ketenaran, maka Dru dikelilingi uang dan ketenaran. Dru juga memiliki keahlian bermusik yang tidak dimiliki Athan, laki- laki itu bisa membuat syair-syair penuh cinta yang menundukkan hati para wanita, Dru memiliki sisi romantisme yang sama sekali tidak dipunyai seorang Athan.


Semakin Athan memikirkan cara untuk mengalahkan Dru, semakin dia kehilangan kepercayaan dirinya. Sebanyak apapun dia meyakini diri sendiri kalau Fara hanya mencintainya, Athan tidak bisa menutup mata atas bukti- bukti yang memperlihatkan Dru bisa saja membuat Fara jatuh cinta pada pria sialan itu.


Damn! Kenapa dadanya terasa sesak.


Makanya, dia tidak bisa diam saja. Athan tidak mau kehilangan Fara betulan, dia harus melakukan berbagai cara agar Fara bisa kembali padanya. Sekalipun menggunakan cara tolol.


                                                                                     ***


Ini hari kedua Fara akan latihan sebelum take gambar. Mereka memilih rumah Dru sebagai lokasi syuting. Seperti kemarin, Dru sudah menunggu Fara di parkiran sekolah. Perempuan itu melihat Dru dari kejauhan setelah menyelesaikan lesnya. Tapi baru saja Fara keluar kelas, ponsel nya berdering.


Telpon rumah Athan calling....

__ADS_1


Kening Fara berkerut, dia memang menyimpan nomor telpon rumah Athan, tapi kenapa ada panggilan dari sana. Telpon mati saat Fara berniat mengangkat, tak lama telpon berdering lagi.


“Kakak Fara hiks hiks hiks..”


“Andien??” Ini Andien adiknya Athan, kenapa dia menangis.


“Abang....hiks hiks.”


Fara langsung awas, “Okay, Andien sayang kenapa?” Fara menegakkan tubuhnya.


“Kakak Fara kesini, abang sakit hiks hiks.”


Kening Fara berkerut makin dalam, Athan sakit? Terus dirumah cowok itu enggak ada orang dewasa lain sampai harus memanggil Fara.


“Kakak Fara kesini, abang beneran sakit. Ibun sama papa enggak ada.” Itu suara Andien lagi.


                                                                               ***


Tolong  jangan ditertawakan, Athan memang sedang berada di titik tergila dalam hidupnya. Rencana ini sudah disusunnya dengan sangat matang dengan mempertimbangkan banyak hal. Athan positif rencana ini bakalan berhasil. Tapi sekali lagi, terkadang realita seringnya menyelingkuhi ekspektasi.


Athan hanya berniat membuat dirinya terlihat sakit didepan Fara. Fara gadis yang sangat detail, perempuan itu langsung bisa menebak jika Athan hanya berpura- pura, jadi Athan mencoba memakan kacang almond, hanya 3 biji. Pikir Athan yang alergi kacang almond, sakitnya tidak akan jadi separah ini. Mungkin hanya sedikit gatal, bentol atau apalah. Bahkan dia sudah bersekongkol dengan Andien, si adik kecil untuk memanggil Fara.


Tapi.....Yang terjadi malah diluar perkiraan.


“Than?”

__ADS_1


“Athan?”


“Kamu masih dengar aku kan?” suara yang meneriaki namanya itu kian meninggi.


Membuat pria itu akhirnya memberikan anggukan walaupun melakukannya bersusah payah.


Otaknya memerintahkan tangannya untuk bergerak, agar bisa menyentuh tangan Fara dan menggenggamnya erat- erat agar perempuan itu bisa tenang. Sayangnya, hal sesederhana seperti itu saja tidak bisa lagi dilakukannya.


“Udah kamu jangan bergerak.” Pinta Fara. Mata bulatnya yang besar kelihatan berair menahan tangis. “Tetap sadar, oke.”


Sumpah demi apapun, Athan ingin sekali bersuara dan mengatakan kalau dia baik- baik saja agar perempuan ini bisa bernafas dengan lega. Namun lidahnya mati rasa, tenggorokannya tercekat, dadanya benar- benar terasa sesak, mati- matian dia berusaha agar matanya tetap terbuka.


Bersama Andien, Fara membopong Athan masuk kedalam mobil. Beruntung dia datang tepat waktu, Athan sudah berada di ambang batas kesadaran, seumur- umur Fara belum pernah melihat Athan dalam kondisi seperti ini.


Dengan tangan bergetar Fara mencoba mengendarai mobil Athan, ini kali pertama dia membawa mobil di jalan raya. Fara belum benar- benar mahir mengendarai mobil, tapi dia harus membawa Athan ke rumah sakit sesegera mungkin.


Laju mobil yang dikendarai Fara berhenti di depan pintu IGD. Sambil melirik ke arah Athan sebentar, perempuan yang tatapannya campur aduk itu membuka pintu, turun lebih dulu dan masuk kedalam untuk memanggil satpam dan petugas IGD yang berjaga untuk membantu mereka.


Semuanya masih berjalan begitu lambat, Athan merasakan tubuhnya ditarik keluar dari mobil, duduk di kursi roda. Dan ketika dia memiliki kemampuan untuk menggerakkan tangannya dan menyentuh tangan Fara. Rasanya dingin, dingin sekali. Perempuan itu pasti panik dan ketakutan.


“I’am okay.” gumamnya.


Well, Athan merencanakan banyak hal mengenai hari ini, kecuali bagian yang ini. Athan tidak tahu kalau alerginya bisa sebegitu parahnya~~~~, sampai membuatnya sangat kesusahan untuk bernafas, sampai panas tubuhnya bisa naik sedrastis ini. Namun beberapa detik setelah itu, raut Fara malah semakin pucat pasih.


Disaat itu pula Athan baru sadar kalau hidungnya mengeluarkan darah.

__ADS_1


To be continue


__ADS_2