
Satu Bulan Kemudian...
AGA
Rasanya baru kemarin aku dihadapkan pada sebuah takdir untuk bertemu Raya lagi dan mengetahui fakta bahwa kami telah memiliki anak bersama. Yah, kejadian itu seperti baru kemarin. Semuanya berjalan begitu cepat. Setelah pertemuanku dan Athan waktu itu, Athan mulai bisa menerimaku sebagai papanya.
Aku mengajak papa dan mama ke Surabaya setelah hasil DNA keluar yang menyatakan bahawa ada kemiripan 99.99% sel DNA antara aku dan Athan. Yang itu artinya bahwa Athan memang anak biologisku. Didampingi mama dan papa, aku melamar Raya tepat di hari ulang tahun Athan yang ke lima.
Setelah acara lamaran selesai, kami merayakan ulang tahun Athan, ada rasa haru menyelinap kedalam hatiku ketika Athan meniup lilin angka lima yang tertancap diatas kue tart bergambar Spider-Man itu. Lima ulang tahun sudah terlewati, berapa momen yang telah dilalui Athan tanpa kehadiran seorang papa. Bagaimana perasaannya saat melihat teman-teman nya merayakan ulang tahun lengkap dengan kedua orang tua mereka. Sementara dia hanya merayakannya dengan seorang ibu saja.
Aku menghembuskan nafas kuat, mencoba menghalau rasa sesal yang tiba-tiba saja muncul. Perasaan menyalahkan diri sendiri masih sering bercokol dihati, terlebih ketika mendengar tausiah ustad Romi waktu itu, ustad yang sering berceramah di masjid komplek. Bahwa anak yang lahir dari hasil perzinahan tidak memiliki hak pada ayahnya, nasab anak sepenuhnya ada pada ibunya. Athan hanya memiliki hubungan nasab dengan Raya, sedang aku, enggak memiliki hak apapun.
Hanya Tuhan yang tau, betapa aku menyesal dengan kejadian dulu. Aku pernah berdosa sangat besar, mama yang menguatkanku, meski dia sendiri terluka dengan tindakan ku dulu. Tapi mama selalu bilang bahwa rahmat Allah meliputi langit dan bumi, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Semua pasti pernah terpeleset dalam dosa, tidak ada gading yang tak retak. Begitupun aku, aku pernah jatuh dalam lubang dosa dengan menghamili seorang gadis, yang naasnya sahabatku sendiri.
Tapi aku akan berjanji memperbaiki semuanya. Semuanya tak terkecuali. Aku memang enggak bisa mengubah lima tahun yang sudah terlewat, tapi mulai detik ini aku enggak akan membiarkan Athan melalui satu momen penting pun tanpa aku disisinya, aku berjanji.
__ADS_1
***
Satu jam dari sekarang, aku akan melangsungkan pernikahan. Raya meminta pernikahan sederhana di kediamannya, pernikahan yang hanya dihadiri oleh kerabat, tetangga, dan beberapa teman dekat.
"Gue yang planning nikah, eh malah lo yang duluan." Itu suara Ian, ia menepuk keras punggungku. Ian orang yang paling syok saat aku menceritakan pertemuanku dengan Raya serta semua cerita kami.
Tadinya emang iya Ian yang akan menikah tepat seminggu dari sekarang, dan ternyata takdir berkata lain, aku menyalip tanggal pernikahan Ian dengan menggandeng Raya lebih dulu naik ke pelaminan.
"Tadi gue ketemu anak lo, gila, pas gue bilang temen lo. Gue ditatar sama tuh bocah. Gue ditanya macam- macam."
"Eh, gue boleh ketemu Raya gak?"
"Enggak."
"Pasti nambah cakep ya." Ian tertawa menggodaku, yang kurespon dengan lemparan tissue. Aku bukannya enggak tau kalau dulu Ian sempat naksir- naksir lucu ke Raya, dan itu, jujur saja, membuatku cemburu.
__ADS_1
***
RAYA
Jika kalian bertanya apa mimpiku waktu kelas 1 SMA, yaitu ingin menjadi istri seorang Aga. Tentu saja itu hanya mimpi, karena aku pikir, itu enggak akan terwujud. Aga dengan segala kesempurnaannya tak kan pernah bisa aku gapai sampai kapanpun. Aku hanya bisa mencintainya dalam diam.
Tapi setelah 10 tahun kemudian, siapa sangka, hari ini aku bisa melihat Aga dalam balutan beskap putih tulang yang membalut tubuh jangkungnya, tengah duduk tepat disebelahku yang memakai kebaya senada. Yah, hari ini pernikahan kami.
Dia tersenyum saat menyadari aku sedang menatapnya. Wajahnya tenang dan penuh keyakinan, terlihat sangat siap mengucapkan janji dihadapan Tuhan, janji yang akan mengikat kami dalam sebuah ikatan tali suci bernama pernikahan.
Enggak ada dekorasi meriah diruang keluarga dirumahku, tempat kami melangsungkan pernikahan. Yah, aku memang menginginkan pernikahan yang sesederhana mungkin. Hanya bagian luar rumah yang dipasang tenda, tempat para tamu duduk dan menyantap makanan.
Tadinya aku ingin menitipkan Athan di rumah bude selama proses persiapan pernikahan sampai hari akad. Aku ingin Athan tetap dirumah bude selama akad berlangsung, tapi Aga enggak setuju. Dia ingin Athan ikut dan menyaksikan. Aku sempat protes karena hal itu akan membuat akan semakin kebingungan. Tapi Aga meyakinkanku kalau Athan akan baik-baik saja. Aga mengatakan ke Athan kalau dulu kami sempat berpisah, dan harus mengulang janji pernikahan lagi. Saat itu Athan hanya mengangguk, masih terlalu kecil untuk mengerti.
Akhirnya aku mengangguk. Karena itulah sekarang Athan hadir disini, duduk disebelah Siska. Dia sangat menggemaskan dengan memakai beskap dan blangko senada yang dikenakan Aga. Athan menatap kami dengan binar bahagia dimatanya. Saat matanya bertemu dengan mataku, Athan tersenyum lebar dan mengangkat dua ibu jarinya keatas. Aku tertawa sementara mataku berkaca. Semoga kelak Athan bisa memahami. Semoga kelak ia bisa memaafkan kami, kedua orangtuanya yang jauh dari kata sempurna.
__ADS_1
......The end......