
AGA
Aku meneguk sisa minumku saat lelaki itu datang tergesa ke arahku, dia Ian. Sahabatku sedari bangku kuliah dulu. Ian masih sama seperti dulu, hanya saja penampilannya lebih dewasa, dia seorang lawyer yang juga mengambil kelas sebagai dosen terbang di UI.
"Terlambat 10 menit." Dengusku.
"Laras ngajak fitting baju, lama." Ian meneguk minum yang ada dihadapannya. Yah, Ian dan Laras akan menikah bulan depan. Laras adalah seorang mahasiswi bimbingan Ian yang ia pacari hampir enam bulan belakangan ini.
"Nyusul gue, Ga. Jangan kelamaan."
Aku hanya mencibir menanggapi Ian. Ini adalah tahun kedua aku kembali ke Jakarta, setelah menyelesaikan studi doktor ku di kota yang sama, London. Papa ingin aku kembali dan meneruskan bisnis keluarga, sebab hanya aku satu-satunya anak lelaki papa. Enggak langsung terjun juga sebenarnya, kapasitasku hanya memantau jalannya perusahaan.
"Sudah ada kabar?" Tanyaku ke Ian, tanpa menoleh.
"Belum ada, enggak ada jejak sama sekali. Terakhir gue ketemu Emily, dia juga enggak tau. Emily ketemu Raya juga terakhir pas ngambil ijazah dikampus, udah lima tahun yang lalu."
Aku mendesah frustrasi menatap minumku. Aku masih ingat betul waktu itu, aku pamitan baik-baik ke Raya, enggak ada yang mencurigakan sama sekali. Raya bahkan sempat memasakkan seblak favoritku sehari sebelum keberangkatanku ke London, dia juga ikut mengantarku ke bandara berdua Ian. Kami tersenyum satu sama lain, berusaha melupakan malam naas itu, dan berjanji akan bertemu lagi ketika aku pulang.
Tapi semuanya berubah, saat aku tahu, Raya enggak pernah datang ke perusahaan papa untuk mulai bekerja disana, padahal lamarannya sudah kumasukkan, bahkan dia enggak perlu ikut sesi wawancara lewat HRD. Nomor ponselnya enggak aktif ketika aku berusaha untuk menghubunginya. Aku meminta Ian mencari tahu, tapi seperti menghilang ditelan bumi, Raya tak pernah muncul.
Ian bahkan sudah menelusuri kediaman orang tua Raya di gang pelacuran dulu, tapi nihil. Enggak ada yang tahu keberadaan Raya. Untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa kehilangan. Aku menyesal sudah meninggalkan Raya, dia bohong dengan mengatakan dia baik-baik saja, padahal dia enggak baik-baik saja sejak kejadian malam itu. Dan aku meninggalkan luka untuk nya, aku meninggalkannya.. Tidak, bukan aku yang meninggalkannya, tapi sejatinya dia lah yang meninggalkanku sampai hari ini.
"Dia ninggalin gue, katakan kalau gue benar, iya kan, dia yang pergi dari gue, Ian!!!" Ian terdiam melihatku yang kacau. Hanya Ian yang kuberitahu tentang kejadian malam itu, dia pun turut menyesalkan apa yang sudah terjadi, Ian bahkan ikut menyalahkan dirinya sendiri yang mabuk malam itu hingga enggak menyadari kalau Shella telah memasukkan obat perangsang ke dalam minumanku.
Aku tahu, selama ini Ian juga sudah berusaha keras mencari keberadaan Raya. Aku pun demikian, dua tahun kuhabiskan waktu dengan mencari Raya, namun tetap nihil. Haruskah aku katakan kalau sebenarnya Raya yang kejam disini? dia membuatku hidup dalam bayang- bayang penyesalan sampai detik ini, aku bahkan enggak tahu bagaimana cara menggambarkan betapa menyiksanya rasa rindu ini padanya. Rindu? Yah, aku merindukan Raya...
"Sudah lima tahun, Ga. Mungkin Raya memang sengaja enggak ingin ditemukan. Saatnya lo move on." Ian menepuk pundakku pelan.
__ADS_1
"Besok gue ke Surabaya." Ucapku mengalihkan pembicaraan.
"Ngapain?"
"Kunjungan ke PT. Laboratoria Medicad, papa baru beli saham disana, sekalian memantau kelayakan untuk dijadikan pabrik amprahan."
"Ohh,, yang dibilang mama lo kemaren, pabrik punya om Guesto kan? Mama lo mau jodohin lo sama anaknya om Guesto itu, si Gigi."
"Lo kenal?" Aku melirik Ian.
"Teman satu SMP dulu, cantik anaknya, istri om Guesto kan keturunan Turkish."
Aku kembali menatap minumku tanpa ekspresi, aku tak pernah benar-benar melihat wanita kecuali Raya, dia wanita pertama yang kusentuh dengan sepenuh hati, mungkin aku enggak akan mendapatkan rasa yang sama pada wanita lain.
***
"Yang ini kasihkan ke bude mu, jangan lupa mampir kesana, kalau perlu nginap barang semalam. Dan yang ini untuk Giana anak om Guesto, sampaikan salam mama ya." Mama mengedipkan mata sambil menyerahkan dua paperbag ke tanganku, sontak saja membuatku memutar bola mata malas.
Perjalanan Jakarta - Surabaya enggak begitu melelahkan sebenarnya, aku langsung bertolak ke rumah bude, tadi sebelum berangkat aku sudah menghubungi bude, dan Cia anak bungsunya bude, ngotot ingin menjemputku di bandara. Ku bilang enggak usah, tapi namanya Cia, selalu mendapat apa yang dia mau, dan kalau ada acara kumpul keluarga, emang dia yang paling rame. Dan terbukti, sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah, mulutnya enggak berhenti mengoceh.
"Oppa dengar, nanti di rumah, sudah ada teman- teman aku, mereka nungguin oppa Song - Jong - Ki datang, jadi oppa harus sapa mereka satu- satu, okay! "
Aku memutar bola mata malas," Sekali lagi, kamu panggil mas oppa oppa, mas ceburin ke kali!!!"
Cia terbahak, "Sejak kapan mas Aga jadi galak sih. Aku udah terlanjur show off ke teman-teman, ku bilang kakak sepupuku mirip oppa Song Jong Ki, dan sekarang mereka udah nungguin oppa di rumah."
Dan benar saja kata Cia, sekumpulan gadis seumurannya sudah berdiri dan berbisik- bisik di teras rumah. Beberapa bahkan tersenyum malu - malu padaku. Tapi satu yang menarik perhatian, seorang bocah laki- laki yang duduk di kursi teras, sama halnya sepertiku, dia tampak bosan melihat tingkah para gadis itu.
__ADS_1
Setelah tersenyum sesuai perintah Cia pada para gadis, aku menghampiri si bocah.
"Hai boy, siapa nama mu?"
Bocah itu mengerucutkan bibir, jadi mengingatkan ku pada seseorang, "Boy? I am not a dog, uncle!"
"Dog...?"
"Yeah, boy itu nama anjing tetangga kami." Bocah itu memberengut kesal, aku ingin tertawa, tapi takut si bocah tambah marah.
"Ups, sorry. Jadi siapa namamu bocah?"
Dan sepertinya kali ini aku salah lagi, anak laki-laki itu semakin mengerucutkan bibir, mirip Raya kalau lagi enggak suka pada sesuatu, aihhh kenapa aku jadi ingat Raya, aku terkekeh getir.
"Aku bukan bocah." Jawabnya ketus, membuatku menaikkan alis. Jelas- jelas dia bocah kan, lucu.
"Terus, who are you?"
"Aku Ranathan, seorang pria empat tahun." Katanya dramatis penuh rasa percaya diri.
"Tapi seorang pria enggak pake pampers di malam hari." Gadis berambut hitam sebahu menjawil hidung anak itu gemas.
Untuk sesaat bocah laki- laki itu terdiam, lalu menangis kencang di detik berikutnya sambil meneriakkan "Bibi jahaaaat,, huaaaaa huaaa!!!!!" Dia sesegukan, "Bibi Siska sudah bikin aku malu didepan om ganteng huaaaaa hiks hiks hiks!!"
Refleks aku memeluk bocah laki- laki itu, dan menggendongnya, rasanya sangat pas ketika aku menggenggam tangan mungilnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. "It's okay, pria empat tahun. Jangan malu sama Om."
TO be continue....
__ADS_1