
Fara memoles lip balm rasa strobery ke bibirnya sebagai sentuhan terakhir dari penampilannya di Senin pagi ini. Ayolah, ini hari pertama Fara sekolah dengan status jomblo, enggak ada yang berubah, Fara tetap gadis cantik, manis, energik dan penuh percaya diri. Fara yakin setiap yang dilintasinya akan ketularan aura positif yang dia pancarkan.
Sarah dan Ve sudah melambai di depan gerbang ketika Fara tiba, “Lo udah janji mau minta maaf ke Dru soal insiden malam itu kan, jangan lupa.” Sarah mengingatkan, yap. Setelah kepergian Fara dari pesta Dru, Sarah orang yang paling kebakaran jenggot, dan Fara yakin seratus persen ada campur tangan Sarah dalam peristiwa penembakan yang dilakukan Dru malam itu.
Dan disinlah Fara sekarang berada, dia udah menghubungi Dru tadi , minta ketemu setelah pelajaran terakhir usai. Dru mengiyakan , cowok itu melambai ke arah Fara seolah tak ada kejadian diantara mereka. Fara sampai heran, apa yang malam itu hanya mimpi, karena kalau bukan mimpi, seharusnya Dru sudah marah kan ya, bukankah kejadian malam itu sangat memalukan untuknya?
Fara dan Dru memang enggak pernah dipertemukan dalam satu kelas yang sama, hobi mereka juga terlampau beda, jadi bisa dibilang Fara enggak terlalu kenal dengan Dru sih, entah kalau Dru sendiri. Memang ada dulu pas kelas X, Dru coba PDKT, tapi pas tau Fara ngejar- ngejar Athan, sepertinya Dru tau diri dan mundur teratur. Baru kali inilah mereka benar- benar ketemu bicara empat mata layaknya teman lama.
“Kalau lo mau ketemu untuk minta maaf, gue undah maafin kok, gak masalah.”
Mulut Fara bahkan sudah terbuka lebar saat Dru ngomong seperti itu, ini beneran Dru kan? Maksudnya kok iya dia bisa se easy going ini sih. Fara sampai terheran- heran kemudian mengangguk,”Gue minta maaf Dru, sorry ya.”
“Gak masalah .” Dru mengibaskan tangannya.” Eh, tapi lo beneran udah putus kan sama Athan?”
“Waktu lo nembak itu sih sebenarnya kami belum putus beneran.” Fara meringis.
“Kata Sarah kalian udah putus.”
“Kalau sekarang iya, gue udah putus sama Athan.”
Dru tersenyum,”Gue bisa usaha dong ya.”
“Enggak.” Fara memotong cepat, “maksudnya, gue belum kepikiran lagi untuk yeah, lo tau sendiri. Gue mau fokus belajar.” Fara berdehem ringan.
“Lo cukup diam aja, gue kan yang usaha.” Dru tergelak.
“Enggak ada istilah usaha- usaha, ngabisin tenaga, capek hati capek pikiran, mendingan kita temenan aja, lebih ada manfaatnya juga.”
“Ide bagus tuh, barusan gue mau nawarin pertemanan, bukannya semua berawal dari pertemanan kan terus lanjut jadi TTM, teman tapi mesra.”
Mata Fara memola,”Gue bilang teman ya Dru, murni temenan, enggak ada modus, titik!”
“Iya- iya, teman. Deal...”
__ADS_1
“Deal.” ucap Fara.
“Untuk merayakan pertemanan nih, gimana kalau gue traktir makan, ada soto enak di dekat fotokopiannya mang Harso.”
“Dimana? Kok gue enggak pernah dengar.”
“Baru sih mereka buka, gue baru sekali makan disana, tapi beneran enak sotonya, recomended banget.” Dru meyakinkan.
Fara tampak berpikir sebentar,”Gue ada les nanti, abis jam les ya, gue langsung ke lokasi.”
“Ketemuan di depan fotokopian aja, gue tunggu disana, gimana?”
“Oke.”
***
Jadwal les sudah usai, Fara melirik jam tangannya sekilas. Dru sudah memberitahu Fara kalau cowok itu sudah menunggu di kedai soto yang dimaksud. Tadinya Dru menawarkan untuk menjemput Fara tapi langsung Fara tolak sebab Fara tau ini hanya modus seorang Dru untuk mendekatinya. Soal makan ini pun ada bau- bau modusnya, tapi sebagai wujud pertemanan ya enggak ada salahnya kan.
Dru mengirim pesan, dia sudah berada di dalam kedai, bangku pojok dekat jendela mengarah ke jalan. Fara mendorong pintu kaca dihadapannya, masuk dan mencari keberadaan Dru. Lumayan ramai, mungkin benar yang diucapkan Dru soto disini recomended. Untung cowok itu mengangkat tangannya, jadi Fara kelihatan dan segera menghampirinya.
“Gue bolehin lo bawa temen, tapi gak sama mantan pacar lo juga kali,” Balas cowok itu agak sinis.
Fara menengok ke belakang, dan mendapati Athan yang berjalan mendekati meja mereka. Cewek itu sampai melongo.
“Nih, ketinggalan dimobil aku.” Orang yang dimaksud memberikan paperbag kecil pada Fara.
Tanpa perlu melihat, Fara tahu isinya tas tangan kecil yang ia bawa ke pesta Dru malam itu, memang tertinggal di mobil Athan, dan Fara sebenarnya enggak berniat untuk menanyakan lagi soal tas kecil itu sih.
“Thanks...” Fara berkata ragu. Teringat kalau sebenarnya yang dia lakukan ke Athan cukup kejam juga sih, malam itu Athan meminta alasan mengapa mereka harus putus, dan tau Fara enggak bisa kasih jawaban masuk akal yang diinginkan Athan, biasalah cowok itu kan mau jawaban yang masuk sama logikanya dia. Jurus satu- satunya ya Fara menangis, tangisan yang menyayat hati setiap orang yang mendengar, seolah- olah Fara benar- benar tersiksa lahir batin pacaran sama Athan, dan akhirnya Athan melepaskan Fara walau cowok itu sempat menyarankan Fara untuk memikirkan hubungan mereka lagi.
“Oke.” balas Athan.” Sama-sama.”
Bukannya pergi setelah itu, Athan malah mendorong kursi disebelah Fara, lalu duduk disana. Fara melanjutkan aksi melongonya, dia tak paham lagi, apalagi saat Athan mendahului Fara dan Dru untuk membuka buku menu.
__ADS_1
Sadar kalau Fara terus melihat dengan raut syok kearahnya, Athan membuka mulut.”I haven’t had lunch either.”
Kacau dan canggung. Dua kata itu sempurna untuk mendefinisikan keadaan sekitar Fara saat ini. Atau lebih tepatnya, keadaan perasaannya, karena baik cowok yang duduk dihadapan maupun di sebelahnya kelihatan sangat biasa saja.
Yang satu sibuk menyerocos dari A sampai Z kepada Fara sambil menyindir eksistensi cowok lainnya diantara mereka. Bahkan Fara baru tau kalau Dru bisa sevokal ini, mulutnya enggak berhenti mengoceh, sedangkan yang satu lagi sibuk sendiri layaknya dia betulan tidak ada disana, memesan menu dengan tenang, menunggu pesanannya dengan tenang, dan mulai makan dengan tenang. Layaknya tidak ada satu katapun dari nyiyiran Dru yang bisa mengusik ketenangannya.
“Sayang, itu makanannya dimakan dong, jangan bengong aja.” Itu Dru yang menyuruh karena sejak tadi Fara kebanyakan diamnya, dan apa tadi dia bilang sayang? Ommo!! ini pasti akal- akalan Dru sebab dia sudah kesal pada Athan.
Fara terus memandangi makanannya diatas meja tanpa berniat menyentuhnya. Sesekali cewek itu memandangi wajah tampan Athan dengan pandangan campur aduk. Betulan campuran dari rasa bingung, bersalah, curiga, pokoknya banyak.
Mendapati respon Fara yang sama tidak memuaskan seperti sebelumnya, Dru menatap kesal Athan yang sibuk melahap nasi dengan kuah sotonya tanpa gangguan.
“Ah, semua gara- gara lo nih, Fara gue jadi gak nafsu makan!” sindir Dru dengan nada mengajak ribut. Dia sudah berusaha mengusir Athan beberapa kali secara tidak halus, sekaligus mengatakan dengan terang- terangan kalau cowok itu mengganggu acara PDKTnya.
Tidak seperti sebelumnya dimana Athan tidak terusik dengan perkataan Dru, kini cowok itu memutar kepalanya sedikit kesamping, netranya menangkap basah Fara yang kebetulan memandanginya dengan tatapan.... Entahlah, Athan juga tidak paham. Yang jelas, dia menangkap wajah melongo cewek itu kini berubah memerah.
Cantik dan menarik....
Bukannya berbelas kasih pada Fara yang berusaha buang muka, Athan seperti dengan sengaja memandanginya lamat- lamat. Alis tebalnya terangkat. “Mau coba ini?” tawanya kemudian. Dia menancapkan garpu ke potongan dagingnya, lalu menyerahkan garpu tersebut untuk Fara. “Ini lumayan.”
Pasrah, Fara mengambil garpu dari Athan dan memasukkan potongan daging itu kemulutnya lalu meletakkan kembali garpu tersebut ke piring Athan. Mengunyah pelan mencoba merasakan makanan tersebut, walaupun Fara yakin saat ini lidahnya mati rasa.
“Sayang, gue kasih saran nih ya, jangan mau balikan sama mantan. Masa lo mau masuk ke lubang yang sama dua kali sih?” Itu ucapan Dru membuat Fara mendadak berhenti mengunyah, daging yang dia makan tidak terasa apa- apa lagi.
Athan sih tidak banyak omong, dia malah menatap Dru yang duduk dihadapannya dengan tenang, tangannya masih santai meraih minum. Melegakan melihat cowok itu tidak terpancing walaupun Dru sejak awal terlihat mengajaknya untuk baku hantam.
Tapi masalahnya bukannya Athan terlalu tenang?
Ada yang bilang kalau air sungai yang tenang itu yang paling bahaya dan menenggelamkan.
“Don’t be childish.” Athan akhirnya bersuara. Tuh kan yang dikhawatirkan Fara kejadian. Cowok ini mulai terpancing.
Sementara itu Dru makin tidak terima,” Me? Childish?” Tanyanya dengan nada menukik, Dru bahkan sudah berdiri dari duduknya, seolah menantang Athan.
__ADS_1
Fara akhirnya ikut berdiri saat dilihatnya Athan juga langsung berdiri, tangan Athan sudah mengepal, “Than, udah ya? Udah? Tolong banget?”
To be Continue