
RAYA
Okay,,, agaknya Aga memang benar-benar keras kepala, dengan menungguku sepanjang sore di perpustakaan, berdalih membuat tugas dan fokus duduk di bangku paling depan yang mengarah ke pintu masuk.
Sudah pukul lima sore, waktunya perpustakaan tutup. Aku berdecak kesal melirik Aga yang sudah menutup laptopnya dan bersiap. Dia ngotot ingin mengantarku pulang hari ini, dan aku... Tentu saja menolak.
Enggak ada cara lain selain menghindari Aga, aku tahu ini salah dan sedikit keterlaluan, tapi aku sama sekali enggak ada ide. Aku beralih menatap Emily. Gadis itu baru saja menyusun buku terakhir.
"Em... "
" Ya?" Emily menoleh.
"Gue bisa minta tolong."
"Ya?"
"Lo bisa lihat Aga disana kan?"
Mata Emily memicing melihat Aga yang sudah berdiri di dekat pintu, lalu mengangguk.
"Dia lagi nungguin gue." ucapku pelan.
"Terus?"
"Gue enggak mau pulang bareng dia, jadi gue akan keluar lewat pintu belakang. Lo tolong bilangin ke Aga nanti kalau tadi gue sakit perut dan pulang duluan."
Emily menaikkan alis bingung, membuatku memelas frustrasi.
"Please Em, lo tau Aga pacaran sama Shella kan, gue cuma enggak enakan ke Shella kalau pacarnya pulang bareng gue terus. Tolong ya, ya?"
Meski terlihat masih bingung, namun Emily mengangguk juga, emang teman yang baik. "Thanks ya, Em. Gue keluar sekarang."
Aku keluar lewat pintu belakang dan berjalan cepat menuju jalan yang mengarah ke sisi timur kampus. Sesekali menoleh ke belakang. Aman, seenggaknya Aga masih terkecoh. Aku langsung menyetop angkot di perempatan jalan, dan menghela nafas lega saat angkot mulai berjalan.
"Mang, berhenti di sini."
Angkot tua berwarna kuning itu berhenti tepat di depan minimarket, kurang lebih 300 an meter dari gang Dolley. Yah, aku memang sengaja berhenti disini terus, dan lanjut berjalan kaki kerumahku.
Aku melangkah cepat sambil terus menunduk masuk ke dalam gang, sampai sebuah suara serak mengagetkanku,
"Jadi lo pindah kesini." Hampir saja aku limbung kalau enggak cepat- cepat ditangkap oleh sepasang tangan pemilik suara itu.
"Lo gak papa kan, Ray?"
Ian...
"Lo ngikutin gue?"
__ADS_1
Ian mengedikkan bahu pelan, "Gue lihat lo keluar perpustakaan dari pintu belakang, lo menghindari Aga, iya kan?"
"Eh, Ray,,, sape ntu? bening banget..." Tiba-tiba saja kepalaku pening ketika suara perempuan menyapa genit ke arah Ian. Aku langsung menggandeng tangan Ian untuk keluar dari gang.
"Kenapa lo ngikutin gue?" suaraku mencicit seperti anak burung yang kelaparan. Mendapati fakta bahwa Ian tahu tempat tinggalku sungguh mengejutkan sekaligus memalukan untukku saat ini.
"Lo pindah enggak bilang-bilang. Dihubungi enggak pernah bisa, gue khawatir aja. Dan lagi, kenapa lo tinggal di kampung pelacuran seperti itu?"
Aku memejam hampir menangis, inilah yang kutakutkan, pada akhirnya baik Ian maupun Aga akan tahu semua ini. "Gue tinggal disana."
"Raya!!!" Rahang Ian mengeras. "Gue pernah bilang ke lo, kalau butuh apa apa, kasih tau gue atau Aga. Gue bakalan bantu, apapun itu. Kenapa lo milih jalan pintas seperti ini."
" What?" aku langsung membuka mata, menatap horor ke arah Ian.
***
Akhirnya, dihadapan Ian aku menceritakan semuanya. Kami duduk di ayunan taman senja itu, sambil meminum coca cola yang dibeli Aga di minimarket.
"Ian... " Mataku masih lurus menatap matahari terbenam yang bersembunyi diantara gedung-gedung tinggi di hadapan kami.
" Hmmm."
"Janji ke gue, jangan beritahu Aga."
Aku bisa merasakan Ian menatapku, tatapan dalam yang membuat wajahku memerah, namun aku mengabaikannya dengan tetap fokus melihat senja yang sebentar lagi menghilang.
"Lo suka ke Aga?"
"Kita cenderung akan berusaha menampilkan sisi terbaik yang kita punya dihadapan seseorang yang kita sukai, right. Dan lo ngelakuin itu dihadapan Aga."
Aku hanya diam, sama sekali enggak berniat membantah ucapan Ian.
"Sejak kapan?"
"Apanya?" Delikku pada Ian yang kini memfokuskan dirinya padaku.
"Lo suka ke Aga?"
Aku menggeleng sambil berusaha tertawa, walau terdengar garing dan hambar, "Gue enggak suka ke Aga."
"Oh ya?" Ian menaikkan alis, jelas enggak percaya ucapanku.
"Gue udah anggap Aga sama lo itu sebagai sahabat, enggak ada perasaan khusus."
"Bohong."
"Kalau enggak percaya ya udah, gue enggak maksa lo harus percaya ke gue." Aku berdiri dan diikuti Ian yang juga berdiri.
__ADS_1
"Gue cuma minta tolong sama lo, jaga rahasia ini. Gue enggak mau Aga dan teman-teman yang lain tau, kalau gue anak seorang mucikari yang tinggal di gang pelacuran, jujur aja gue malu." Aku menunduk.
Tanpa diduga, Ian meraih daguku, mensejajarkan wajahku dengan wajahnya, "Gue bisa jaga rahasia, lo enggak usah khawatir. Masalah Aga juga biar nanti gue yang hendle, asalkan lo mau jadi pacar gue."
"Hah??" Tubuhku menegang seketika.
"Bercanda." Ian tersenyum miring, membuatku menghembuskan nafas lega.
"Makasih Ian."
Ian mengangguk pelan, tersenyum lembut sebelum berpisah denganku ditaman.
****
Aku bergegas pulang tepat saat adzan magrib berkumandang. Mama sudah menunggu didepan pintu, wajahnya babak belur. Pipi sebelah kanan membiru dengan ujung bibir yang pecah, darah mengering di sudut bibir mama.
"Mama?"
Mama langsung memelukku erat sambil menangis. Aku bingung sambil berusaha menenangkan mama.
"Mereka... Mereka datang lagi..."
"Mereka siapa?"
"Rentenir itu..."
Deggg... Jantungku mencelos, bagaimana bisa setelah sekian tahun, masih ada rentenir yang mengejar mama.
"Ayah? ayah dimana?" gagapku.
"Ayah kamu masih diluar."
Mama menatapku nanar, membuatku menerka-nerka apa yang akan dilakukan mama kali ini.
"Soraya, soraya anak mama kan?" mata mama menajam.
Aku mengangguk pelan..
"Raya anak baik, sayang ke mama kan nak?"
Sekali lagi aku mengangguk dihadapan mama.
"Mereka melakukan penawaran, menikahlah dengan pak Horison, hutang mama akan lunas jika kamu mau menikah dengannya. Dan lagi, dia juga akan memberikan kita uang, uang yang banyak, kita bisa pakai uang itu untuk mengeluarkan Fiza dari penjara." Mama menatapku lekat-lekat.
Aku seperti tersambar petir, nafasku terhenti di tenggorokan, "Mama menjualku?" ucapku tak percaya.
***To be continue
__ADS_1
Happy reading ya
Like, komen biar aku semangat nulis,,, hehee***