JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Cerita masa lalu


__ADS_3

Teori hukum Newton mengatakan bahwa tekanan berbanding lurus dengan gaya. Semakin banyak gaya maka tekanan yang dihasilkan akan semakin besar, pun sebaliknya. Dan agaknya mamaku benar-benar mengadopsi teori ini dalam hidupnya hingga kesemua itu membuatnya tercekik sendiri dan berakhir dengan menghabiskan sisa hidupnya dalam kejaran rentenir.


Sejak awal, hidupku memang didesain penuh dengan drama. Yang ku tahu masa kecilku dihabiskan di lingkungan pelacuran kelas bawah, tempat para preman rendahan, supir angkot dan lelaki hidung belang menghabiskan malam mereka bersama wanita-wanita ayah dengan hanya bermodal lima puluh ribu rupiah.


Wanita-wanita ayah? Yah, mereka memang wanita peliharaan ayah, aku sungguh malu mengakui bahwa ayahku seorang mucikari. Entah sejak kapan dia menggeluti pekerjaan itu. Yang aku tahu, sejak kecil lingkungan pelacuran sudah menjadi santapan mataku sehari-hari. Dan anehnya mamapun enggak protes sama sekali, atau mungkin mama dulunya ex-..... juga, salah satu wanita ayah dalam tanda kutip.


Sifat konsumtif mama yang hiper serta gaya sosialita abal-abalnya membuat mama dan ayah tak jarang bertengkar. Puncaknya ketika rentenir mendatangi rumah kami, menyita semua barang. Ayah yang tidak terima langsung mencak-mencak hingga membacok si rentenir, walau tidak sampai tewas, tapi kejadian itu menyeret ayah untuk mendekam di hotel prodeo. Sementara mama, sudah melarikan diri tak tahu rimbanya. Aku masih ingat betul, waktu itu umurku 10 tahun, masih duduk di kelas empat sekolah dasar, dan abangku Fiza duduk di bangku SMP kelas tiga.


Setelah kejadian itu, kami tinggal dirumah eyang, orang tua dari ayah, yang tentu saja sama melaratnya. Dan sekarang, diusia senja nya harus pula dibebankan untuk menghidupi aku dan abang. Eyang hanya seorang tukang sol sepatu, jadi bisa kebayang kan betapa susahnya hidup kami.


Latar belakang keluargaku yang porak-poranda membuatku jadi menarik diri dari kehidupan sosial, aku mengidap syndrome harga diri rendah. Aku berubah jadi sosok pendiam, dan minder jika bertemu orang baru. Ditambah lagi dengan tampang dan otak yang pas-pasan membuatku bertambah susah untuk bergaul, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku. Aku hanya si Raya, seorang gadis yang tidak pernah diperhitungkan keberadaannya.


Satu-satunya teman yang kupunya cuma Aga. Pertemuan kami pun tidak disengaja dulunya, waktu itu aku yang baru pulang sekolah, melihat seorang anak laki-laki dikeroyok tiga atau empat anak laki-laki lain. Aku yang panik segera berteriak kencang. Mereka mengira aku memanggil satpam, hingga anak-anak itu lari tunggang langgang, menyisakan seorang anak laki-laki yang menjadi korban pengeroyokan terkapar sendirian.


"Heeii..Bantuin dong." Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya kearah ku. Untuk sesaat aku hanya diam mematung.


"Aku enggak bisa berdiri." Sekali lagi, anak laki-laki itu menatap ku. Aku masih diam, sejujurnya aku ingin berlari dari sana, aku tidak bisa berinteraksi langsung dengan orang baru. Aku hampir saja berbalik dan meninggalkan anak laki-laki itu, tapi sisi kemanusiaanku masih mendominasi. Akhirnya aku mengulurkan tangan dan membantunya berdiri.

__ADS_1


Aku tidak tahu, kapan kami mulai jadi dekat dan akhirnya bersahabat. Namanya Jagad Bimasakti, dan dia membuang huruf J didepan dan huruf D dibelakang namanya, hingga menyisakan kata Aga ditengah-tengah. Aga sosok anak laki-laki yang supel dan periang, sangat berbanding terbalik denganku, seorang Raya yang minderan, yang selalu menganggap hidupku tak pernah diharapkan.


Aga seusia denganku, tapi memiliki postur tubuh tinggi melebihi tinggi badan anak usia kami, wajahnya tampan nyerempet sempurna. Saat menginjak remaja dan dewasa awal, justru ketampanannya makin menjadi- jadi hingga membuatku seperti upik abu jika berdekatan dengannya.


.


.


.


Aga masih memperhatikanku yang makan tanpa jeda. Yah, insiden percobaan bunuh diri yang kulakukan setengah jam lalu, benar-benar menguras tenaga. Aku makan seperti orang kesetanan, sampai tulang ayam pun habis menjadi serpihan.


Aku menghela nafas panjang, sebelum meraih gelas minum dan meneguknya sampai tandas. Satu hal yang sampai sekarang kurahasiakan rapat-rapat dari Aga, seluk beluk keluargaku yang hancur.


"Sekarang ada apa lagi sih, Ya?" Aga mendesah frustrasi. "Sudah tiga kali kamu melakukan percobaan bunuh diri dalam setahun ini. Seharusnya aku udah bawa kamu ke SpKJ, kamu sakit, Ya."


Aku menunduk, air mata lolos begitu saja mengalir dipipiku."Yah, sepertinya Aga memang benar, aku sakit. Aku memang ingin mati, dan itu sudah masuk ke fase gangguan jiwa berat jika di diagnosa.

__ADS_1


Pandangan Aga melembut, "Kamu tau bisa cerita apa aja ke aku." Aga meraih tanganku, mengelus pelan dengan ibu jarinya.


Untuk sesaat aku hanya diam, yang Aga tahu selama ini aku tinggal dengan eyang dan abang Fiza. Sejak eyang meninggal setahun lalu dan abang menikah enam bulan sebelum eyang meninggal, aku memang tinggal sendiri di kontrakan. Bekerja serabutan di sela-sela jadwal kuliah, kadang ayah juga masih mengirimiku uang untuk tambahan. Ayah memang pernah mengajakku tinggal bersamanya di kampung Dooley, kampung pelacuran tempat ayah mengais rezeki haramnya itu, tentu saja ku tolak mentah-mentah, sampai kapanpun aku tidak akan mau tinggal di sana lagi. Ku kira setelah keluar dari penjara, ayah bakalan tobat. Tapi ternyata malah makin parah.


Sejak menikah, abang Fiza tinggal bersama istri dan anaknya. Namun agaknya nasib abang tidak jauh berbeda dari ayah, abang memiliki istri yang sebelas dua belas dengan mama, wanita banyak gaya, yang memegang prinsip besar pasak daripada tiang. Tiga bulan lalu abang di PHK, karena banyak perusahaan gulung tikar sejak pandemi covid, termasuk abang yang kena imbasnya. Istri bang Fiza enggak terima, malah selingkuh dengan teman kerjanya. Akhirnya mereka bercerai, dan hak asuh anak jatuh ke tangan mbak Yessa, ex-wife bang Fiza itu. Sejak itulah hidup bang Fiza hancur, dia jadi sering mabuk-mabukan, judi dan tentu saja aku yang kena getahnya.


Aku menatap Aga sebentar sebelum melemparkan pandangan ke arah jalan, "Tabunganku habis disikat abang." Aku sesegukan menghapus air mata dengan punggung tangan, "Padahal uangnya mau dipake besok buat transfer semesteran."


"Kamu kan punya aku, seharusnya kamu ngomong kalau itu cuma masalah uang semester, bukannya malah mau lompat ke sungai." Aku bisa melihat rahang Aga mengeras, aku tahu dia kesal.


"Besok aku transfer uang semesternya, jangan coba-coba bertingkah bodoh seperti tadi."


Jujur saja, aku ingin menolak. Aga sudah terlalu baik. Dan aku takut jadi berhutang budi sampai mati padanya, tapi sama seperti sebelum-sebelumnya, aku tak bisa menolak.


To be cobtinue


Happy reading ya....

__ADS_1


Gimana sampai disini udah kebayang ceritanya seperti apa,???


__ADS_2