
Benar ucapan Dru soal wartawan yang menunggu di depan gerbang, mereka tidak hanya satu dua orang tapi ada banyak. Athan yang masih belum melepas genggaman tangannya pada Fara menoleh ke perempuan itu, mereka sudah berada di pintu belakang sekolah, pintu ini biasa digunakan petugas kebersihan membuang sampah, satu-satunya akses keluar disaat terdesak seperti ini. Biasanya pintu itu dipakai anak-anak nakal untuk bolos sekolah, sebab letaknya yang jauh dari jangkauan serta langsung tembus ke pemukiman penduduk.
"Begini enggak papa?" Athan meminta persetujuan Fara ketika mereka harus melangkahi palang pintu setinggi setengah meter, dan perempuan itu hanya bisa mengangguk pasrah.
Mereka sekarang sudah berada di luar area sekolah, tepatnya di timur gerbang sekolah, di jalan setapak sebuah permukiman padat penduduk. Fara baru tau kalau dibalik tembok sekolahnya ada sebuah kampung betawi seperti ini.
"Kenapa bisa ada di kamar Dru?"
Itu pertanyaan Athan ketika akhirnya cowok itu melepas genggaman tangannya pada Fara. Mereka berjalan bersisian menembus sore yang mendung di tengah suasana berisik anak-anak kampung yang bermain, berkejaran satu sama lain.
"Aku nahan pipis dari rumah, sampai disana, maksudku di tempat Dru, aku enggak tahan lagi, dan Dru menawarkan wc kamarnya. Aku sama sekali enggak curiga waktu dia ngajak ngobrol sebentar dikamarnya."
"Kalian ngobrolin apa emangnya sampai enggak bisa sambil jalan keluar kamar?"
Sempat menoleh sebentar ke Athan, Fara menghembus nafas pelan, "Dia minta aku buat jadi pacar pura-pura."
"Terus? kamu setuju?"
"Ya enggaklah, gila aja. Waktu itu aku tolak, aku bilang aku enggak bisa, lagian aku bisa dimarahin mama kalau ketahuan pacaran. Pas kita pacaran dulu aja, aku sembunyi-sembunyi."
Fara bisa melihat tatapan Athan berubah datar padanya, hanya beberapa detik, selanjutnya cowok itu tampak berfikir lalu berhenti, membuat Fara juga ikut berhenti.
"Aku udah lihat videonya." Athan menjeda sebentar ucapannya. "Sepertinya Dru memang merencanakan ini semua. Bisa dilihat dari titik pengambilan gambar, kamera dikamarnya tidak hanya satu, tapi paling enggak ada tiga untuk bisa merekam kalian dari sisi-sisi yang berbeda."
"Aku enggak sadar kalau ada kamera dikamarnya."
Athan mengangguk, "Aku tebak itu plan B nya Dru, jika plan A nya gagal, dia akan mengambil plan B. Plan A nya tentu saja menjadikan kamu pacarnya.
"Pacar pura-pura." Koreksi Fara.
"Terserah, sama aja pacar pura-pura dan pacar sungguhan."
__ADS_1
"Ya bedalah, pacar pura-pura cuma settingan kalau pacar sungguhan kayak aku sama kamu....."
".... dulu." Lanjut Fara.
"Ah.. Lupakan, sekarang aku harus gimana?" Fara cepat-cepat mengganti topik ketika dilihatnya alis Athan sudah menukik tajam.
"Kamu bisa melaporkan ini sebagai tindakan pidana, menyebarluaskan gambar video tanpa izin dan pencemaran nama baik, dan Dru bisa kena pasal UU ITE."
"Kok dengarnya ngeri sih, aku enggak mau berurusan sama hukum." Fara berjengit, dia bahkan sudah merinding saat ini.
"Ini cuma untuk menggertak Dru, kamu punya orang-orang hebat di belakang kamu, kakek kamu mantan petinggi di kepolisian, oom kamu pengacara hebat, dan Dru enggak tau kalau dia sedang berurusan dengan siapa. Dia akan balik badan kalau tau siapa kamu sebenarnya. Dru hanya anak penyanyi yang kebetulan ikut terkenal karena bokapnya."
"Tapi aku enggak mau melibatkan keluarga ku, Than." Fara menggigit bibir bawahnya. Fara sangat tau dan yakin baik kakek Dimas ataupun om Byan bisa dengan mudah mengatasi masalah ini. Tapi memberitahu mereka adalah pilihan terakhir yang tidak akan pernah Fara pilih.
"Aku bilang ini cuma untuk menggertak Dru, kita tidak harus sampai benar-benar melibatkan keluarga kamu."
Fara mengerjap, ada sesuatu yang menghangat dalam hatinya ketika Athan menyebut kata kita, seolah ini adalah masalahnya dia juga, masalah mereka bersama. Dan Fara seperti mendapatkan kekuatan dari langit yang membuatnya mampu bertahan dan berjalan tegak, lebay gak sih kalau saat ini Fara ingin memeluk cowok itu.
"Kita pikirkan ini lagi nanti, sekarang sudah sore. Aku antar kamu pulang." Athan kembali menautkan jemarinya ke jemari Fara, mereka berbelok keluar dari gang sempit perkampungan menuju jalan raya dan menyetop angkot yang lewat.
Athan mengantar Fara sampai di depan rumah perempuan itu, dan menunggu sampai Fara benar-benar masuk kerumah, namun Fara kembali lagi.
"Kenapa balik lagi?"
"Makasih ya..Makasih udah percaya aku, percaya kalau aku enggak ngapa-ngapain sama Dru."
Athan terdiam, awalnya dia juga ikut terpengaruh ketika melihat video unggahan Dru itu, tapi entah kenapa dia justru memilih mengikuti kata hatinya untuk percaya pada Fara, percaya kalau sebenarnya gadis itu masih sangat mencintainya. Bukannya Athan terlalu percaya diri, tapi ada sesuatu tak kasat mata yang mengikat mereka, sesuatu itulah yang akhirnya menuntun Athan untuk mengikuti Fara ketika melihat gadis itu berjalan ke basecamp Dru. Dan firasat Athan ternyata benar, dia mendengar semua yang dikatakan Dru pada Fara di basecamp tadi.
Athan mengangguk, "Ya udah, masuk gih. Aku pulang ya."
Fara tersenyum simpul dan melambaikan tangannya, "Hati-hati."
__ADS_1
...***...
All is well, all is well, itu kan tadi yang di bisikkan Athan padanya. Dan Fara percaya kalau semuanya akan berakhir, masalah ini akan selesai.
Tapi belum lagi Fara bisa bernafas lega, dia dikagetkan dengan keberadaan mama di dalam kamarnya. Mama duduk di sisi tempat tidur Fara, kedua tangannya bersedekap didepan dada, dan ekspresinya....
Marah...
Glek... Fara berusaha menghirup udara banyak-banyak, namun tingkahnya justru membuat Fara kian sesak. " Mama?" cicitnya pelan.
"Mama enggak sengaja lihat ini dari ponsel pasien, itu kamu kan, yang ada di video itu?"
Tanpa tedeng aling-aling, mama berdiri mengerahkan ponselnya ke Fara. Fara sempat melirik sekilas ke video yang lagi terputar di ponsel mama, "Ma, kakak bisa jelasin semuanya."
"Ayo jelasin kalau gitu, mama mau dengar." Ini demi apa, mama udah seperti pemeran ratu di drakor Queen of Umbrella, Fara sampai meneguk ludahnya berkali-kali.
"Kakak dijebak ma, kakak enggak tau kalau Dru merekam video itu terus diunggah di instagram."
"Oh, jadi namanya Dru." Sinis mama.
"Hah,," Fara mengerjap, "I-ya, namanya Dru."
"Terus kamu enggak salah gitu maksudnya?"
"Iya, aku-, kakak enggak salah."
Mama menghela nafas kasar, dan beralih menatap tajam ke arah Fara, "Justru kesalahan kamu udah banyak dan fatal, kamu udah menghilangkan kepercayaan mama sama kamu. Kamu pacaran tanpa sepengetahuan Mama, terus sekarang masuk ke kamar cowok, dan ngobrol- ngobrol disana. Mama enggak tau lagi mesti gimana, mama enggak mau kamu nyesal seperti mama dulu. Mama pernah melakukan kesalahan dan itu sampai menggerogoti mama dengan penyesalan yang tidak berkesudahan."
"Mama udah bicarakan ini ke oma, oma minta kamu pindah ke Zurich." Lanjut mama tegas.
"Zurich?" Fara membatu.
__ADS_1
to be continue