
Ini sudah hari ke tiga Fara tidak sekolah, dan Fara berencana untuk lanjut izin besok di hari keempat kalau saja mamanya enggak ngomel- ngomel pake bahasa tarzan. Mama sudah naik darah dan mengancam akan ke sekolah Fara kalau cewek itu enggak juga mau sekolah.
Jadi dengan sangat terpaksa Fara berangkat ke sekolah hari ini. Dia sengaja mengambil rute memutar melewati kantin dan perpustakaan agar tidak melewati kelas Athan, demi apa Fara belum ada nyali untuk bertatap wajah dengan cowok itu.
Sarah dan Ve sudah melambai di depan pintu kelas, Sarah enggak tau apa- apa soal insiden Fara mencium Athan, Fara mengancam Ve untuk tidak menceritakan kejadian memalukan itu ke Sarah sebab Sarah bisa saja mencekiknya saat itu juga kalau tau betapa bodohnya Fara.
“Udah sembuh beneran?” Sarah memindai tubuh Fara dari atas sampai bawah.”Dru nanyain lo terus, chat nya enggak lo balas, nomor lo juga enggak aktif, Dru cemas banget tau.” Sarah menggandeng tangan Fara masuk ke kelas.
“Athan juga nanyain lo.” Ve berbisik sambil menahan tawa, kemudian membuang muka saat Sarah melirik ke arahnya.
“Tiga hari gue enggak sekolah, ada berita apa?” Fara berdehem sambil sesekali melirik Ve, khawatir gadis itu keceplosan soal Athan.
“Soal study banding ke Bali yang dibahas bulan kemaren, jadi berangkatnya hari Minggu ini.”
“What? Tiga hari lagi dong? Gimana, gue belum ada persiapan.” Fara melotot ke arah Sarah. Memang sekolah mereka akan mengadakan study banding ke sekolah percontohan di Ubud, dan ini sudah dibahas jauh- jauh hari. Biasanya langsung merangkap sebagai momen jalan- jalan tahunan yang biasa di gelar sekolah di setiap akhir tahun.
“Masih ada waktu, sekalian lo ngerayain ulang tahun lo aja disana, kan asyik tuh.” Sarah menyengir lebar.
“Enggak lah, itu acara sekolah. Palingan ntar kita- kita aja.” Ucap Fara kalem. Yap, hari Minggu mereka berangkat ke Bali dan Seninnya adalah ulang tahun Fara yang ke tujuh belas, percaya atau tidak ini adalah momen ulang tahun pertama Fara yang jauh dari keluarga.
Fara adalah cucu tertua baik itu dari pihak mama maupun papa, dan cucu pertama juga dari pihak papa kandungnya yang telah meninggal dunia karena kecelakaan pesawat di Jepang. Jadi bisa kebayang kan curahan kasih sayang yang bertubi- tubi menghujani Fara sebanyak apa dari semuanya, enggak heran kalau sekarang Fara tumbuh jadi anak yang sedikit rewel dan terlalu memaksakan kehendak, semua yang dia inginkan harus dia dapatkan, termasuk soal Athan dulu , tapi tenang, sekarang Fara mau tobat.
__ADS_1
“Dira dan Athan juga ikut.” Desis Sarah yang membuat Fara menoleh.
Jangan salah. Dulu ketika mereka masih pacaran, apabila Fara mendengar atau mengetahui Dira berada di suatu tempat yang ada Athannya juga, Fara pasti maksa buat ikut berada disana. Tidak peduli diundang ataupun tidak, Fara punya beribu macam cara untuk hadir di tempat yang sama. Dia akan duduk atau berdiri disebelah Athan, menggandeng tangan cowok itu semesra mungkin, berbisik- bisik ditelinganya, sampai mendekatkan jarak muka mereka yang dibalut dengan panggilan mesra. Itu semua dia lakukan demi mengingatkan semua orang, terutama Dira, kalau Athan merupakan miliknya.
Duh, kalau diingat- ingat, Fara dulu norak sekali, ya? Pantas tidak sedikit yang terang- terangan menunjukkan ketidaksukaan terhadapnya dan mengatakan kalau dia tidak pantas untuk Athan. Fara nyaris tidak ada anggun- anggunnya.
Meski Athan pernah bilang dia enggak terlalu suka dengan public display of affection, Fara enggak peduli dengan kerisihan Athan yang anti mesra- mesra di khalayak ramai, tetap aja Fara melakukan apa yang dia mau. Tiap kali Dira terlihat dalam radarnya, Fara kan melakukan kontak fisik sedekat mungkin dengan Athan. Atau kalau ada orang yang tidak suka dengan hubungan mereka, Fara akan gencar menunjukkan kalau hubungan mereka bahagia dan baik- baik saja. Untung ujung- ujungnya Athan kebanyakan pasrah. Terkadang, dia akan mendiami Fara dan tidak menjawab ketika diajak berbicara.
Baiklah, untuk kesekian kalinya Fara akui kalau dulu dia toxic, egois, dan memalukan. Yang penting kan sekarang dia sudah tobat! Well, mungkin belum sepenuhnya tobat sih, jika mengingat kejadian didalam mobil Athan tempo hari.
“Emmm, kayaknya gue enggak ikut deh.” Ucap Fara akhirnya. Bukan apa- apa jika dia memilih untuk tidak ikut, itu karena ada Athan dan Dira juga ikut. Fara khawatir kembali khilaf.
Namun keputusan untuk tidak ikut ke Bali, berubah di detik- detik terakhir, ketika Sarah menginformasikan bahwa Dira batal ikut karena sakit. Sarah memaksa Fara untuk ikut, dan jadilah Fara sekarang berada disini, di bandara Soekarno Hatta.
Ada ketakutan tersendiri bagi Fara setiap akan menaiki pesawat, bukan apa- apa, berita jatuhnya pesawat di pegunungan Jepang tujuh belas tahun lalu yang di piloti oleh sang papa terus menghantuinya. Fara bahkan belum lahir ke dunia ketika itu, mama tengah mengandung Fara. Fara hanya mendengar cerita dari oma. Papa Abi, yakni papa kandung Fara meninggal karena kecelakaan pesawat, tidak ada yang selamat dari insiden itu, membuat dunia berduka. Fara mengusap air mata yang tanpa ia sadari telah jatuh sendiri. Tidak ada yang menyadari kalau saat ini tubuh Fara bergetar, tangannya dingin berkeringat karena gugup.
Mereka sudah mendapatkan kursi masing- masing di pesawat. Fara duduk dekat jendela sedang sarah dan Ve mendapatkan jatah kursi di belakang. Fara duduk bersebelahan dengan Erik, mereka sempat ngobrol basa- basi sebelum Athan meminta Erik untuk tukaran tempat duduk dengannya.
Athan sudah duduk di sebelah Fara, namun cowok itu hanya diam menatap ke arah jendela sampai suara pemberitahuan dari pramugari bahwa pesawat akan lepas landas, Athan menoleh ke Fara. ”Mau pegangan gak?” Dia mengulurkan telapak tangan kanannya,”Biar gak gugup.”
Fara tahu kalau ini sama sekali bukan modus, jadi dia tidak perlu kegeeran...
__ADS_1
Sebagai orang yang pernah mengenal Athan, genggaman Athan punya efek menenangkan yang sangat kuat, sebenarnya Fara ingin menolak, tapi ini benar- benar urgent, dia gugup setengah mati sehingga mau tidak mau harus menerima uluran tangan Athan untuk digenggamnya.
Pesawat telah lepas landas meninggalkan bandara yang tertinggal jauh dibawah, tapi tangan keduanya masih saling menggenggam hingga Fara tersadar dan melepaskan lebih dulu. “Thanks.” Ucapnya pelan.
“Gak gugup lagi?” Athan menoleh dan dijawab Fara dengan gelengan kepala singkat.
“Aku cuma ingat papa tiap naik pesawat.” Aku Fara jujur.
“Papa kamu pilot kan ya.”
Fara mengangguk pelan, Athan tentu tidak tahu kalau yang dimaksud Fara adalah papa Abi, papa kandungnya, bukan papa Fatih, papanya yang sekarang. Meski tidak dipungkiri dia juga takut setiap melihat papa Fatih berpamitan untuk terbang, dia sangat sayang pada papanya yang sekarang.
“Enak kali ya jadi pilot, keren, bisa mengendarai burung besi mengarungi langit.”
“JANGAAN, aku gak setuju kamu jadi pilot!!!” Pekik Fara.
Yang di detik berikutnya langsung membuatnya mendadak lemas.
Fara sadar kalau ucapannya barusan lebay, apa urusan Fara kalau Athan memutuskan untuk jadi pilot. Aduh Fara...
To be continue...
__ADS_1