JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Pergi


__ADS_3

RAYA


Hujan masih setia mengguyur Kota Surabaya sampai keesokan harinya. Suara air yang jatuh menimpa baskom di bawah talang, menimbulkan suara gemericik, menyambut pagiku. Aku menguap lebar sementara sang pria empat tahun ini masih betah meringkuk di bawah selimut.


Surabaya, kota yang tak pernah telintas dipikiran untuk berada di sini. Ayah yang lebih dulu hijrah ke Kota ini. Awalnya ayah merantau ke Banyuwangi, bekerja menjadi satpam di sana setelah memutuskan untuk pensiun menjadi mucikari. Baru beberapa bulan disana, ayah bertemu jodoh dan menikah lagi. Kemudian ayah bersama Ibu pindah ke Surabaya, mengurus Toserba yang dikelola Ibu bersama mendiang suaminya dulu. Karena keluarga besar Ibu sambungku orang Surabaya, maka mereka akan menetap di Surabaya dan berencana menghabiskan sisa hidup mereka di sini.


Aku memutuskan untuk ikut ayah ke Surabaya setelah wisuda, setelah aku mengetahui bahwa aku tengah berbadan dua, usia kandunganku masih 4 minggu waktu itu. Aga enggak pernah tahu soal ini. Aku sengaja enggak ingin merusak hidupnya, merusak cita-citanya yang ia perjuangkan sejak dulu. Aku enggak ingin Aga menikahiku karena rasa tanggungjawab, dan menghabiskan hidupnya untuk sebuah tanggungjawab, dia enggak mencintaiku, aku yakin itu.


Aku percaya, kalau Aga tahu saat itu, aku tengah mengandung anaknya. Maka dia akan bertanggungjawab dan menikahiku. Dia akan membatalkan studi S2 nya ke London, dia akan membuat malu orangtuanya, dia akan mengecewakan mereka tentu saja, dan dia akan kehilangan cita- cita terbesarnya untuk menjadi seorang diplomat. Terakhir lebih parah dari semuanya, dia akan terjebak pada sebuah pernikahan tanpa cinta denganku.


Aku tahu selama ini Aga menyayangiku, hanya sebagai sahabat. Enggak ada perasaan khusus darinya yang ditujukan padaku, seorang Aga enggak akan pernah mungkin mencintai Raya. Selama ini Aga baik padaku hanya karena kasihan. Dia sudah terlalu banyak berjasa dalam hidupku. Aku mungkin enggak akan pernah menjadi sarjana Farmasi kalau Aga enggak membawaku lari dari pernikahan konyol waktu itu, dia membayar hutang orang tuaku yang jumlahnya sangat fantastis, memberiku tumpangan sampai aku selesai kuliah.


Tapi kejadian naas malam itu sangat memukul kami berdua, terlebih pada Aga.


Lima Tahun Lalu....


*Aku terbangun dalam kondisi yang membingungkan, pakaianku terserak di lantai, sedang aku sendiri terbalut selimut di dalam kamar Aga. Cukup lama aku terdiam dan mencerna semuanya, mencerna apa yang telah terjadi.


Sampai kudengar suara barang-barang pecah dari luar. Aku terduduk, memunguti pakaianku dan memakainya kembali. Pelan kubuka pintu kamar Aga. Dan saat itulah kulihat Aga dalam kondisi yang sangat terluka.


Aga menangis, dia terlihat sangat frustasi, dia sampai melemparkan semua benda-benda yang ada disekitarnya, dapur itu sudah seperti kapal pecah. Tangan Aga berdarah terkena pecahan kaca.


"Aku enggak berguna!!! aku brengsek, aku pantas mati!!!!"


"Papa,,, maafin aku.. Kalian pasti kecewa padaku."


"Aku sudah gila!!!!"


PRANGGG.... Kembali Aga melempar gelas yang ada didekatnya, sampai benda kaca itu pecah seribu.


Hatiku tersayat mendengar rintihan Aga yang seperti itu. Sepanjang aku mengenalnya, tak pernah kudapati sisi Aga yang seperti ini. Dia benar-benar terpuruk oleh kejadian semalam. Aku menangis, merosot dibalik pintu kamar. Entah berapa lama...


Cukup, ini bukan kesalahan Aga. Dia enggak boleh seperti itu. Aku yakin ada sesuatu yang salah pada Aga kemarin malam, Aga seperti dikendalikan oleh semacam obat perangsang. Dan aku, aku bisa saja memukul, menampar nya, atau melemparnya dengan sesuatu demi menghentikannya. Tapi, itu semua enggak kulakukan, alih-alih menolak Aga, aku juga ikut terbawa suasana dengan menikmati setiap sentuhan yang diberikan Aga. Jadi, ini juga kesalahanku. Aga enggak perlu menanggungnya sendirian.

__ADS_1


Aku berdiri dan mendekati Aga yang terdiam disudut dapur dengan pandangan kosong.


"Ga....?"


Aga menoleh padaku, mata kami bertemu, sama-sama diam. Detik berikutnya, Aga meraih ku, airmatanya kembali keluar. Dia benar-benar terluka dalam.


"Maafkan aku, Raya... Aku akan bertanggungjawab, aku akan menikahimu... Kita akan menikah."


Aku menangis, aku sangat tahu, Aga enggak pernah menginginkan ini, dia hanya terbeban oleh rasa tanggungjawab, he nevers love me, Aga enggak mencintaiku, aku enggak ingin membuatnya terjebak dalam sebuah hubungan yang sama sekali tak pernah ia inginkan. Itu akan menyiksanya...


Maka aku menggeleng, "Enggak ada yang perlu dipertanggungjawabkan Ga, kita anggap kejadian malam tadi enggak pernah terjadi."


Aga menatapku, dia menggeleng, "Aku sudah membuat kesalahan besar Raya, aku akan bertanggungjawab." Tegasnya.


"Aku enggak mau menikah.. Cita-cita ku masih panjang." Ucapku pelan, yah itu tidak sepenuhnya bohong, aku memang belum siap menikah, atau seenggaknya aku akan menikahi pria yang mencintaiku bukan pria yang menikahiku hanya karena rasa bersalah.


Kening Aga berkerut, "Tapi aku sudah mengambil sesuatu yang berharga dalam dirimu."


Aku tersenyum getir, Aga benar, dia sudah mengambil my virginity, sesuatu yang sangat berarti dalam hidupku. Aku merasa ada yang hilang memang, tapi aku enggak akan menyesalinya, karena Aga yang mengambilnya, aku mencintai pria ini.


Alis Aga menyatu mendengar ucapanku, menandakan bahwa dia sama sekali enggak menyetujui teori konyol yang baru saja ku utarakan itu, Aga berdehem, "Kalau kamu hamil?"


"Kalau aku hamil?"


"Iya, kalau kamu hamil." Aga mengulangi pertanyaannya.


Aku terkekeh, meski terdengar sangat garing, "Ini bukan masa suburku, ku rasa, aku enggak bakalan hamil. Lagian, aku akan beli obat pencegah hamil nanti."


Dan, sejak malam itu. Aga pindah dari apartemen, dia memilih untuk tinggal di kediaman orangtuanya, sementara aku masih menempati apartemen Aga sampai hari wisuda. Seminggu sekali Aga datang ke apartemen, mengisi kulkas dengan banyak sekali makanan dan bertemu dengan ku, memastikan kalau aku baik- baik saja.


"Gimana Ray?" Tanyanya suatu sore.


"Gimana apanya?"

__ADS_1


"Kamu,, maksudku ada gejala-gejala aneh enggak?"


Aku tahu maksud Aga, dia terus menanyakan kapan jadwal menstruasi ku, dia tampak gelisah ketika menanyakan itu, aku paham Aga sangat takut mendapati fakta kalau- kalau aku hamil nantinya akibat dari perbuatannya.


Aku menggeleng, "Enggak ada, aku sehat Ga, lagian aku udah minum obatnya."


"Jadwal mens kamu, kapan?"


"Minggu depan."


"Okey, kita tunggu sampai minggu depan."


"Udah, enggak usah khawatir, aku enggak bakalan hamil. Lagian seharusnya minggu depan kamu udah berangkat kan?"


"Bisa diundur, atau aku enggak akan berangkat sama sekali." Ucapnya terdengar pasrah.


Aku menggeleng kuat, ini cita-cita Aga, dia sudah mempersiapkan study S2 nya jauh- jauh hari, aku enggak akan mengacaukannya.


Maka tepat sehari sebelum kami wisuda, aku mengambil keputusan besar dalam hidupku. Aku tahu bahwa obat yang ku minum sama sekali enggak memberikan efek apa- apa, aku berbohong ke Aga, malam itu adalah puncak periode masa suburku, dan pembuahan telah terjadi, aku hamil.


Seperti Aga yang telah membantuku dalam meraih cita-cita ku, sampai aku bisa meraih gelar sarjana, sampai aku bisa merasakan memakai toga itu seperti apa, maka kali ini aku akan membuat diriku berguna untuk Aga.


"Ga... Aga!!!" Aku berlari menghampiri Aga setelah acara foto bersama selesai hari itu.


"Aku mens."


Mata Aga membulat sempurna, dia sampai menggenggam tanganku erat- erat, "Kamu serius?"


Aku mengangguk kencang sambil tersenyum, "Aku mens." Ulangku.


Aga ikut tersenyum, lalu tertawa, refleks dia memelukku erat, erat sekali sampai aku enggak bisa bernafas saking eratnya pelukan Aga, ada bagian hatiku yang sesungguhnya terluka mendapati bahwa Aga bahagia dengan berita ketidakhamilanku ini, namun aku juga lega, bisa membebaskan Aga, dia bebas terbang kemanapun ia mau, meraih cita-cita nya setinggi mungkin, dia bisa meraih gelar S2, S3 nya, menjadi seorang konsul, diplomat, atau dubes, menikahi wanita yang sepadan dengannya dalam hal fisik, kedudukan dan harta. Sedang aku, aku akan pergi, pergi sejauh yang kubisa, pergi menghilang dalam hidup Aga, selamanya, mungkin inilah yang terbaik untukku.


Anggap saja, kita impas Ga. Aku enggak memiliki hutang budi apapun lagi padamu.. Semesta akan mendukung keputusanku, meski aku enggak tahu apakah ini yang sebenarnya aku inginkan, dari bilik hatiku yang terdalam*.

__ADS_1


to be continue...


__ADS_2