JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
I got you


__ADS_3

AGA


Aku turun dari mobil yang sudah berhenti tepat di depan gedung PT. Laboratoria Medicad tbk. Aku enggak sendiri, ada pak Junaidi selaku direktur pemasaran dan om Malik sekretaris papa yang ikut menemani. Sekilas kulihat perusahaan pak Guesto lumayan besar, mereka sudah memiliki dua gedung produksi yang terpisah, itu bisa dibaca di plang yang berdiri kokoh di depan setiap gedung.


Kedatangan kami sudah disambut oleh tim pak Guesto di lobi gedung. Mereka menyalamiku satu per satu, pak Guesto sendiri sudah terlebih dulu memperkenalkan dirinya dan putrinya, seorang gadis berwajah blesteran yang berdiri disampingnya sejak tadi.


"Ini Giana, putri om satu- satunya. Gimana? cantik kan?"


Aku tersenyum dan melirik Giana sekilas, sebenarnya menanyakan pendapatku tentang anaknya sama sekali enggak ada di schedule kunjungan, tapi tetap ku jawab. "Cantik." Ucapku, dan aku enggak berbohong, setiap wanita cantik menurutku, karena memang mereka diciptakan dengan segala keindahan yang melekat pada mereka.


Pak Guesto tersenyum, "Kalian bisa meneruskan ke perkenalan lebih lanjut, om dan mama mu sudah membahas ini."


What, ini apa-apaan. Kenapa pembicaraannya jadi seperti ini. Aku berdehem, dan sepertinya pak Guesto segera menyadari maksud dan tujuan kami datang kemari. Dia lalu mengajak kami ke ruangannya, menunjukkan beberapa dokumen penting perusahaan. Setelah itu kami lanjut berkeliling ruangan satu per satu.


Giana dengan cekatan menjelaskan satu persatu fungsi ruangan di setiap departemen. Setelah mengajak kami ke gedung produksi non beta laktam, gedung yang saat ini tengah memproduksi produk vitamin Nutri-E yang akan segera di launching pertengahan bulan depan. Kami beralih ke gedung yang berada di sayap kiri gedung utama, gedung itu memiliki plang dengan tulisan Departemen Produksi Beta Laktam.


Beberapa orang sudah menunggu kedatangan kami di pintu masuk. Ada seorang pria kurus dengan rambut ikal, beberapa wanita yang mungkin seumuran dengan ku, mereka berjumlah lima orang, namun satu yang menjadi fokusku, yang membuat jantungku seperti meloncat, berdegup tak terkendali, sampai aku enggak bisa merasakan apakah aku masih menginjak bumi atau tidak.


Raya...???


Aku terhenti, bukan, tapi sepertinya waktu yang terhenti, menyisakan aku dan Raya yang saling menatap dalam diam, dia sangat cantik dengan balutan kemeja biru dan rambut dikuncir satu dibelakang, beberapa anak rambut bertebaran di dahinya, matanya teduh namun terlihat kaget bercampur takut. Tunggu, takut? Yah, Raya seperti ketakutan melihatku, tentu saja. Setelah apa yang ia lakukan, pergi begitu saja meninggalkanku, jelas dia takut saat bertemu lagi seperti ini.


Kami berjalan mendekat, dan Raya semakin pucat, sudah enggak ada darah diwajahnya, terlebih saat Giana memperkenalkanku sebagai perwakilan dari PT. Medifarm padanya.


"Selamat siang pak, perkenalkan saya Soraya, manager produksi di departemen ini." Suara Raya bergetar ketika memperkenalkan dirinya di hadapan kami.


"Sudah punya pacar?" Tanyaku refleks.


"Hahh?" Raya tampak bingung, dan bukan dia saja yang bingung, semua yang ada disana juga bingung mendengar pertanyaan ku yang absurd.


Perlahan dia menggeleng.

__ADS_1


"Sudah menikah?"


Kali ini bukan bingung lagi, bahkan beberapa orang sudah berbisik- bisik, dan aku mengabaikan itu, enggak peduli sama sekali pada mereka. Aku hanya ingin memastikan kalau Raya belum dimiliki siapa- siapa selama lima tahun ini, dan aku menghembuskan nafas lega saat dia menggeleng sekali lagi.


Begitu banyak yang berkecamuk dipikiranku saat ini, ingin sekali rasanya menarik Raya pergi dari sini dan mengurai satu persatu permasalahan yang ada diantara kami, salah satunya mengapa dia pergi meninggalkanku, apakah dia marah, kenapa dia sebegitu paniknya ketika melihatku, apa yang sudah terjadi sampai dia harus menjauh dariku.


"Hahaha, kamu tanya apa yang sudah terjadi, Ga? kamu sudah menidurinya dan pergi meninggalkannya setelah itu, ingat!!! " Sebelah hatiku mencibir padaku, yang lagi- lagi membuatku marah pada diri sendiri.


Aku benar-benar enggak bisa fokus lagi. Penjelasan tentang mesin, operator, jumlah SDM, jenis antibiotik yang sedang diproduksi, hanya melayang- layang di udara, tanpa berniat untuk masuk ke otakku sama sekali. Satu satunya hal ingin kulakukan saat ini adalah memeluk Raya dan mengatakan betapa aku sangat merindukannya.


Raya cukup profesional dengan terus menjelaskan proses produksi obat di dalam pabrik, meski aku tahu dia gugup setengah mati, suaranya bergetar dan sebisa mungkin menghindari tatapan tajam yang kulayangkan padanya. Kami sudah mengenakan pakaian khusus, dan berkeliling ruangan dengan Raya yang masih setia mengoceh. Dia menjelaskan tugasnya sebagai manager produksi, mulutnya tak henti berbicara tentang proses produksi obat, mulai dari proses penimbangan bahan, pencampuran, penimbangan tablet, pengisian kapsul sampai ke tahap pengemasan.


Terbersit rasa bangga dihatiku melihat Raya, dia sudah mendapatkan cita-cita nya. Dulu dia sering bercerita padaku ingin bekerja di perusahaan farmasi, dan sekarang melihatnya menjadi seorang manager produksi di usia yang tergolong muda membuatku bahagia. Tanpa sadar aku menyunggingkan senyum dari balik masker yang kupakai.


***


Ini adalah ruangan terakhir yang kami kunjungi, setelah ini pihak perusahaan akan mengajak kami makan siang bersama di kantin perusahaan yang berada di lantai 3 di gedung utama.


"Jam 5, mas. Kami sudah menyediakan bus untuk karyawan yang enggak bawa kendaraan."


Aku mengangguk, selepas makan siang. Pak Guesto kembali mengajak kami ke ruangannya, masih ada beberapa hal yang perlu dibahas. Namun mataku menangkap sosok Raya yang langsung berbalik lagi ketika melihatku.


Alih-alih memasuki lift, dia justru berbelok masuk melewati tangga darurat. Kentara sekali dia benar-benar menghindariku. Hatiku memanas, aku berbisik ke pak Junaidi, memintanya untuk melanjutkan pertemuan dengan pak Guesto dan segera menyusul Raya.


"I got you!!!"


"Aakkhhh... " Raya terpekik saat aku berhasil mencekal pergelangan tangannya.


"Hai..." Gagapnya.


"Begini cara kamu menyambut teman lama!!" Gertakku.

__ADS_1


Aku enggak peduli kami ada dimana, aku langsung meraih tubuh Raya, dan memeluknya erat. Menghirup aroma tubuhnya dalam- dalam, aroma tubuh yang sangat kurindukan selama lima tahun belakangan ini.


"Le.. pas, Aga, nanti ada yang lihat." Raya memberontak, dan aku enggak peduli sama sekali, persetan dengan orang yang tiba-tiba datang dan melihat kami sedang berpelukan di tangga darurat ini.


Akhirnya setelah cukup lama, aku mengurai pelukanku, "Kenapa? kenapa menghilang?" buru ku.


"Aku... Aku enggak menghilang, aku hanya mendapat pekerjaan disini."


Mataku menyipit menatap tajam ke Raya, jelas dia bukan wanita yang pandai berbohong. Ada yang ia sembunyikan dariku, matanya enggak fokus sejak tadi, tubuhnya sangat gugup, bahkan ia masih bergetar. Reaksi yang sangat enggak wajar ditunjukkan untuk dua orang yang bertemu kembali setelah berpisah lama.


Aku menghela nafas panjang, aku pikir Raya bahagia bertemu lagi dengan ku, seperti aku yang sangat bahagia bisa menemukannya, tapi sepertinya aku salah. Raya sangat gugup dan ketakutan, sebegitu traumakah ia berada didekatku?ini sangat menyakitkan.


Tapi aku egois, aku enggak ingin kehilangan Raya lagi, sudah cukup aku membuat kesalahan bodoh lima tahun lalu, kali ini aku enggak akan melepaskan Raya, terlepas dari dia suka atau enggak.


"Ikut aku."


"Ga, please. Ga, jangan.. Orang- orang sepabrik akan menggosipkan kita nanti." Raya berusaha melepaskan genggaman tanganku, sambil menghiba.


Aku menggeleng pelan, "Ada jaminan kamu enggak akan lari lagi dariku?"


"Aku punya tanggung jawab yang besar disini, mana mungkin aku lari. Aku seorang manager."


Langkahku terhenti, Raya benar. Dia enggak mungkin lari meninggalkan tanggung jawabnya hanya karena aku. "Okay, pulang nanti aku tunggu, kita perlu bicara."


Aku menatapnya lamat- lamat dan mencium keningnya sebelum keluar dari pintu exit, aku keluar lebih dulu dan disusul Raya beberapa menit setelahnya.


Aku berjalan menuju gedung utama sambil menekan nomor Raihan, kakak Cia, dia polisi yang bertugas di polsek, enggak jauh dari pabrik. "Han, bisa pinjam borgol?sebentar, tolong antar ke pabrik ya, mas tunggu."


Aku tersenyum miring setelah mematikan ponsel.


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2