JAGAD RAYA

JAGAD RAYA
Numpang tidur...


__ADS_3

Raya


Ini hari ketiga sejak insiden pengantin melarikan diri. Aga masih bersikeras mengurungku diapartemennya, tidak sampai dia menyelesaikan masalah ini, katanya.


Entah apa yang mesti dia selesaikan. Hutang orangtuaku terlalu besar jika dia berniat ingin melunasinya. Aga hanya seorang mahasiswa yang masih minta biaya ke orangtuanya. Lagipula Aga enggak perlu terlibat sampai sejauh itu. Tepat ketika hari ke sepuluh, aku baru diperbolehkan Aga untuk kembali ke kampus.


Aku kembali beraktivitas seperti biasa, tidak ada yang berubah, kuliah di pagi hari, bekerja di perpustakaan sorenya dan menjaga minimarket di malam hari. Hanya saja, aku masih tinggal di apartemen Aga. Sejujurnya aku sangat keberatan tinggal disana, meskipun Aga enggak pernah mempermasalahkan sekalipun. Tapi jujur, aku belum memiliki cukup uang untuk pindah dan membayar kontrakan. Aku akan menabung dulu sampai uangku terkumpul, dan realita nya tabunganku enggak pernah terkumpul, habis untuk buat tugas, bayar iuran kelompok, beli bahan- bahan praktek, plus uang semester.


Akhirnya ya itu, yang niatnya tinggal disana cuma satu bulan, jadi bertambah dua bulan, tiga bulan, satu semester, dua semester daaan sampai sekarang, kami sudah berada di semester akhir. Ini Belanda minta tanah deh kayaknya. Bukan, bukan itu... Dengerin dulu.. Jadi gini ceritanya, suatu sore, tepatnya saat genap satu bulan aku tinggal di apartemen Aga. Ayah pengen ketemu, ini pertama kali aku ketemu ayah setelah insiden melarikan diri dari pernikahan itu.


Ada yang sedikit berubah dari ayah, dari sorot matanya ketika menatapku. Aku melihat wajah terluka, kecewa, menyesal disana. Ayah menggenggam tanganku erat. Aku tahu, ayah merasa bersalah padaku. Dia mengajakku duduk dan bicara di sebuah cafe, cukup jauh dari kampus.


"Apa kabar?"


Aku mengangguk pelan, "Baik, seperti yang ayah lihat. Ayah?" aku balik bertanya.


"Kurang baik."

__ADS_1


Aku mengernyit mendengar jawaban ayah.


"Ayah bercerai dengan mama. Mama kamu sudah melarikan diri lagi. Dia yang ingin pergi sendiri."


Aku cukup terkejut mendengarnya, "Bagaimana urusannya dengan pak Horison?" Jujur aku penasaran soal ini, aku takut tiba-tiba pria tua itu datang dan menagih hutang mama.


Ayah menghembuskan nafas pelan, "Teman kamu yang Adyaksha itu yang membayarnya, pak Horison mana berani kalau sudah berurusan dengan keturunan Adyaksha. Dia cuma minta uang pokok pinjaman mama diawal saja."


"Tunggu Adyaksha? siapa?" aku menaikkan alis bingung.


"Aga??" aku setengah berteriak, Yah, aku baru ingat, nama belakang Aga, ada Adyaksha nya. Tapi lupakan itu, sekarang fokusku, dari mana Aga mendapatkan uang sebanyak itu, jumlah uang yang bikin aku pengen gorok leher. Enggak mungkin dia minta ke orang tuanya. Aku tahu, orangtua Aga memang memiliki perusahaan Farmasi PT. Medicare yang memproduksi antibiotik dan segala jenis obat-obatan. Tapi, walaupun uang dua ratus tiga ratus juta enggak berarti apa-apa bagi mereka, rasanya mustahil mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk membayar hutang orang- orang seperti kami.


"Soraya, ayah minta maaf." Suara ayah serak mengagetkanku, dia menahan tangis. "Ayah minta maaf sudah jadi orangtua yang buruk untuk kamu, sudah bikin kamu malu dengan pekerjaan ayah. Ayah enggak tahu, kalau ternyata kamu sangat malu selama ini."


"Maafin ayah ya." Air mata jatuh di pipi ayah walau dia sudah sekuat tenaga menahannya. Aku berdiri dan memeluk ayah. Sebesar apa kesalahan ayah, dia tetap ayahku. Aku hanya diam, tapi pelukanku yang mengerat sudah cukup memberitahu ayah kalau aku telah memaafkannya.


"Ayah dapat pekerjaan di Banyuwangi, jadi satpam. Ayah ingin berubah, Ray."

__ADS_1


Aku melepaskan pelukanku dan mengangguk pelan ke ayah. Anggukan yang semakin lama semakin kencang, aku bahagia. Enggak ada yang lebih melegakan dari mendengar ayah yang pensiun dari pekerjaan kotornya itu.


Hari ini ayah sukses membuat jantungku berdetak kencang sebanyak tiga kali. Pertama tentang Aga yang membayar lunas hutang mama ke pak Horison, kedua berita kalau akhirnya ayah menceraikan mama dan mama sudah kembali ke hobby lamanya, melarikan diri dari kenyataan. Aku udah enggak ambil pusing lagi. Dan berita ketiga yang paling membuatku terharu, ayah bilang mau pensiun jadi mucikari, ayah ingin berubah. Dan itu dibuktikannya dengan berpamitan padaku keesokan harinya.


Jadi udah tau kenapa aku enggak pindah- pindah dari apartemen Aga. Sebab selain uangku pas- pasan untuk hidup, ayah yang enggak pernah ngirim duit karena setelah itu dia ngasih kabar udah nikah lagi disana, dan karena kesibukanku hingga aku melepas pekerjaan di perpustakaan dan itu artinya pemasukanku berkurang. Jadilah aku tetap tinggal bersama Aga, Yah aku juga tau diri dong, enggak numpang tidur aja. Aku masak, beres- beres apartemen, kadang nyuci bajunya Aga juga. Aku merasa punya hutang budi pada Aga, setelah ku usut ternyata Aga sudah menjual mobilnya untuk membayar hutang mama.


Shella juga sering datang ke apartemen Aga, biasalah ngapelin pacar. Ngomong- ngomong awet juga mereka pacaran, dari kami semester empat sampai sekarang, kami sudah mulai nyusun skripsi. Shella enggak pernah mempermasalahkan keberadaanku disana, karena dia pikir aku benar-benar sepupu Aga. Aku sih fine fine aja, soalnya Shella sering bawa makanan, yang itu artinya aku enggak repot masak kalau dia datang, mana makanannya mahal- mahal lagi, kan jiwa misqueen ku jadi nagih. Malahan Shella banyak tanya perihal kesukaan Aga dan kebiasaan -kebiasaannya. Awalnya aku welcome, tapi lama kelamaan tingkah Shella sedikit meresahkan. Sudah berapa kali dia minta menginap denganku, oke aku tetap enggak masalah. Tapi ada sekali pas dia nginap, eh malamnya dia nekat ke kamar Aga, aku enggak begitu paham, cuma bisa nguping dikit, mereka ribut malam itu.


Shella balik ke kamarku lagi dengan muka ditekuk. Shella sempat curhat kalau Aga bilang enggak ada yang boleh masuk ke kamarnya. Aku cuma magut- magut, eh tapi waktu pas aku kabur dulu itu, pas jadi pengantin enggak jadi, perasaan si Aga santai aja nyuruh aku tidur dikamarnya, ditambah aku yang minta tolong bukain kancing kebaya ke Aga, dikamarnya pula, duuuh malunya kalau ingat itu. Dan tentu saja kejadian itu enggak aku ceritakan ke Shella.


"Baru kali ini gue pacaran, tapi belum pernah diajak tidur bareng, padahal udah hampir dua tahun kami jadian." Keluh Shella dengan wajah seperti istri yang enggak dapat jatah dari suami dan aku tentu saja sukses menyemprotkan air yang barusan aku minum,untung gak sampe kena ke wajah cantiknya Shella.


Gila, beginikah gaya pacaran Shella. Tidur bareng? maksudnya cuma tidur aja, atau pake acara ***- ***, uwu-uwwu, dan semacamnya nih?


To be continue


Happy reading ya...

__ADS_1


__ADS_2